Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Promosi Novel: Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat


...Akan tetapi biarkanlah ada ruang di dalam kebersamaan yang kamu miliki dan biarkan angin dari surga menari di antara kalian. Cintailah satu sama lain dengan rasa saling memiliki....


Ada ruang di dalam kebersamaan di antara dua sejoli yang tengah menjalin cinta. Sayangnya, yang berada hadapi bukan hanya yang indah-indah saja. Melainkan ada, kenyataan pahit yang harus mereka hadapi bersama.


"Jadi, bagaimana, Dik ... mau enggak membangun rumah tangga denganku?" seorang pemuda berkulit sawo matang dengan wajahnya yang tampan khas Jawa dengan netra sepekat malam, hidungnya memang tak begitu mancung, alis mata yang tegas, dan rambutnya yang legam pula.


Di hadapannya sang pujaan hati dengan kulitannya yang kuning langsat, wajahnya pun ayu, dan rambutnya yang panjang sepinggang. Gadis itu tersenyum perlahan.


"Kalau Mas Satria memang benar-benar serius denganku, silakan datang ke rumah. Ada Ayah dan Bunda yang akan memberikan jawaban," balas Indi.


Bagi Indira atau yang biasa dipanggil Indi itu menjawab demikian. Baginya, tidak perlu banyak bercakap, jika memang serius dan memiliki keberanian pria bernama Satria itu bisa langsung datang ke rumahnya, menemui Ayah dan Bundanya.


"Ya, kamu mau dulu enggak, Dik?" tanya Satria lagi.


"Kalau Ayah dan Bunda setuju, maka aku pun mau," balas Indi.


Mendengar jawaban dari Indi, Satri tersenyum. Pria itu menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Lega. Baginya itu adalah sebuah petunjuk nyata kalau Indi tidak menolaknya.


"Ayahku bilang, kalau bawa cowok ke rumah itu tandanya serius dan sungguh-sungguh. Jadi, Mas Satria mau ikut ke rumah?" tanya Indi.


Sebenarnya Satria mau-mau saja. Namun, mengingat asal-usul keluarganya yang trah ningrat dan berdarah biru. Satria pun diminta untuk berhati-hati dalam bertindak, berlaku, dan bertutur kata. Segala sesuatu ada perhitungannya.


"Nanti kalau sudah ada hari baik dan saatnya tepat, aku akan singgah ke rumahmu," balas Satria.


Indi tak merasa kecewa. Itu tandanya justru Satria adalah pria yang berhati-hati. Memang di dalam hatinya, Indi berharap menemukan sosok suami yang seperti Ayahnya. Sosok yang tenang, penuh perhitungan, bijaksana, dan family man.


Indi selalu ingat dengan petuah dari orang tuanya bahwa jodoh itu memang dari Tuhan, tapi manusia berusaha juga. Namun, tak jarang jodoh itu sudah ada di depan mata. Sebab, itulah yang dialami Indi. Satria bukan sosok yang asing untuknya. Mereka dipertemukan kala MAKRAB (Malam Keakraban) Mahasiswa Baru di universitas negeri di Jogjakarta.


Dari sana persahabatan perlahan berubah menjadi cinta. Sampai keduanya lulus Strata Satu dari Universitas. Namun, ada strata dan kasta yang membentang di antara keduanya.


Indi hanyalah gadis biasa. Di darahnya tidak mengalir trah ningrat berdarah biru. Sementara Satri adalah sosok putra ningrat dan masih memiliki hubungan dengan kerajaan Mataram Islam. Walau tidak dekat dengan pihak keraton, tapi keluarga Satria sangat menjunjung tinggi budaya Jawa.


Nguri-nguri Budaya Jawi, atau yang diartikan terus menjaga kelangsungan dan kelestarian budaya Jawa. Pitungan (hitungan dalam bahasa Indonesia), hari baik, bahkan semua tradisi seolah masih dijaga dan dilestarikan oleh keluarga Negara sebagai pemilik Pabrik Jamu di Solo.


Keduanya datang dari strata sosial yang berbeda. Ya, Satria adalah sosok yang dilahirkan dengan DNA darah biru yang sudah dia dimiliki sejak dia dilahirkan dan akan tetap dia miliki sepanjang hidup mereka.


