
Dalam beberapa hari ini, Erina benar-benar berpikir keras. Apakah dirinya bisa menerima tawaran rujuk dari Zaid? Semula Erina merasa bahwa Zaid seolah mempermainkannya lantaran perceraian mereka yang baru berjalan dua bulan. Itu pun juga, belum selesai masa iddah yang dijalani oleh Erina. Akan tetapi, suaminya meminta rujuk dengan mempertimbangkan kesehatan dan pemulihan Raka.
Di dalam apartemennya, Erina tampak menghela nafas kasar, "Ya Tuhan, apa yang seharusnya aku lakukan? Haruskah aku rujuk dengan Zaid lagi, di saat hati ini sudah tidak ada cinta untuknya. Jika, aku mengambil jalan ini dan semata-mata hanya untuk anakku, Raka ... apakah aku berdosa? Rasanya jalan ini sangat berat. Satu atap dengan orang yang tidak dicintai, dan bertahan hanya demi anak adalah hal yang tidak menyenangkan masa sekali," ucapnya dengan kesal kala itu.
Lantas Erina berdiri, pandangan matanya kini mengarah ke jalanan ibu kota yang berlalu-lalang dengan berbagai kendaraan di sana. Di apartemen ini, setidaknya Erina merasakan kedamaian. Setidaknya dia memiliki waktu untuk dirinya sendiri, walau ada sisi kekosongan di dalam hatinya karena tidak ada Raka yang menemaninya.
Oleh karena itu, Erina kembali berpikir dan kali ini dia tidak main-main. Dalam tempo beberapa hari dia harus menjawab kesepakatan yang Zaid tawarkan kepadanya.
"Rujuk? Kata yang terdengar klise. Akan tetapi, kenapa rasanya berat untuk menjalaninya. Jika aku bertahan dan kembali hanya demi anakku, bagaimana dengan impianku sendiri?"
Erina mendengkus disertai dengan helaan nafas yang kasar. Rasanya berat. Sebelumnya dia tidak mengira bahwa akan memilih rujuk dengan Zaid. Sebab, baginya kembali ke masa lalu adalah cara untuk kembali merasakan luka. Namun, jika dia memilih untuk menggapai masa depan dan mengabaikan Raka sudah pasti ada konsekuensi dengan semuanya itu.
Dalam beberapa hari ini, Erina benar-benar berpikir keras. Apakah dirinya bisa menerima tawaran rujuk dari Zaid? Semula Erina merasa bahwa Zaid seolah mempermainkannya lantaran perceraian mereka yang baru berjalan dua bulan. Itu pun juga, belum selesai masa iddah yang dijalani oleh Erina. Akan tetapi, suaminya meminta rujuk dengan mempertimbangkan kesehatan dan pemulihan Raka.
Di dalam apartemennya, Erina tampak menghela nafas kasar, "Ya Tuhan, apa yang seharusnya aku lakukan? Haruskah aku rujuk dengan Zaid lagi, di saat hati ini sudah tidak ada cinta untuknya. Jika, aku mengambil jalan ini dan semata-mata hanya untuk anakku, Raka ... apakah aku berdosa? Rasanya jalan ini sangat berat. Satu atap dengan orang yang tidak dicintai, dan bertahan hanya demi anak adalah hal yang tidak menyenangkan masa sekali," ucapnya dengan kesal kala itu.
Lantas Erina berdiri, pandangan matanya kini mengarah ke jalanan ibu kota yang berlalu-lalang dengan berbagai kendaraan di sana. Di apartemen ini, setidaknya Erina merasakan kedamaian. Setidaknya dia memiliki waktu untuk dirinya sendiri, walau ada sisi kekosongan di dalam hatinya karena tidak ada Raka yang menemaninya.
Oleh karena itu, Erina kembali berpikir dan kali ini dia tidak main-main. Dalam tempo beberapa hari dia harus menjawab kesepakatan yang Zaid tawarkan kepadanya.
"Rujuk? Kata yang terdengar klise. Akan tetapi, kenapa rasanya berat untuk menjalaninya. Jika aku bertahan dan kembali hanya demi anakku, bagaimana dengan impianku sendiri?"
Erina mendengkus disertai dengan helaan nafas yang kasar. Rasanya berat. Sebelumnya dia tidak mengira bahwa akan memilih rujuk dengan Zaid. Sebab, baginya kembali ke masa lalu adalah cara untuk kembali merasakan luka. Namun, jika dia memilih untuk menggapai masa depan dan mengabaikan Raka sudah pasti ada konsekuensi dengan semuanya itu.
"Kira-kira syarat apa yang hendak kuajukan kepada Zaid? Sekarang, cintaku untuk mantan suaminya sudah tidak ada. Kalau aku memilih rujuk, maka semuanya hanyalah untuk Raka saja. Apakah yang akan kujalani ini benar adanya? Bisakah berbagi peran pengasuhan, tinggal satu atap tanpa cinta dengan mantan suamiku?"
Ya Tuhan, Erina tampak begitu pusing memikirkan apa saja yang hendak dia ambil. Jika memang ingin rujuk, kenapa rasanya juga berat karena dia merasa tidak ada cinta untuk Zaid lagi. Jika tidak rujuk, Raka yang akan menderita karena keputusannya. Sungguh, ini momen yang sangat dilematis untuk Erina.
