
Melihat reaksi Erina, nyatanya Erick tidak tinggal diam. Sang desainer turut membuntuti Erina masuk ke dalam butiknya. Masih ingin meminta penjelasan dari Erina.
"Aku masih tidak bisa menerima keputusanmu yang akhirnya mau rujuk dengan pria itu, Rin," ucap Erick dengan rasa tidak terima.
"Aku memiliki pertimbangan sendiri, Rick," balas Erina.
Memang Erina memiliki pertimbangan sendiri. Jika mengikuti hati dan perasaannya, Erina tidak akan sudi untuk kembali rujuk dengan Zaid. Akan tetapi, ketika dia diperhadapkan dengan situasi yang genting, maka mau tak mau Erina mengambil keputusan untuk rujuk.
"Pertimbangan apa, Rin? Masa iddahmu belum usai, dan kamu sudah rujuk dengannya. Drama apa ini, Rin?"
Bagi Erick apa yang terjadi barusan adalah sebuah drama. Masih bisa Erick ingat, bagaimana dulu kesusahannya Erina ketika masih menjadi istrinya Zaid. Namun, yang terjadi sekarang justru Erina kembali ke pelukan Zaid.
"Kamu menyudutkan aku, Rick. Semua ini keputusan yang aku ambil dengan sangat matang. Tidak hanya berdasarkan emosi sesaat," balas Erina.
"Itu semua karena kamu memberi peluang lagi untuk Zaid, Rin. Seharusnya aku tidak lagi memberi kesempatan maupun peluang untuk pria yang lebih mementingkan bisnisnya dibandingkan istrinya sendiri. Janjimu, bahwa kamu mau bercerai dan tidak akan kembali."
Kembali Erick menegaskan bahwa dulu Erina pernah berkata bahwa dia tidak akan kembali kepada Zaid. Namun, faktanya Erina justru rujuk kembali dengan mantan suaminya. Menurut Erick, untuk pria yang tidak pernah memprioritaskan Erina, sebaiknya tidak ada kesempatan kedua.
"Sudahlah, Rick. Kumohon, pergilah. Aku sudah terlalu pusing dengan kehidupan rumah tanggaku sendiri. Jangan kamu menambahinya lagi," balas Erina.
"Kalau rumah tangga membuatmu pusing, kenapa kamu tidak meninggalkannya?"
Sampai di batas ini, Erina benar-benar tersudutkan. Selama mengenal Erick, baru kali ini sahabatnya itu menyudutkan dirinya. Biasanya Erick akan selalu membelanya. Memberikan dukungan dan selalu menolongnya.
Erina pun memberikan penjelasannya bahwa dia tidak bisa abai jika sudah menyangkut Raka. Terlebih, kondisi Raka bisa dikatakan tidak sepenuhnya baik. Amnesia Retrograde yang dialami Raka menjadi pertimbangan sendiri bagi Erina.
"Selalu tentang Raka."
Erick menggelengkan kepalanya perlahan. Baginya, semua selalu tentang Raka. Seolah-olah, Raka adalah amunisi yang disiapkan Zaid untuk bisa menjerat Erina.
"Ceraikan Zaid, Erin. Aku akan menikahimu, kita bisa membesarkan Raka bersama," ucap Erick kali ini.
Erina tertegun. Dia tidak menyangka bahwa Erick akan mengatakan hal demikian. Namun, rasanya tidak mungkin. Jika Erina menggugat cerai Zaid lagi dan Raka akan terguncang secara mental, itu lebih berbahaya untuk Raka.
"Aku tidak bisa melakukannya, Rick. Setidaknya sampai Raka benar-benar pulih," balas Erina.
"Bukankah aneh ketika ingatan seseorang hilang dan hanya kenangan perceraian orang tuanya saja yang hilang," ucap Erick.
"Itulah penjelasan Dokter, Rick. Lobus frontal Raka yang rusak karena benturan. Dia memilih kenangan terpahitlah yang hilang. Untuk diagnosa Dokter, aku tidak bisa berkata apa-apa," balas Erina.
Dulu memang Erina merasa aneh dengan hilang ingatan yang dialami Raka. Akan tetapi, memang nyatanya itulah yang terjadi. Namun, beberapa hari ini Erina juga menyadari bahwa Raka juga kehilangan ingatan untuk beberapa teman-temannya di sekolah. Itu memang berarti hilangnya ingatan Raka benar adanya.
"Kali ini jangan menginterupsi aku, Rick. Aku akan selesaikan semuanya," ucap Erina.
Sebab, ketika Erick menekannya dan menyudutkannya, Erina kian pusing dan tertekan. Kali ini Erina ingin menyelesaikan semua sendiri. Tidak ada campur tangan Erick.