
Begitu sudah tiba di rumah, Zaid dan Erina memilih untuk memasuki kamarnya. Erina membutuhkan tempat dan waktu untuk bisa bercerita dengan Zaid. Namun, begitu sudah memasuki kamar hal pertama yang Erina lakukan adalah memeluk Zaid.
Ya, Erina menghambur ke dalam pelukan Zaid. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Sekarang, Erina membutuhkan pelukan dari suaminya. Hingga air matanya pun mengalir dengan sendirinya.
Zaid membalas dengan merengkuh tubuh Erina. Mendekapnya erat. Zaid tahu bahwa ada air mata yang berlinang dan itu terasa basah di dada Zaid. Namun, ada rasa tenang yang bisa Zaid rasakan. Ada rasa bahagia ketika istrinya mencarinya ketika ada masalah. Bagi Zaid itu adalah pembuktian bahwa Erina memang telah berubah.
"Sayang ...."
Suara Zaid mengalun lirih, tangannya bergerak dan mengusapi rambut Erina hingga ke punggungnya. Jujur saja, ketika Erina bersedih seperti ini, sebagai suami Zaid pun juga menjadi sedih. Namun, Zaid juga siap memberikan telinganya untuk mendengarkan cerita Erina. Zaid juga siap memberikan dadanya menjadi tempat bersandar ternyaman untuk Erina.
Untuk beberapa saat, Erina masih memeluk Zaid. Hingga akhirnya, dia mengurai pelukannya dan kemudian mengajak Zaid untuk duduk bersama di sofa yang ada di sudut kamarnya. Barulah Erina mulai bercerita dengan suaminya.
"Mas, aku memutuskan resign."
Satu kalimat yang diucapkan Erina sebenarnya membuat Zaid bingung. Sebab, Zaid mendukung penuh karir Erina. Zaid juga tahu hasil sketsa desain Erina juga sangat bagus. Sekarang, ketika Erina memutuskan untuk resign tentu saja Zaid menjadi bingung.
"Pasti ada masalah yah?" tanya Zaid perlahan.
Erina merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Ya, ada perselisihan dengan Erick. Tadi kami meeting bersama dan membahas ide untuk Ramadhan nanti. Erick mengatakan ideku tidak segar dan monoton. Aku sih tidak begitu sakit hati dengan itu. Aku sakit hati kala, dia terlalu ikut campur dengan rumah tanggaku dan mengatakan bahwa Raka hanya alasan saja untuk semua yang terjadi. Aku bisa menerima jika yang dia serang hanya aku, tapi aku tidak bisa menerima ketika dia menyerang Raka."
Zaid benar-benar memposisikan diri menjadi pendengar yang baik. Berusaha untuk memahami di posisi Erina. Memberikan Erina kesempatan terlebih dahulu untuk bercerita dan mendengarkan semua uneg-uneg di dalam hatinya.
"Aku sekarang tahu mana yang lebih prioritas untukku, Mas. Jadi, aku memilih resign dan keluar dari persahabatan toxic ini," ucap Erina lagi.
"Bagaimana dengan passion kamu sebagai desainer dan merchandiser?" tanya Zaid kemudian.
Setidaknya Zaid juga sangat tahu passion yang dimiliki istrinya. Zaid pun tak segan untuk mendukung Erina dengan mimpi dan passionnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Menyadari banyak kesalahan yang terjadi di rumah tangga kita. Aku tahu bahwa tujuanku sekarang adalah menjadi istrimu dan menjadi Mama untuk Raka," balas Erina.
Sebagai seorang pria, seorang suami tentu Zaid sangat senang. Dari dulu, ini yang dia harapkan dari Erina. Sekarang, barulah terwujud.
"Aku juga memiliki kesempatan untuk jauh dari Erick, Mas. Aku sudah tahu salahku dulu, aku tidak akan mengulanginya. Ternyata aku mendekat kepada orang yang salah. Sehingga keputusan yang aku ambil juga salah," balas Erina.
