Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Bukan Waktunya Saling Menyalahkan


Raka sudah dipindahkan ke kzamar perawatan. Selang intrafena yang terpasang di tangannya, juga ada kain kasa putih yang membebat kepalanya. Sementara bahunya dipasangi pen, sehingga anak kecil tertidur dengan menggendong tangan kirinya. Anak kecil itu berbaring dengan mata yang terpejam dan juga belum sadarkan diri karena bius yang masih bekerja di sana.


Sementara Zaid yang menunggu Raka seorang diri di dalam kamar itu terus merasa bersalah. Seharusnya tadi dia menemani Raka di sana, memastikan anaknya itu aman. Namun, kecelakaan tidak bisa dihindarkan. Dari semua anak-anak dan pengunjung yang ada di sana, nyatanya pohon itu justru jatuh, roboh, dan menimpa Raka.


"Maafkan Papa, Raka ... Papa gagal melindungi kamu. Seharusnya Papa bisa melindungi kamu, memastikan kamu aman. Nyatanyanya sekarang, kamu harus berbaring di ranjang kesakitan ini. Andai Papa bisa, Papa mau menggantikanmu berbaring di sana dan menanggung semua rasa sakit itu."


Sebagai seorang Ayah, Zaid merasa tidak tega melihat anaknya kesakitan dan tidak sadarkan diri. Luka di kepala dan di bahu, bahkan amnesia retrograde yang diderita oleh Raka, adalah rasa sakit yang pastinya teramat sangat.


"Cepatlah sadar, Raka ... Papa akan menunggu kamu, menemani kamu, dan memastikan kamu untuk bisa segera pulih."


Yang Zaid harapkan sekarang adalah putranya itu bisa segera sembuh. Zaid akan totalitas untuk merawat Raka, dan memastikan bahwa putranya itu akan bisa segera sembuh.


Hingga hampir dua jam berlalu, dan barulah Erina datang dan langsung menuju ke kamar rawat inap Raka, karena Zaid sudah memberitahukan di kamar mana Raka dirawat sekarang.


Ketika melihat Raka terbaring lemah di sana dengan luka di kepala dan bahunya, Erina berlinang air mata. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa Raka akan mengalami kecelakaan dan kondisinya separah ini.


"Kenapa bisa terjadi Zai?" tanya Erina dengan menatap nyalang pada sosok mantan suaminya itu.


"Semuanya terjadi begitu cepat, Rin ... Zaid tertimpa pohon yang mengenai kepala dan bahunya. Dia ... mengalami patah tulang di bahu, dan amnesia retrograde. Raka akan kehilangan ingatannya," jelas Zaid.


Ketika Zaid menjelaskan pun, Zaid merasa begitu menyesal. Bagaimana pun semua adalah kecelakaan, dan tidak bisa dihindari lagi. Takdir dari Allah lah yang terjadi.


"Kamu lalai dan abai dengan keselamatan Raka, Zai ... aku menyesal sudah memberikan hak asuhnya kepadamu," ucap Erina yang sekarang mengungkapkan penyesalannya.


Bagi Erina, semua ini terjadi karena Zaid yang tidak bisa memastikan Raka aman dan selamat. Zaid sebagai seorang Papa justru telah abai dan juga membuat anaknya dalam kecelakaan besar.


"Semuanya kecelakaan, Rin ... cuaca buruk yang terjadi, dan pohon itu jatuh menimpa Raka," balas Zaid.


Tampak Erina mendengkus kesal di sana, "Kenapa kamu tidak menemaninya, Zai? Atau kamu bisa mengorbankan diri kamu sendiri, asalkan Raka selamat."


"Sudah diberitahukan anak-anak tidak usah diawasi oleh orang tua, Rin ... makanya kamu bergabung di grup orang tua di sekolahnya, Raka. Jangan asal menuduh. Kalau aku bisa menggantikan Raka, sudah pasti aku akan menggantikannya," balas Zaid.


Sungguh, sekarang pun Zaid merasa begitu kesal kepada Erina yang datang-datang dan menyalahkannya, menuduhnya yang bukan-bukan. Membuat Zaid merasa emosi seketika.


Zaid berdecih dan menggelengkan kepalanya, "Ckck, tidak akan bisa, Rin ... hak asuh Raka adalah kepada Papanya. Kepadaku, lagipula sejak awal, kamu sudah tidak menginginkan untuk merawat Raka kan?"


"Itu hanya alibimu saja, Zai ... kamu yang memaksa untuk bisa mendapatkan hak asuh Raka, nyatanya semuanya seperti ini. Kamu tidak becus untuk mengasuh Raka," balasnya.


Atmosfer di dalam kamar itu menjadi terasa panas. Dua kubu yang saling menyalahkan satu sama lain. Merasa dirinya yang benar, dan tidak ada yang mau mengalah. Saling menyalahkan, saling mencari kesalahan, saling tuduh. Seakan Zaid dan Erina tidak menyadari bahwa putra mereka, buah hati mereka, butuh dukungan penuh dari kedua orang tuanya.


"Alibi? Kamu bilang alibi, Rin? Jika demikian, kemana saja kamu hampir empat minggu ini, Rin? Apakah bercerai dariku membuatmu bebas juga untuk abai dengan putramu? Aku justru sanksi bahwa kamu bisa mengasuh Raka dengan baik," balas Zaid.


"Aku tidak abai, Zai."


"Lalu, kemana saja kamu selama ini Rin? Yang ada Raka yang menunggu, mendapatkan harapan palsu dari kamu. Harapan kosong dari Mamanya sendiri," balas Zaid.


Kedua belah pihak seolah sama-sama tidak mau mengalah. Mencari asas pembenaran masing-masing. Menganggap semua hanya sebatas alibi.


Erina terdiam, ya, dalam empat minggu ini dia tidak menemui Raka. Awalnya, Erina berjanji seminggu dua kali akan menemui Raka. Namun, dia tidak menemui putranya itu.


"Jangan mencari pembenaranmu sendiri, jika pada akhirnya kamu ingkar janji, Rin," balas Zaid.


Hingga akhirnya ada Dokter Soni yang datang untuk mengecek kondisi Raka lagi. Memasuki ruangan itu, membuat Dokter Soni melihat kedua orang tua yang seakan terpisahkan oleh jurang yang begitu dalam.


"Kedua orang tua Raka yah?" tanya sang Dokter.


"Ya, kami," balas Zaid dan Erina hampir bersamaan.


"Pasien masih tidak sadarkan diri? Biasanya pengaruh bius itu bisa sampai dua hingga enam jam. Dalam enam jam pertama ini, tolong diperhatikan pasiennya. Pergerakan sekecil apa pun sangat berarti yah," jelas sang Dokter.


"Baik Dokter ... apakah perlu dipasang selang oksigen?" tanya Zaid kepada Dokter itu.


"Untuk sekarang tidak perlu ya Pak ... kondisi pasien stabil. Hanya saja mohon, ketika pasien siuman, Bapak dan Ibu bisa mengesampingkan masalah pribadi dan bisa mengakomodir kebutuhan afeksi untuk pasien," ucap Dokter Soni.


Apa yang disampaikan Dokter Soni memang memiliki sebab, karena sebelum dia masuk ke dalam ruangan itu, dia mendengar perdebatan antara kedua orang yang sama-sama adalah orang tua kandung Raka. Sebagai tenaga medis, Dokter Soni mengingatkan bahwa Raka membutuhkan dukungan dan kebutuhan afeksinya bisa dipenuhi oleh kedua orang tuanya.