
Usai meminta maaf, tentu Zaid berharap bahwa hubungannya dengan Erina bisa diperbaiki. Memulai bersama dari awal. Walaupun kini, baru kata maaf saja yang terucap.
"Erin ... Sayang, apakah kamu mau memulai semuanya dari awal denganku lagi?"
Sekarang, Zaid meminta kepada Erina untuk bisa memulai semua dari awal lagi. Zaid sangat yakin bahwa andai keduanya mau sama-sama memperbaiki dan memiliki keyakinan lebih kuat, pasti rumah tangga mereka bisa diselamatkan. Zaid memiliki keyakinan bahwa berhasil atau tidaknya rumah tangga tergantung dari keduanya yang mau berusaha untuk mempertahankan.
"Apa mungkin kita bisa memperbaikinya?" tanya Erina perlahan.
Zaid menganggukkan kepalanya. "Bisa, kalau kamu mau memiliki niat dan keyakinan. Kita memiliki kuasa dan kendali untuk memperbaiki rumah tangga kita. Kita bisa bahagia bersama Raka, tanpa harus membuat jarak seperti ini," ucapnya.
Jika memang ada niat untuk memperbaiki dan juga memulai lagi semuanya dari awal, pastilah ada jalan yang terbuka. Lagipula, Zaid masih yakin bahwa hubungan Erina dan Erick hanya sekadar hubungan tanpa status saja. Jika, dia berhasil merebut hati Erina lagi, menunjukkan kesungguhannya pasti biduk rumah tangganya akan selamat.
"Aku sangat mau, Rin ... karena aku cinta kamu," ucap Zaid.
Lagi, Erina menangis. Seolah kenyataan yang ada membuat rasa bersalahnya kian menjadi-jadi. Erina seolah menjadi pihak yang bersalah dalam rumah tangganya sendiri.
"Mas Zaid mau memaafkan aku?" tanya Erina perlahan.
Zaid menganggukkan kepalanya. "Selalu ada maaf untukmu, Rin," balas Zaid.
Ah, sekarang air mata Erina benar-benar tumpah. Dia tidak menyangka bahwa suaminya berhati besar. Pria yang selalu memberikan maaf. Erina semakin merasa bersalah pernah menggugat cerai Zaid jadinya.
Kini Erina beringsut, dia kemudian bersimpuh dengan kakinya di depan Zaid. Kemudian menaruh wajahnya di paha Zaid. Meminta maaf kepada suaminya. Merendahkan dirinya dan tentu mengakui salahnya dulu.
"Maafkan aku, Mas Zaid ... maafkan aku."
Zaid segera menggelengkan kepala. Pria itu segera menarik Erina, tidak akan membiarkan Erina bersimpuh di hadapannya seperti ini dan Zaid segera merengkuh tubuh Erina. Membenamkan wajah Erina dengan air matanya yang terus berderai ke dadanya. Tangannya memberikan usapan yang lembut di kepala hingga bahu Erina.
"Sudah, jangan meminta maaf. Jangan menangis lagi. Cintaku untukmu tulus, Rin ... selalu ada maaf untukmu. Dengan syarat utama, jauhi Erick. Jangan bawa orang ketiga ke dalam hubungan rumah tangga kita. Kamu ingat kan, sekarang ketika kamu merasa kesepian, merasa membutuh teman berbicara, atau membutuhkan apa pun, kamu punya aku, Rin. Manfaatkanlah aku semaumu," ucap Zaid.
Erina mengangguk perlahan. Begitu bersyukurnya dia memiliki suami dengan hati yang begitu lapang. Kini, tangisan itu perlahan reda. Rekonsiliasi yang disertai dengan niat untuk memulai semuanya lagi dari awal.
"Pasti, aku akan mengomunikasikan semua dengan kamu. Maaf dengan salahku dalam komunikasi," balas Zaid.
"Aku yang banyak salah, Mas. Aku yang harusnya meminta maaf terlebih dahulu," ucap Erina.
Setelah saling meminta maaf, mengutarakan isi hati. Zaid tersenyum perlahan. Pria itu mendekatkan kepalanya, lantas dia mendaratkan sebuah kecupan di kening Erina. Ya, kecupan untuk sekian detik lamanya.
"Jadi, rujuk bersyarat kita batal kan?" tanya Zaid kemudian.
"Iya, tidak ada lagi syarat," balas Zaid.
Begitu leganya pria itu. Semua syarat dalam rujuk keduanya batal. Keduanya memilih untuk memberikan kesempatan kedua bersama dalam biduk rumah tangga mereka. Memulai lagi semuanya dari awal. Hingga saling memperbaiki, membesarkan Raka dengan cinta dan kasih sayang yang lebih utuh dan lebih penuh.
"Aku selalu cinta kamu, Erin," ucap Zaid dengan kembali memeluk Erina.
"Terima kasih untuk cintamu, Mas. Terima kasih selama ini sudah selalu sabar kepadaku," balas Erina.
Perlahan Erina mengurai pelukan Zaid di tubuhnya, dengan kedua tangan yang menggenggam tangan Zaid. "Mas Zaid apa akan selamanya berada di rumah?" tanyanya perlahan.
"Iya, aku akan berada di rumah. Mengasuh Raka," balasnya.
"Tidak sedang mengalah denganku kan?" tanya Erina.
Zaid menggelengkan kepala. "Tidak, aku sudah memikirkan matang-matang. Aku sudah bekerja dari rumah. Bekerjalah Erin, aku tidak akan menghalangimu," balas Zaid.
"Baiklah, aku bekerja dua kali sepekan saja," balas Erina.
"Sejak dulu, aku sudah mengatakan bahwa menikah denganku tidak harus membuatmu kehilangan sesuatu yang kamu sukai. Aku justru akan mensupport kamu sebisaku. Bekerjalah, bahagiakan dirimu," ucap Zaid.
Kembali Zaid menegaskan bahwa pernikahan itu bukan menjerat, tapi pernikahan adalah bahagia bersama. Melakukan apa yang kita senangi, tanpa harus mengorbankan sesuatu yang lain. Dengan demikian, kehidupan pernikahan pun bisa berjalan dengan lebih harmonis.