Berbeda dengan Indi, yang hanya rakyat biasa. Tidak memiliki DNA darah biru, konglomerat pun tidak. Akan tetapi, perasaan cinta justru hadir dengan sendirinya. Menyapa dua jiwa dengan caranya sendiri, seolah membangun jembatan yang bisa diseberangi oleh dua hati.


"Ya, sudah ... begini saja, Dik Indira. Nanti aku akan datang ke rumahmu. Sowan (mengunjungi) kepada Ayah dan Bunda. Aku akan menyampaikan niat hatiku untuk mempersunting putrinya. Namun, aku perlu berbicara kepada Ramaku (Rama, adalah panggilan untuk Bapak, biasanya untuk kaum ningrat berdarah biru dalam tradisi Jawa) dan Ibu dulu yah. Semoga saja ada respons yang baik," ucap Satria.


"Ya, Mas Satria. Semoga niat baik Mas Satria direspons baik oleh kedua orang tuanya," balas Indi.


"Iya, Dik ...."


"Mau aku anter pulang?" tawar Satria.


Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, aku dijemput Ayahku sebentar lagi. Sekaligus, kami akan melihat pameran interior desain," jawabnya.


Ya, Indi yang sudah berusia 24 tahun sekarang berhasil mewujudkan impian masa kecilnya untuk menjadi Desainer Interior sama seperti Ayahnya. Siapa saja, cita-cita sewaktu kecil berhasil menjadi nyata.


Sementara Satria meneruskan bisnis keluarga dengan Pabrik Jamu miliknya. Terlebih background Satria dari Ilmu Ekonomi dan Bisnis kala duduk dibangku kuliah sangat bermanfaat baginya untuk belajar dan mengembangkan diri. Terus melestarikan bisnis jamu tradisional yang dikemas instans, dan didistribusikan sampai ke Mancanegara.


"Ya sudah, aku temenin sampai kamu dijemput. Di lain waktu, kalau aku singgah ke Jogjakarta, kita kembali bersua yah," kata Satria.


"Iya, Mas," balas Indi.


"Sebab, jika ke Jogjakarta tanpa bertemu kamu, rasanya tidak istimewa," balas Satria.


Pemuda itu sebenarnya sekadar bercanda. Dia mengingat semboyan kota Jogjakarta bahwa Jogja Istimewa. Bagi Satria, keistimewaan itu baru terasa ketika dia bersua dengan Indira.


"Nanti hati-hati nyetirnya ya, Mas Satria," ucap Indi kepada Satria.


"Iya, Dik. Mas tentu akan hati-hati."


Selang belasan menit kemudian keduanya benar-benar berpisah. Indi yang dijemput Ayahnya, dan Satria yang akan kembali ke kota asalnya, Surakarta.


Ya, inilah warita (cerita) antara Indira dan Satria. Dua anak manusia yang merasakan indahnya cinta. Walau ke depannya cinta dalam balutan strata dan kasta akan membingkai warita mereka. Mampukah cinta dan kesungguhan hati mereka bisa menyatukan dua hati dalam satu muara? Mampukah strata sosial yang mengikat keduanya mampu dipatahkan? Terlebih ketika latar belakang Indira yang sebenarnya terungkap, Mampukah Satria menerima Indira dengan segera kekurangannya?


...****************...


Dear Pembaca Setia Rujuk Bersyarat,


Kisah Erina dan Zaid berakhir dengan bahagia. Author hadir dengan cerita terbaru nih, dukung dan ikutin kisah terbaru ini yuk. Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat.



Ketika cinta berdiri di persimpangan antara kasta dan strata sosial rasanya sangat pelik. Itulah yang dirasakan Indi dan Satria. Bagaimana tidak, semua itu karena Indira adalah seorang gadis yak bernasab, sementara Satria Bima Negara adalah putra Ningrat. Tak ada yang lebih menyedihkan bagi Indi ketika tahu bahwa nasabnya mengikuti nasab Bundanya, bukan Ayahnya. Sejak itu, dia mengira keluarganya yang bahagia hanya fatamorgana.


Apakah cinta beda kasta dan strata ini akan berlabuh? Bisakah Satria yang berdarah biru itu menerima Indira, seorang gadis tanpa nasab?


Terbit setiap hari juga yah. 🥰 Bulan depan, akan terbit ceritanya Raka sewaktu dewasa. Ikuti terus yukk... 💖


Love U All,


Kirana🥰🥰