
Kelahiran baby Raline membuat kebahagiaan Erina dan Zaid benar-benar melimpah. Semua itu karena si bayi benar-benar memberi cinta, menyatukan keduanya. Jika mengingat kembali bagaimana pertikaian dalam rumah tangganya hingga sekarang, kehadiran Raline seolah menjadi pengikat untuk keduanya.
Beberapa jam usai melahirkan, rupanya Raka datang ke rumah sakit. Anak berusia 5 tahun itu diantar oleh supir pribadi Zaid. Sebenarnya seluruh ART sudah meminta Raka berada di rumah saja. Namun, Raka bersikeras untuk ke Rumah Sakit. Dia ingin melihat sendiri apakah Mamanya benar-benar sudah melahirkan.
Hingga akhirnya di ruangan perawatan Erina terdengar ketukan pintu. Ternyata adalah Raka dan supirnya.
"Permisi, Bapak ... tadi Mas Raka minta diantar ke sini," kata sang supir yang takut-takut ketika menyapakan kepada Zaid.
"Papa ...."
Raka menatap Papanya. Sebenarnya Raka sendiri juga takut, tapi dia tidak sabar untuk ke Rumah Sakit. Dia ingin tahu apakah Mamanya sudah benar-benar melahirkan. Di saat bersamaan, Papa Zaid menganggukkan kepala.
"Baiklah, kamu pulang boleh dulu. Nanti jemput Raka saja," kata Zaid kepada supirnya.
"Baik, Pak," balas supir itu.
Akhirnya Zaid mengajak Raka untuk masuk ke dalam kamar perawatan kelas VIP itu. Tampak Erina masih berbaring dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Melihat Mamanya terbaring di brankar, Raka menatap sang Mama dengan iba.
"Mama ...."
Raka menyapa dengan lirih. Dia sedih melihat Mamanya berada di rumah sakit dengan selang infus terpasang di tangannya. Teringat dengan dulu waktu Raka juga pernah mengenakan selang infus seperti itu.
"Raka," jawab Erina dengan lirih.
"Mama sakit?" tanya Raka.
Erina menggelengkan kepalanya, dia meminta tolong suaminya dulu untuk mensetel brankarnya agar seperti dalam kondisi duduk. Lantas Erina meminta suaminya untuk mendudukkan Raka di sisinya, di atas brankar itu.
"Kak Raka kok ke sini?" tanya Mama Erina.
"Iya, Ma ... Raka mencari Mama," balasnya.
"Mama di rumah sakit, Kak Raka. Adik kamu sudah lahir," kata Mama Erina.
Usai itu, Raka mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamar Mamanya, kemudian bertanya. "Adiknya mana, Ma?" tanya Raka.
"Adik bayinya masih diobservasi, Kak. Nanti juga akan diantar ke ruangan Mama kok," balas Erina.
Mendengar obrolan Erina dan Raka, Zaid kemudian menatap keduanya bersama-sama. Ada kasih sayang dan kepedulian antara Mama dan anak itu. Bahkan Zaid sangat percaya bahwa Raka datang ke mari karena dia peduli dengan Mamanya.
"Padahal Raka di rumah saja tidak apa-apa, kan besok Mama sudah pulang ke rumah," kata Zaid.
"Malam ini berarti Mama tidur di Rumah Sakit yah?" tanya Raka.
Erina menganggukkan kepala. "Iya, semalam saja Kak Raka. Besok Mama, Papa, dan adik kamu sudah pulang ke rumah."
Raka terdiam, tapi dia bingung juga kenapa Mamanya harus berada di Rumah Sakit. Sebab, kalau bisa Raka ingin di rumah dengan Mama dan Papanya. Sekarang, Raka hanya diam. Dia juga perlu waktu untuk memahami semuanya.
"Raka sudah makan siang belum?" tanya Zaid.
"Sudah, Pa ..., tadi makan sama Bibi kok," balasnya.
Zaid merasa lega setidaknya putranya itu sudah makan. Sebab, setidaknya perutnya Raka tidak kosong. Hingga akhirnya di dalam kamar Mamanya, Raka menonton televisi karena televisi di kamar VIP itu bisa connect ke YouTube sehingga Raka asyik menonton kartun kesukaannya.
Sebenarnya, Zaid ingin duduk satu brankar dengan Erina, tapi karena tempat itu sudah diakuisisi Raka, Zaid harus puas duduk di kursi yang ada di sisi brankar. Tangan pria itu mengusapi tangan Erina yang lepas dari infus.
