
Keesokan harinya, karena hari ini Erina bekerja, sehingga yang mengantarkan Raka ke sekolah adalah Zaid. Akan tetapi, hari ini Zaid bertingkah tidak seperti biasanya. Sebab, hari ini Zaid menawarkan sesuatu kepada Erina.
"Rin, biar aku antar ke butik. Sekalian mengantar Raka ke sekolah," tawar Zaid.
Menurut Zaid justru dia ingin membuktikan ucapannya semalam untuk mengejar Erina. Pembuktian harus disertai dengan tindakan. Oleh karena itu, Zaid pun akan mengerahkan semua dayanya untuk memikat Erina kembali. Bukan sekadar mengikat, tetapi mempererat hubungan rumah tangga yang semula sama sekali tidak harmonis.
"Iya, ayo, Ma ... sekalian diantar Papa saja," sahut Raka yang justru terlihat excited sekarang.
Erina tersenyum dan menggelengkan kepalanya sesaat. "Tidak usah, Mama berangkat sendiri saja. Tidak ada yang menjemput Mama nanti," balas Erina.
"Papa bisa kok menjemput Mama. Iya kan Pa?" balas Raka.
Zaid menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Nanti kita menjemput Mama bersama ya Raka," balas Zaid.
Raka tertawa. "Benar sekali. Raka juga mau menjemput Mama. Ayo, Ma ... antar Raka ke sekolah dulu sama Papa," pintanya.
Erina mende-sah dalam hati, apakah memang Zaid sengaja mengatakan ingin mengantarnya di hadapan Raka sehingga Raka bisa membantunya mewujudkan apa yang dia mau. Mungkinkah ini adalah trik dari Zaid? Sebab, jika sudah begitu di hadapan Raka, Erina merasa terpojok dan tidak bisa menolak.
Mau tidak mau, Erina pun menganggukkan kepalanya. Sementara Raka begitu girang jadinya. "Yes, Mama ikutan satu mobil sama Papa dan Raka," teriaknya.
Zaid mengulum senyuman kecil di sudut bibirnya. Kemudian dia mengajak Erina dan Raka untuk menuju ke dalam mobilnya. Di depan mobil saja, Zaid juga berinisiatif untuk membukakan pintu untuk Erina.
"Silakan, Rin," ucapnya.
Setelahnya, Zaid membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Raka. "Silakan masuk, anaknya Papa," ucap Zaid.
"Makasih Papa," balas Raka.
Zaid tersenyum dan menaruh tas sekolah milik Raka di kursi belakang, kemudian Zaid mengitari mobilnya dan kemudian barulah duduk di kursi kemudi. Ada wajah Zaid yang bahagia, dan wajah cerah Raka. Sementara Erina memilih diam, bahkan Erina irit berbicara.
"Papa, dua minggu lagi ada outing class di kelasnya Raka, Pa," ucap Raka.
Mendengar kata outing class, seketika Zaid teringat dengan kejadian ketika Raka tertimpa pohon beberapa waktu yang lalu. Jika memang outing di luar ruangan rasanya Zaid tidak ingin memberikan izin kepada Raka.
"Ke mana, Nak?" tanya Zaid.
"Pizza maker, Pa ... membuat Pizza. Boleh ditemani Mama atau Papa begitu katanya Bu Guru. Raka diantar siapa nanti?" tanyanya.
"Sama Mama juga boleh?" Rupanya Raka meminta jikalau bisa diantar Mamanya juga.
Belum Erina memberikan jawaban, mobil Zaid sudah berhenti di sekolah Raka. Sehingga Zaid menepikan mobilnya dan kemudian mengantar Raka masuk ke dalam sekolah.
"Mama, Raka sekolah dulu yah. Bye Mama ... nanti sore Raka jemput yah," pamitnya dengan melambaikan tangannya.
"Hati-hati ya, Raka. Sekolah yang rajin. Papa akan jemput jam 11.00 nanti yah," balas Zaid.
Setelahnya, Zaid kembali masuk ke mobil dan mengantar Erina sampai ke butiknya. Ketika Zaid mencoba mengajak bicara, tetapi Erina tidak sungguh-sungguh meresponsnya, sehingga komunikasi mereka bak terhambat begitu saja. Sampai pada akhirnya Erina sudah tiba di butiknya.
"Thanks, Zai ... sebaiknya nanti sore tidak perlu untuk menjemputku deh," balasnya.
"Kenapa, Rin?" tanya Zaid. "Ada Erick yah yang mau mengantarmu?" tanyanya.
"Bukan urusanmu," balas Erina.
"Sekarang itu menjadi urusanku, Rin ... karena aku suamimu. Kamu terikat pernikahan yang sah denganku, Rin," balas Zaid.
"Terserah," balas Erina.
Hingga akhirnya ada Erick yang sudah menunggu di depan butik. Kali ini Zaid membiarkan saja, tetapi Zaid berjanji dalam hati bahwa dia akan membuat perhitungan dengan Erick. Tidak akan memberikan celah untuk Erick.
"Erin, kenapa kamu diantar dia? Sejak pagi aku juga menelpon kamu, tapi tidak kamu angkat?" tanya Erick yang melihat Erina pagi itu.
"Aku tidak menjawab karena ada Raka," balasnya.
"Kenapa Raka selalu dijadikan alasan. Rupanya kamu dan dia sama saja. Menjadikan anak sebagai alasan," balas Erick.
Erina menatap Erick di sana. "Kenapa lagi, Rick? Bukankah jelas bahwa bagaimana pun Raka adalah prioritas untukku," jawabnya.
"Jika Raka, aku bisa menerimanya, Rin. Namun, tidak untuk pria itu. Pria yang sudah membuatmu kesusahan beberapa tahun belakangnya. Harusnya kamu meninggalkan dia," balas Erick lagi.
Memang ini adalah bentuk usaha Erick untuk menahan Erina bisa di sisinya. Baginya Zaid adalah pria yang tidak tepat untuk Erina. Pria yang membuat Erina kesulitan, dan harusnya Erina tidak lagi memberikan kesempatan untuk Zaid.