Ada pepatah mengatakan siapa temanmu, itulah kamu. Kita akan bercermin dari teman kita, dan kita adalah cerminan dari teman kita itu. Erina sekarang baru menyadari bahwa dia sudah mendekat kepada sosok yang salah. Mengakui bahwa tindakannya juga adalah salah. Untuk itu, Erina tidak akan mengulanginya lagi.
Zaid yang semula diam, sekarang menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Pasti. Namun, di lain hari jika kamu ingin melakukan sesuatu yang kamu sukai, hubungi aku terlebih dahulu. Aku selalu menjadi orang pertama yang akan mendukungmu, Sayang," balas Zaid.
"Makasih, Mas ... ah, sekarang aku tahu bahwa bercerita dengan suami sendiri lebih lega. Mau bersandar dan memeluk pun halal. Bukan sekadar tindakan impulsif, tapi bentuk kasih sayang," balas Erina.
Zaid merespons dengan merangkul Erina, membawa istrinya dekat di dadanya. "Selalu carilah aku. Jadikan aku sahabatmu juga. Waktuku selalu luang untukmu," balas Zaid.
Yang dikatakan Zaid sepenuhnya benar. Sejatinya suami adalah sahabat untuk istrinya, begitu juga sebaliknya. Menjalin persahabatan karib, saling bekerja sama baik itu sebagai suami dan istri, sebagai Mama dan Papa, dan bekerja sama mengatur rumah tangga bersama.
"Sekarang karena aku akan menjadi Full-time Mama di rumah, Mas Zaid jika ingin bekerja silakan. Aku tidak akan menghalang-halangi Mas Zaid. Percayakan pengasuhan Raka sepenuhnya kepadaku," ucap Erina.
"Agak nanti aja, Sayang. Kamu nikmati waktumu dulu. Aku akan berusaha bisa menyeimbangkan semua dari rumah. Aku juga tidak ingin kamu mengurus Raka dengan keterpaksaan lagi," balas Zaid.
"Dulu, aku begitu ya Mas. Merasa paling menyedihkan dan paling menderita. Merasa semua waktu yang kumiliki tersita hanya untuk Raka. Padahal memang seorang ibu akan memberikan waktunya, moment berkualitas untuk anaknya. Maafkan aku yang dulu," balas Erina.
"Pasti dimaafkan, Sayang. Masih ada yang ingin diceritakan lagi tidak?" tanya Zaid kemudian.
"Tidak, sudah lega bisa cerita sama kamu. Ini kali pertama, aku bisa curhat dengan suamiku sendiri," balas Erina.
Walau pernikahan sudah berjalan lama, sekian tahun. Namun, ada momen yang terlewat. Sama seperti Erina yang baru bisa curhat dengan Zaid sekarang. Yang Erina rasakan justru begitu lega bisa curhat dengan Zaid.
"Seneng kan bisa curhat? Sambil dipeluk juga," balas Zaid dengan sedikit terkekeh.
"Iya, Mas ... seneng. Makasih banyak," balas Erina.
"Kalau sudah, aku mau jemput Raka, Sayang. Sudah menjelang jam pulang sekolahnya Raka," ucap Zaid sembari memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Erina beringsut, kemudian dia menatap suaminya. "Aku ikut jemput Raka boleh, Mas?" tanyanya.
"Pasti boleh. Raka juga pasti senang ketika Mamanya mau ikut menjemputnya," balas Zaid.
Akhirnya Erina memilih untuk mengikuti Zaid ke sekolah dan menjemput Raka. Setidaknya Erina juga mau dekat dengan Raka. Memenuhi kodratnya sebagai seorang ibu. Lagipula sekarang Erina memiliki waktu banyak, dia ingin menghabiskan waktunya untuk semakin dekat dengan suami dan putranya. Menebus waktu yang dulu pernah hilang.