
Zaid begitu bahagia bukan sebagai pengusaha dengan berbagai tempat usaha di berbagai kota besar di Indonesia. Melainkan, siang ini dia bisa melihat senyuman cerah Raka. Bahkan pulang dari sekolah, Raka berlari dan menghambur ke dalam pelukannya. Melihat putranya bahagia, tentu Zaid pun sangat bahagia.
"Happy banget sih, Nak?" tanya Zaid.
"Iya, Pa... Raka seneng banget hari ini. I am happy today," balasnya.
Zaid tersenyum. Pengakuan bahagia yang keluar dari mulut Raka sangat berharga untuknya. Dia ingin setiap hari, putranya bisa sebahagia itu. Tidak perlu melihat keretakan hubungannya bersama Mamanya. Cukup melihat kebahagiaan dengan kedua matanya.
"Coba cerita kepada Papa, kenapa Raka happy hari ini?" tanyanya.
"Hari ini kan Raka sekolah diantar dan dijemput sama Mama," balasnya.
Rupanya yang membuat Raka sebahagia ini karena bisa diantar dan dijemput sekolah oleh Mamanya. Kebahagiaan yang membuat wajah Raka berseri-seri, dan membuat Raka begitu excited ketika bercerita dengan Papanya. Zaid turut bahagia, andai Erina bisa mengantar Raka setiap waktu pasti Raka begitu bahagia.
"Ya sudah yuk, ganti baju sama Papa yah," ajak Zaid kemudian.
Usai itu, Zaid juga menemani Raka dan menyuapi putranya itu makan siang. Akan tetapi, Raka menolak. Raka berkata bisa makan sendiri karena di sekolah guru-guru sudah mengajarkan kepada para murid untuk belajar makan sendiri.
"Di sekolah diajarin makan sendiri ya Raka?" tanya Papa Zaid.
"Iya Papa, sudah diajarin Miss-nya untuk belajar sendiri," balas Raka.
Ini yang membuat Zaid senang karena di sekolah Raka tidak hanya diajarkan tentang pengetahuan yang sifatnya kognitif, tetapi juga kemandirian, dan pengembangan karakter. Walau biaya bulanan untuk sekolah Raka sendiri terbilang mahal. Namun, itu sama sekali tidak masalah untuk Zaid.
Sampai selesai makan siang, Zaid juga menemani Raka bermain, hingga putranya itu tertidur. Sementara Erina tampak duduk di taman dengan beberapa rancangan desain di tangannya. Beberapa sketsa busana yang dia gambar dengan tangannya sendiri.
Merasa Raka sudah tidur, Zaid pun mendatangi Erina dan berbicara dengan istrinya itu. "Rin, baru ngapain?" tanyanya menyusul Erina ke taman.
"Apa Zaid? Aku baru bekerja," balas Erina.
Erina pun menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak terlalu sibuk," balasnya.
"Makasih, Rin ... hari ini, kamu sudah mau mengantar Raka. Makasih sudah menghadirkan kebahagiaan untuk Raka," ucap Zaid.
Kali ini Zaid tidak berpura-pura. Akan tetapi, dia benar-benar mengucapkan terima kasih kepada Erina. Baginya Erina sudah berhasil menghadirkan kebahagiaan untuk Raka.
"Tidak perlu berterima kasih, Zaid ... toh, Raka juga anakku. Katamu, aku juga harus memprioritaskan untuk Raka. Aku hanya berusaha semampuku," balas Erina.
Erina pun juga berpikir bahwa sebenarnya dia hanya berusaha memprioritaskan Raka. Erina seolah menyadari kesalahannya yang sudah abai dengan putranya sendiri. Erina ingin memperbaiki diri dan juga ingin menjadi ibu yang baik untuk Raka.
"Bagaimana pun, aku berterima kasih," balas Zaid.
"Hmm, iya," balas Erina.
Mungkin juga baru kali keduanya bisa berbicara tanpa ada tekanan emosi tinggi. Biasanya mereka berdua berbicara dengan tensi tinggi. Namun, sekarang tidak ada emosi. Akan tetapi, memang komunikasi di antara keduanya juga belum bisa dikatakan sepenuhnya membaik.
"Kalau aku boleh meminta, ketika kamu libur, kamu bisa mengantar Raka ke sekolah, Rin ... hanya meminta. Rasanya aku sangat senang melihat Raka bahagia," ucap Zaid.
"Aku akan mempertimbangkan," balas Erina.
Zaid mencoba menatap wajah Erina sesaat, kemudian barulah kembali berbicara. "Aku tidak bermaksud mengurungi kamu lagi dan membenamkan kamu dalam kehidupan rumah tangga dan mengasuh anak sehari-hari, Rin. Aku sekadar ingin menghadirkan kebahagiaan untuk Raka saja."
Zaid berusaha bisa menyampaikan isi hatinya. Dia hanya ingin menghadirkan kebahagiaan untuk Raka. Kebahagiaan untuk Raka itu benar-benar mahal rasanya.
"Iya, Zai ... aku tahu," balas Erina.
Usai berhasil berbicara dengan Erina, Zaid memilih pergi. Toh, juga tidak ada topik pembicaraan dengan Erina. Daripada mood memburuk, dan tensi pembicaraan meninggi, Zaid memilih pergi dan juga memilih meninggalkan Erina. Jika memang Raka dan kebahagiaannya penting untuk Erina, sudah pasti Erina akan berusaha membahagiakan Raka.