Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Happy 10 Weeks!


Selang beberapa hari berlalu, Zaid berencana untuk mengajak Erina ke Dokter Kandungan. Sebab, Zaid tahu bahwa ibu hamil muda harus segera memeriksakan kehamilannya untuk tahu berapa usia kehamilan istrinya dan juga supaya Erina segera mendapatkan vitamin yang bagus untuk bayinya.


"Mau ke Dokter siapa, Sayang?" tanya Zaid kepada Erina.


"Dokter Indri saja, Mas ... yang dulu megang Raka. Setidaknya kan sudah kenal. Selain itu, Dokternya juga ramah," balasnya.


Zaid menganggukkan kepalanya. Jauh sebelum Erina memilih kembali ke Dokter Indri, sebenarnya Zaid juga ingin mengajak istrinya ke Dokter Indri. Alasannya selain karena sudah kenal, Dokter Indri juga sabar dan detail sekali saat menjelaskan. Bagi Zaid, mengantar Erina ke Dokter Kandungan rasanya begitu menyenangkan.


"Oke, aku akan reservasi dulu untuk nanti sore. Gak menyangka ya, Sayang. Aku seneng banget akhirnya kamu hamil," balas Zaid.


"Aku sih cocoknya sama Dokter Indri sih, Mas. Udah baik, ramah, sabar, dan juga detail banget penjelasannya. Aku ingin memiliki pengalaman hamil yang berbeda kali ini. Dokternya boleh sama, pengalamannya berbeda pastinya," balas Erina.


Zaid yang mendengarkan Erina pun tersenyum."Apa yang membuat berbeda, Sayang?" tanyanya.


"Kamu, Mas. Rasanya aku lebih cinta sama kamu deh. Dibandingkan yang dulu," jawab Erina dengan jujur.


Apa yang diucapkan Erina barusan adalah hal yang jujur. Dia sekarang rasanya lebih mencintai Zaid. Bahkan, jika dibandingkan dengan perasaannya yang dulu, sekarang rasanya lebih besar. Jika dibilang aneh, tentu saja aneh. Akan tetapi, Erina juga berusaha untuk jujur.


Di satu sisi Zaid juga tidak marah. Dia tersenyum saja mendengarkan pengakuan Erina. Namun, Zaid bersyukur karena berhasil membuat Erina kembali menerimanya, kembali mencintainya. Usaha keras dan tentunya tanpa batas.


"Oke, Sayangku. Kali ini jangan sungkan sama aku. Dengan hubungan kita yang lebih baru dan lebih erat, ku harap, ada keterbukaan dan cinta yang akan semakin bersemi," balas Zaid.


Itu adalah permintaan dari Zaid. Dia tidak ingin istrinya itu sungkan kepadanya. Zaid menginginkan adanya keterbukaan yang disertai dengan perasaan cinta yang akan lebih bersemi. Selain itu, Zaid juga ingin bahwa Erina tidak akan sungkan-sungkan kepadanya.


***


Sore Harinya ....


Sekarang Zaid dan Erina sudah berada di Rumah Sakit, tepatnya di Poli Kandungan. Mereka datang untuk memeriksakan Kehamilan Erina. Untung saja, tadi Zaid sudah mendaftar sehingga tidak akan menunggu terlalu lama. Hanya menunggu dua pasien lagi.


"Kayak kembali ke masa lima tahun yang lalu yah," ucap Zaid dengan lirih kepada istrinya.


"Iya, waktu hamil Raka. Sekarang Raka sudah hampir lima tahun. Sudah semakin besar," balas Erina.


Setelah itu keduanya bercakap-cakap bersama sembari menunggu dua pasien lagi. Hingga akhirnya, nama Erina sudah dipanggil oleh perawat. Mulailah Erina didata terlebih dahulu, ditanyai Hari Pertama Hari Terakhir haid, dan juga ditimbang berat badannya, selanjutnya melakukan tensi tekanan darah.


"Silakan Ibu Erina," panggil perawat di sana.


Kemudian Zaid mendampingi Erina untuk masuk ke dalam ruang konsultasi dan pemeriksaan dengan Dokter Indri. Erina dan Zaid pun menyapa Dokter cantik itu.


"Selamat malam Dokter Indri," sapa Erina.


"Iya Dokter sudah lima tahun berlalu," jawab Erina.


