
Sore hari ketika Erina pulang dari kerja, Raka mengamati wajah Mamanya yang kelihatan capek. Hasrat hati ingin langsung bercerita kepada Mamanya mengenai hari pertamanya sekolah setelah satu bulan lebih libur. Akan tetapi, Raka masih menunggu sampai Mamanya itu mandi terlebih dahulu.
Gerak-gerik Raka yang tengah menunggu diketahui oleh Papanya. Sehingga sekarang Papa Zaid yang mendatangi putranya itu.
"Kenapa bengong, Ka?" tanya sang Papa.
"Nungguin Mama kok, Pa. Mau cerita di sekolah tadi sama Mama," balasnya.
Papa Zaid pun tersenyum, tangannya bergerak dan mengusap perlahan puncak kepala Raka. "Ditunggu dulu ya Mamanya. Mama baru mandi," ucap Zaid.
"Iya Papa," balas Raka.
Hampir setengah jam berlalu, barulah Erina keluar dari kamarnya dan bergabung dengan Zaid dan Raka di taman yang ada di serambi rumah. Melihat Mamanya sudah datang, Raka pun tersenyum. Benar-benar tak sabar ingin berbicara kepada Mamanya.
"Mama," panggil Raka dengan wajahnya yang berseri-seri dan penuh harap tentunya.
"Ya, Raka … bagaimana sekolahnya hari ini?" tanya Erina.
Merasa bahwa Mamanya sudah memulai perbincangan. Barulah Raka mulai bercerita kepada Mamanya. Ada Zaid yang duduk di sana, sekadar menemani Raka saja.
"Sekolahnya seru, Ma. Cuma tadi Raka diminta kenalan lagi. Raka lupa sama temen-temen Raka di sekolah. Cuma ingat sama Sean aja," ceritanya.
Erina cukup terkejut dengan pengakuan Raka yang lupa dengan nama teman-temannya. Raka hanya ingat dengan temannya yang bernama Sean saja. Rasanya Erina kasihan kepada putranya itu. Tidak mengira untuk mengingat teman-temannya saja, Raka hanya bisa mengingat Sean saja.
"Raka lupa sama teman-temannya yah?" tanya Erina perlahan.
"Iya, Ma … katanya Papa karena Raka terlalu lama libur. Sampai lupa sama teman-temannya. Ma, tadi di sekolah teman-temannya Raka diantar Mamanya. Raka juga mau dong diantar Mama," ucapnya.
Tampak Zaid melirik ke arah Erina. Raka sudah menyatakan keinginannya. Zaid pun berharap kali ini Erina bisa mengabulkan keinginan putranya itu.
"Mama besok libur bekerja kan Ma? Bisa minta tolong anterin Raka ke sekolah enggak Ma? Mengantar dan menjemput Raka, satu hari saja."
Raka benar-benar meminta kepada Mamanya untuk mau mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Sebenarnya permainan Raka ini sangat wajar. Anak dengan usia Raka berada di tahap imitatif, di mana mereka meniru dan terkadang menginginkan apa yang dilakukan teman-temannya. Merasa bahwa teman-temannya diantar dan dijemput Mamanya, Raka juga menginginkan hal yang sama. Bukan sebuah permintaan yang berlebihan dari seorang anak.
"Iya, besok Mama antar ke sekolah yah," balas Erina.
"Yeay! Makasih, Ma," balas Raka dengan begitu senang.
"Sama-sama, Nak. Besok Mama yang akan mengantar dan menjemput kamu," balas Erina.
Betapa sebangnya Raka karena esok Mamanya bisa mengantarkan dirinya ke sekolah. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya. Sekadar diantar ke sekolah saja, Raka sudah girang bukan main.
***
Keesokan Paginya ….
Erina benar-benar sudah bersiap untuk mengantarkan Raka ke sekolah. Wanita cantik itu cukup mengenakan Jeans panjang dan kaos. Tampil casual untuk mengantarkan Raka ke sekolah.
"Pagi Mama," sapa Raka menuruni anak tangga dengan membawa ranselnya.
"Pagi, Nak. Sarapan dulu yah. Abis ini kita ke sekolah," balas Erina.
Raka kemudian menatap ke Papanya. "Papa hari ini bekerja?" tanyanya.
"Tidak, Nak … Papa di rumah saja. Kan Papa bekerja dari rumah," balasnya.
Raka pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Baik, Pa," balasnya.
Akhirnya, Raka pun keluar dari rumah, berpamitan dengan Papanya. Anak berusia 4 tahun itu begitu senang diantar oleh Mamanya.
Erina menyetir sendiri mobilnya dan mengantarkan Raka ke sekolah. Wanita itu juga tampak tidak keberatan sama sekali. Justru memang dia harus memberikan waktu lebih untuk Raka.
"Mama antar naik ya Raka?" tanya Erina.
"Iya, Ma," balas Raka.
Ketika di atas Raka bertemu Sean dan keduanya tampak melemparkan senyuman bersama. Sean pun menyapa Raka. "Pagi, Raka … morning," sapanya.
"Morning, Sean. Pagi ini aku diantar Mamaku loh," ucap Raka dengan senang.
"Kita samaan ya Raka. Sama-sama dianter Mama. Tos!"
Dua anak laki-laki itu melakukan tos satu sama lain. Tampak senang karena keduanya sama-sama diantar oleh Mamanya. Sementara untuk Raka sendiri ini adalah kenangan yang indah. Kenangan bisa diantar oleh sang Mama ke sekolah.