"Enggak, semua sakit hilang lihat baby girl tadi," balas Erina.
Zaid bersyukur, walau tidak banyak drama dan derai air mata, tapi terlihat wajah penuh kesakitan Erina. Sementara, Zaid hanya bisa menemani istrinya saja. Andai bisa berbagi rasa sakit, Zaid mau dan sukarela menanggung rasa sakit itu.
"Sudah lengkap ya, Mas. Anak cowok dan cewek," kata Erina sekarang.
Zaid turut menganggukkan kepalanya. Idaman para keluarga adalah ketika memiliki sepasang anak cowok dan cewek. Sudah lengkap. Namun, usaha membesarkan dan mendidik anak-anak harus terus dilakukan. Zaid berharap bahwa Raka dan Raline akan tumbuh menjadi anak-anak yang baik.
Setelahnya ada perawat yang masuk dan mendorong box bayi yang di dalamnya ada baby Raline. Putri kecil itu terbangun, dengan mata yang begitu jernih. Raka pun sangat excited melihat adik bayinya.
"Adiknya Raka?" tanyanya.
"Iya," jawab Zaid dan Erina bersamaan.
Kemudian perawat itu menyerahkan baby Raline ke dalam gendongan Erina. "Babynya sudah diobservasi dan bisa diberikan ASI dulu yah, Bu Erina. Sudah keluar belum ASI-nya?" tanya perawat.
"Sudah, tapi tidak terlalu banyak," jawab Erina.
"Oh, tidak apa-apa Bu Erina, produksi ASI bisa bertambah seiring dengan bertambahnya kebutuhan si baby."
Usai itu perawat pun meninggalkan kamar Erina. Dengan tangan yang masih memakai infus, Erina memberikan ASI untuk baby Raline. Erina tersenyum melihat Raline yang mendapat pelekatan pertama dan berusaha meminum ASI.
"Dedek cantik banget, cantik Dedek bayinya," kata Raka dengan tiba-tiba.
Papa Zaid dan Mama Erina tersenyum. "Cantik yah Kak?" tanya Erina.
"Iya, cantik banget. Namanya siapa, Ma?"
"Namanya Raline, Baby R Junior, seperti keinginan Kakak Raka," balas Erina.
Dengan hati-hati Raka menyentuh tangan mungil Raline. Si kakak kemudian mengusap tangan itu perlahan. "Kakak akan selalu jagain Raline yah," katanya.
Zaid dan Erina kembali tersenyum. Enam tahun pertama pernikahan mereka memang tidak pernah mulus. Banyak suka dan duka, bahkan biduk pernikahan itu pernah kandas. Namun, ada satu peristiwa di mana kata 'rujuk' terucap. Rujuk yang semula bersyarat dan untuk kepentingan tertentu, akhirnya benar-benar menjadi rujuk dan menghapus semua syarat.
"Inilah keluarga kita, Sayang. Aku, kamu, Raka, dan Raline. Memang bukan keluarga cemara, tapi kita bisa terus bertumbuh dan belajar di dalamnya," kata Zaid lirih.
"Iya, we are growing together as a family," balas Erina.
"Dulu, aku merujukmu dan kamu mengajukan syarat. Sekarang, kita lalui bersama rumah tangga kita bersama-sama yah?" kata Zaid.
"Rumah tangga tanpa syarat. Di mana kita bisa menjadi diri sendiri dan diterima dengan baik."
Raka kemudian menyahut. "Mama, Papa, Raka dan Raline ... we are happy family!"
Sejatinya setiap kisah rumah tangga tidak ada yang sempurna. Banyak godaan dan masalah yang datang silih berganti. Namun, dalam setiap masalah itu, masing-masing pasangan didewasakan. Potongan kisah keluarga Erina dan Zaid memang jauh dari kata sempurna, tetapi semoga menginspirasi kita bahwa dalam rumah tangga sejatinya tanpa syarat. Suami mencari nafkah, istri mengasuh anak-anak. Pun anak-anak yang akan selalu tumbuh bercermin kepada orang tuanya.
Jadikan yang baik dalam kisah ini, dan tidak segan untuk menyelesaikan masalah yang hadir tanpa melibatkan pihak ketiga. 🥰 Terima kasih untuk semua dukungannya. Kita berjumpa lagi di Kisah Raka yang akan terbit bulan depan hanya di Noveltoon.
...****************...
...TAMAT💝...