Dokter Indri pun menganggukkan kepalanya. "Setelah sekian lama, ketika kembali ke sini pastilah ada kabar baik ya Bu?" terka Dokter Indri.


Erina dan Zaid pun sama-sama tertawa. Sudah pasti ini adalah kabar baik, dan keduanya sekarang dalam perasaan yang berbahagia dengan kehamilan Erina yang kedua ini.


"Iya, Dokter. Setelah lima tahun, akhirnya sekarang ada berita bagus lagi. Jadi bisa bertemu Dokter Indri lagi," jawab Erina.


"Sudah melihat di catatan dari perawat yah, Bu Erina. Jika berdasarkan Hari Pertama Hari Terakhir haid, mungkin saja sekarang debaynya sudah berusia sembilan hingga sepuluh minggu. Namun, untuk lebih jelasnya, kita cek dengan USG Transvaginal yah. Untuk melihat lebih jelas kondisi janin dan rahim."


Mulailah Dokter Indri memasukkan stik probe yang berukuran 5 - 7,5 cm ke dalam jalan lahir. Sebelumnya sudah dilapisi dengan gell, sehingga aman dan tidak menyakiti pasien. Stik Probe ini nanti yang akan memunculkan gambar organ dalam tubuh pada layar monitor.


"Baik, Bu Erina. Jangan berpikiran yang macam-macam yah. Silakan melihat ke monitor dan saya akan menjelaskan perlahan," ucap Dokter Indri.


Erina mengangguk, walau rasanya tidak nyaman, tapi pemeriksaan harus terus berjalan. Zaid pun juga segera menatap di monitor.


"Ya, tepat seperti yang saya sampaikan tadi yah. Usia kehamilan sekarang pas sepuluh minggu. Ukuran badan janin kira-kira sudah sebesar buah lengkeng dengan berat sekitar 7 gram dan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 2,54 sentimeter."


Dokter Indri menjelaskan sembari mengukur janin yang masih kecil itu. Namun, Erina dan Zaid juga takjub karena janinnya sudah berbentuk bayi. Hanya saja lebih mungil dan tentunya belum sempurna.


"Di minggu ini, semua organ dalam tubuh janin juga sudah terbentuk dan mulai bekerja. Otak janin sedang berkembang sangat pesat. Hampir 250.000 sel saraf baru terbentuk setiap menitnya. Seluruh organ vital janin, seperti otak, ginjal, usus, dan hati juga sudah berada di tempatnya dan mulai berfungsi."


Dokter Indri menjelaskan dengan sangat detail. Membuat Zaid dan Erina kembali ke masa lalu. Masa ketika tengah hamil Raka. Sekarang, momen itu kembali. Mereka sangat puas mendengarkan penjelasan Dokter Indri yang sangat detail.


"Sudah bisa didengarkan detak jantungnya juga ya, Bu," ucap Dokter Indri.


Zaid kemudian merekam detak jantung bayinya itu. Selalu saja Zaid menjadi terharu mendengarkan detak jantungnya bayinya. Sama seperti waktu Erina hamil Raka dulu, mendengarkan detak jantung bayinya membuatnya sangat terharu.


Kemudian pemeriksaan diakhiri. Erina merapikan pakaiannya, dan Dokter Indri mencetak hasil USG terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan sesi konsultasi.


"Ada keluhan tidak, Bu Erin?" tanya Dokter Indri kemudian kepada Erina.


"Kapan hari itu seperti masuk angin saja, Dokter. Namun, setelah ketahuan positif, saya lebih baik. Cuma, gak bisa jauh-jauh dari suami saja," balas Erina.


"Awal kehamilan gejalanya bisa beraneka macam, Bu Erina. Bisa seperti masuk angin, mual dan muntah, lemas, dan sebagainya. Berarti sekarang sudah jauh lebih baik?" tanya Dokter Indri.


"Iya, jauh lebih baik, Dokter. Kelihatannya asal ada suami sih semuanya akan baik-baik saja," balas Erina.


Dokter Indri terkekeh perlahan. Memang cerita tiap Ibu hamil itu lucu-lucu. Ada yang mual dan muntah parah, tapi memang ada juga yang nempel ke suami seperti Erina. Banyak cerita tentang ibu hamil, dan itu sering kali membuat Dokter Indri tertawa.