***
Selang dua hari kemudian ....
Erina sekarang menuju ke rumah Zaid dan hendak membicarakan syarat dari rujuk yang akan dia ajukan kepada Zaid. Mungkin saja, Zaid akan setuju dengan berbagai syarat yang dia ajukan. Selain itu, juga Erina ingin menjenguk Raka. Sudah beberapa hari berlalu, dan Erina belum menjenguk Raka lagi. Oleh karena itu, Erina kembali datang ke rumah mantan suaminya.
Menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, akhirnya Erina sudah sampai di kediaman Zaid. Bak hafal dengan suara mobil Mamanya, Raka sudah berdiri di depan pintu dan menyambut Mamanya itu.
"Mama," sapanya dengan suara yang nyaring. "Sudah empat hari, Ma ... apa Mama tidak kangen Raka?" tanya Raka yang menatap sendu pada Mamanya.
Erina pun sedikit berlutut dan memeluk Raka di sana. "Kangen, Raka ... Mama kangen sama kamu," balasnya.
"Ayo, masuk, Ma," ajak Raka kepada Mamanya.
Masuk ke dalam rumah, Raka menceritakan terapi yang dia ikuti dan berkata masih ada vitamin yang diberikan oleh Dokter yang harus dia minum setiap hari. Waktu untuk bertemu dengan Erina menjadi momen yang dinikmati dengan sungguh-sungguh oleh Raka.
"Ada Ma, tadi Papa sedang meeting dengan laptopnya. Apa perlu Raka panggilkan?" tanya Raka kemudian kepada Mamanya itu.
Dengan cepat Erina pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mama tunggu saja ... yuk, kita main dulu. Raka ingin main apa sama Mama?" tanya Erina
"Nyusun puzzle aja Ma," balas Raka.
Erina pun menganggukkan kepalanya dan kemudian menemani Raka menyusun Puzzle dengan gambar Dinosaurus itu. Ada 100 pcs potongan Puzzle yang akan disusun Raka sekarang. Ketika Raka menyusun puzzle, sesekali Erina menghela nafas melihat putranya itu.
Hingga, Raka yang kelelahan menyusun puzzle memilih untuk tidur, dan Erina masih menunggui Raka. Setelah sekian menit, barulah Zaid keluar dari ruangan kerjanya dan menyapa Erina.
"Rin, sudah lama?" tanyanya.
"Lumayan," balas Erina. "Zai, boleh kita berbicara?" tanya Erina kemudian.
Zaid menganggukkan kepalanya. Mungkin kali ini, Erina akan mengajukan persyaratannya untuk bisa rujuk dengannya. Oleh karena itu, Zaid mengajak Erina mengobrol di dalam kamarnya yang lebih privasi.
"Ingin bicara apa Rin?" tanya Zaid kemudian.
"Tawaran rujuk itu apa masih berlaku?" tanya Erina kemudian.
Zaid kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, masih ... untuk Raka. Apa kamu sudah memikirkannya dan mengajukan syarat untuk bisa kupenuhi?" tanya Zaid.
Erina yang tampak diam perlahan menganggukkan kepalanya, "Namun, aku memiliki beberapa syarat," ucapnya.
"Katakan, apa saja syaratmu?" tanya Zaid kemudian.
Ada helaan nafas panjang dari Erina, kemudian dia mulai berbicara. "Dengarkan dulu, Zai ... aku mengajukan persyaratan yang akan kita sepakati dan lakukan bersama. Kamu bisa mempertimbangkannya. Pertama, tidak ada kontak fisik di antara kita. Di dalam kamar ini sebaiknya ada dua kamar tidur, kita akan tidur satu kamar, tapi tidak satu ranjang. Kedua, tidak ada ikut campur atas kehidupan pribadi kita berdua. Ketiga, ketika Raka sudah sembuh total, kita bisa mengatakan kebenarannya kepada Raka dan juga memberitahu bahwa kita sudah tidak saling mencintai, Zai," balas Erina.
Zaid mendengarkan semua persyaratan yang disampaikan Erina. Kemudian pria itu menatap mantan istrinya itu. "Tidak ada syarat lain?" tanya Zaid.
"Ah, iya ... aku akan bekerja tiga hari dalam satu pekan. Jadi, di hari ketika aku bekerja, kamu yang harus mengasuh Raka. Ingat Zai, pengasuhan itu beban kedua orang tua. Bukan hanya salah satu saja," balas Erina.
"Pengasuhan bukan beban, Rin ... tetapi memang membagi sesuai dengan porsinya. Toh, selama ini aku bekerja untuk mencukupi kebutuhan kamu dan Raka. Tidak bermain hati di luar sana," balas Zaid.
Erina menghela nafas dan kemudian berbicara lagi kepada Zaid. "Intinya itu syarat dariku. Apa kamu menerimanya?" tanyanya.
"Baiklah, aku menerimanya. Semua persyaratan darimu," jawab Zaid dengan sepenuh hati.
Sebagaimana janjinya dengan Raka, bahwa dia akan melakukan apa pun asalkan putranya itu semakin sehat dan pulih. Asalkan Raka sehat dan bahagia, Zaid pun akan merasakan bahagia.