Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Fokus Pada Kehamilan


Bertemu Erick dan mendengarkan perkataan dari pria itu sedikit banyak mempengaruhi Erina. Terlihat wajahnya yang murung. Banyak yang Erina sesali sekarang. Salah satunya adalah ucapan Erick yang menyudutkan suaminya dan juga membuat suaminya terpojok. Erina menyesal untuk semuanya.


"Kenapa dari tadi hanya diam?" tanya Zaid kepada Erina.


Jujur saja, Zaid memperhatikan istrinya itu. Sedikit perubahan saja pada Erina, Zaid bisa mengertinya. Begitu mudah bagi Zaid untuk memahami Erina.


"Gak apa-apa kok, Mas," balas Erina.


Lantaran masih berada di dalam mobil, Zaid memilih untuk segera melajukan mobilnya sampai ke rumah. Kebetulan juga Raka masih tidur siang, sehingga Zaid memiliki kesempatan untuk berbicara kepada Erina.


"Mumpung Raka masih tidur, kamu bisa cerita dulu. Ada apa, sejak tadi kamu lebih banyak diam. Apakah ada yang mengusikmu?" tanya Zaid.


Erina mulai menititkkan air matanya. Dia benar-benar merasa bersalah untuk apa yang telah terjadi. Oleh karena itu, Erina meminta maaf lagi kepada suaminya.


"Mas, aku minta maaf yah. Aku dulu terlalu percaya Erick. Sampai pada akhirnya, dia mengetahui kondisiku waktu itu. Sedikit banyak Erick juga tahu kondisi rumah tangga kita. Maafkan aku, semua itu karena salahku," kata Erina.


Akan tetapi, Zaid dengan cepat menggelengkan kepalanya. Pria itu kemudian menggenggam kedua tangan Erina.


"Kamu tidak salah, Sayang. Semuanya hanya masa lalu. Tidak apa-apa kok," balas Zaid.


"Aku merasa bersalah, Mas," balas Erina dengan terisak.


Zaid tahu bahwa kondisi psikis Bumil berpengaruh terhadap janin yang sekarang dikandungnya. Oleh karena itu, Zaid meminta Erina untuk lebih fokus pada kehamilannya saja. Masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu. Harus dilupakan. Sebab, sekarang ada hal lain yang harus Erina prioritaskan yaitu kehamilannya.


"Sekali lagi, maafkan aku."


Zaid segera memeluk istrinya itu. Dia memberikan pelukan yang hangat. Mengusapi perlahan punggung istrinya itu dengan usapan naik dan turun. Zaid sudah memaafkan, bahkan Zaid juga mau melupakan masa lalu.


"Kalau kamu sedih, aku juga sedih. Jadi, kamu harus bahagia, supaya aku juga bahagia dan baby kita juga bahagia. Hmm, Bumilku malahan nangis terus sih," kata Zaid.


Pria itu sesekali menunduk dan mengecup kening Erina. Dia berkata dengan jujur bahwa ketika Erina sedih, Zaid pun ikut sedih. Oleh karena itu, Zaid meminta kepada Erina untuk bisa fokus kepada bayinya saja.


"Maaf untuk semuanya ya, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Erina sekarang.


"Iya, jadikan pelajaran. Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang mau belajar dari kesalahan di masa lalu. Jadi, aku belajar dari salahku dulu, dan kamu juga," kata Zaid.


"Iya, Mas. Aku akan selalu memperbaiki diri. Aku ingin menjadi istri yang baik untukmu dan menjadi Mama yang baik untuk Raka dan adiknya nanti."


"Ingat satu lagi, apa pun yang terjadi jangan libatkan orang ketiga dalam rumah tangga kita. Apa pun masalah yang ada kita selesaikan bersama. Jangan membuka celah untuk orang lain," kata Zaid.


Terkadang prahara yang terjadi di masa lalu bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk masing-masing pasangan. Belajar dari masa lalu, supaya tidak salah langkah di masa depan. Saling percaya dan tentunya memperbaiki komunikasi antara suami dan istri.