
Menjelang siang Ibu dan Ayahnya berpamitan untuk pulang ke Lembang. Selain itu, Bu Lia dan Ayah Harja berjanji di lain waktu akan kembali ke Jakarta dan mengunjungi Erina. Ketika orang tuanya berpamitan untuk pulang kembali ke Lembang, tentu saja Erina menjadi sedih jadinya.
"Ayah dan Ibu pamit, ya Rin ... kami akan pulang ke Lembang. Dijaga baik-baik yah kandungannya. Kalau nanti kalian mau liburan ke Lembang juga boleh," ucap Bu Lia.
"Iya, Ibu ... Erin jadi sedih," balasnya.
"Tidak apa-apa, ada Zaid yang akan menjaga dan merawat kamu. Sehat-sehat yah," balas Bu Lia.
Usai itu orang tuanya benar-benar kembali ke Lembang. Erina masih berada di luar rumah bersama dengan suaminya. Sementara Raka memilih bermain di dalam rumah.
"Mau masuk ke dalam atau kemana?" tanya Zaid kepada istrinya.
"Anterin aku ke butik dulu sebentar ya, Mas. Aku akan berikan pengarahan ke staf dulu. Aku akan berada di rumah dulu hari ini. Masak hari pertama mereka bekerja dan aku tidak menyambutnya," balasnya.
Zaid pun segera mengambil kunci mobil dan kemudian mulai mengantarkan Erina ke butik terlebih dahulu. Ya, hari ini memang hari pertama di mana semua staf akan mulai bekerja. Namun, di hari pertama ini justru Erina mendapati dirinya positif hamil. Oleh karena itu, Erina ingin menyapa dan juga memberikan arahan kepada stafnya dulu.
Tidak dengan tangan kosong, Erina dan Zaid juga membawakan Kopi dan Toast yang dia beli dari gerai kopi Coffee Bay yang berdiri hanya beberapa meter di dekat butiknya. Sebagai ucapan selamat datang kepada seluruh pekerjanya.
"Selamat siang semua," sapa Erina kepada semua pengerjanya.
"Selamat datang, selamat bergabung, selamat bekerja, dan selamat berkreatifitas bersama di Zarina Butik. Saya harap kita semua bisa bekerja sama bukan sebagai owner dan staf, tapi walau profesional, kita bisa mengedepankan kekeluargaan. Saya sangat senang memulai hari pertama bersama kalian semua. Namun, mohon maaf hari ini saya belum bisa turut bekerja di sini. Jadi, saya datang menyapa dan juga berkenalan dulu. Jika ada pertanyaan tidak usah sungkan yah," sambutan dan arahan dari Erina.
Usai itu, Erina menjelaskan job deskripsi untuk masing-masing staf, bisa bekerja sebagai tim, walau begitu Erina juga menghargai kreativitas individu yang memang dibutuhkan dalam produk fashion. Seluruh stafnya pun begitu senang. Selain itu, tidak menyangka bahwa pemilik Zarina Butik yaitu Erina juga sangat welcome.
"Terima kasih Bu Erina dan Pak Zaid," balas seluruh pekerja yang sangat senang.
Kurang lebih ada setengah jam Erina dan Zaid berada di butik. Kemudian Erina memilih untuk pulang. Keluhannya hanya satu, ingin berada di kamarnya saja. Tentunya dengan ditemani oleh Zaid.
"Kamu ngidam sesuatu enggak, Sayang?" tanya Zaid kepada istrinya.
Erina dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak sih, kalau ngidam paling cuma satu aja, Mas," balasnya.
"Hm, ngidam apa?" tanya Zaid kemudian.
"Main deket kamu aja, Mas. Aneh yah ..., tapi ya aku kayaknya pengen deket-deket saja sama kamu," balasnya.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan Erina, Zaid tersenyum di dalam hatinya justru senang dengan ngidam aneh istrinya itu. Zaid masih ingat bahwa dulu ketika hamil Raka, keduanya juga biasa saja. Erina mual dan muntah di trimester pertama. Sekarang, jika ngidam hanya ingin dekat dengan dirinya saja tentu Zaid justru bahagia. Hadirnya anak setelah badai, membuat hubungan suami dan istri lebih harmonis. Semoga saja begitu adanya dengan kehidupan rumah tangga Zaid dan Erina.