Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Rujuk Bersyarat


Zaid merasa bisa menyanggupi syarat yang diajukan oleh Erina. Jika hanya tidak tidak ada kontak fisik dan di kamar akan ada dua ranjang. Tidak masalah. Seterusnya, hanya tidak ikut campur urusan pribadi, Zaid bisa mempertimbangkannya. Kemudian syarat terakhir bahwa ketika Raka sudah sembuh total, maka keduanya wajib untuk memberitahukan semuanya kepada Raka.


Selang satu hari berlalu, Zaid mengajak Erina menuju ke Kantor Urusan Agama dan di sana Zaid akan mengucapkan ikrar rujuk.


Kali ini, Raka akan tinggal di rumah bersama Mbok Tini untuk sebentar. Sementara Zaid menjemput Erina di apartemennya, setelahnya Zaid juga yang mengemudikan mobilnya menuju Kantor Urusan Agama.


"Sudah siap?" tanya Zaid kepada Erina yang sekarang masih menjadi mantan istri itu.


"Hmm, iya," jawab Erina.


Menembus jalanan Ibukota, hingga akhirnya Zaid sudah tiba di Kantor Urusan Agama. Sebelum turun, Erina bertanya terlebih dahulu kepada Zaid.


"Semua syaratnya apa sudah? Hm, maksudku ... syarat berupa surat akta perceraian kita dulu," ucap Erina.


Zaid pun menganggukkan kepalanya, "Iya, sudah ... akta perceraian kita, dan juga KTP, KTP kamu juga ada di sini fotocopy nya," balas Zaid.


Erina pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah," jawabnya.


Setelah itu, Zaid dan Erina turun dari mobil dan memasuki Kantor Urusan Agama, mendatangi petugas pencatatan nikah. Di sana ditanyain kenapa keduanya memilih rujuk. Lantaran masih dalam masa idadah, maka pasangan tersebut bisa kembali rujuk tanpa harus melakukan perkawinan secara resmi. Kemudian di sana, Zaid di minta untuk mengikrarkan rujuk.


"Erina Listyana binti Lestantyo, aku merujukmu kembali ... aku mengembalikanmu ke dalam pernikahanku."


Ikrar rujuk telah terucap, Zaid merasakan hatinya kembali bergetar ketika dia mengucapkan ikrar rujuk. Apa pun alasannya, yang pasti rujuk ini bersyarat, dan ada kesepakatan di antara keduanya. Sementara Erina sesaat memejamkan matanya ketika Zaid mengucapkan rujuk. Sebab, ketika ikrar rujuk terucap, keduanya kembali menjadi suami dan istri.


"Usai mencatatkan rujuk, nanti Bapak Zaid dan istri silakan menuju ke Pengadilan Agama tempat dulu cerai dilangsungkan untuk mendaftarkan bahwa pasangan sudah rujuk. Selain itu, buku nikah yang sebelumnya ditarik, bisa diambil kembali," jelas petugas pencatatan nikah di sana.


Mengikuti saran dari petugas pencatatan nikah, hari itu juga Zaid mengajak Erina ke pengadilan Agama dan di sana mereka akan mengambil kembali buku nikah. Berbekal dengan buku pendaftaran rujuk, Zaid pun mendatangi pengadilan agama itu.


Sesaat hati Zaid berdesir. Teringat dengan peristiwa di mana dulu dia dan Erina menggelar sidang perceraian di pengadilan agama ini. Di mana keduanya menolak kesempatan mediasi, dan memilih bercerai. Bukan, lebih tepatnya Zaid mengikuti apa saja yang diinginkan oleh Erina. Sekarang, keduanya kembali menyambangi tempat ini untuk mengambil kembali buku nikah keduanya.


"Ada yang perlu dibantu?" tanya petugas di sana.


"kami usai mendaftarkan rujuk di Kantor Urusan Agama, dan kemudian diarahkan ke mari untuk mengambil kembali buku nikah," jawab Zaid.


"Iya, ada," jawab Zaid.


Dengan menyodorkan surat rujuk, dan kemudian petugas di pengadilan agama mencarikan terlebih dahulu buku nikah mereka berdua. Hampir setengah jam berlalu, kemudian buku nikah keduanya diserahkan kembali.


"Dengan dikembalikan buku nikah Saudara kembali, maka sekarang Saudara Zaid dan Saudari Erina kembali berada di dalam pernikahan yang sah. Harap untuk kembali dipertimbangkan untuk tidak melakukan perceraian. Sebab, Allah sejatinya membenci perceraian."


Nasihat dari petugas di sana untuk Zaid dan Erina. Sementara itu keduanya menganggukkan kepalanya. Seolah bagi Zaid rujuk menjadi jalan yang harus kembali dia tempuh untuk memastikan Raka pulih dan membaik.


Begitu sudah masuk ke dalam mobil, Zaid menatap Erina di sana. "Makasih Rin, sudah mau rujuk denganku," ucapnya.


"Sama-sama ... aku melakukan semuanya ini hanya untuk Raka. Juga, mohon penuhi tiga syarat yang aku ajukan," balas Erina.


Di sana Zaid pun menganggukkan kepalanya, "Tentu, aku akan memenuhinya. Tidak ada kontak fisik, tidak ikut campur urusan pribadi, dan memberitahu Raka semua faktanya jika Raka sudah sepenuhnya pulih. Sudah kan?" tanya Zaid.


"Ada hitam di atas putih, Zai ... aku tidak mau jika ini hanya kesepakatan verbal dan tidak ada dasar hukumnya," balas Erina.


Zaid menghela nafas dan kemudian melirik kepada Erina, "Baik, aku akan mengaturnya dengan pengacaraku. Nanti kita bisa menandatanganinya bersama-sama," balas Zaid.


Untuk sesaat Zaid memiliki diam. Suasana di dalam mobil itu kembali hening. Hingga kemudian Zaid mengajukan pertanyaan kepada Erina.


"Kenapa kamu tidak ingin dicampuri urusan pribadimu, Rin? Mungkinkah sudah ada cinta yang lain?" tanya Zaid kemudian.


Erina diam, wanita itu membuang wajahnya ke jendela dan terlihat enggan untuk menjawab Zaid. Namun, di satu sisi Zaid tersenyum begitu tipis di sana.


"Jikalau memang ada cinta yang lain, aku mengucapkan terima kasih kepada kamu dan pasanganmu itu karena sekarang kamu memprioritaskan Raka terlebih dahulu. Aku menghargainya," ucap Zaid.


"Sudah, jalankan mobilnya saja, Zai ... kita pulang. Raka membutuhkan kita," balas Erina.


Zaid pun mengemudikan mobilnya dan segera membawa Erina untuk ke rumah. Apa pun alasannya kenapa Erina tidak ingin kehidupan pribadinya dicampuri, untuk sekarang Zaid mengucapkan terima kasih. Ya, ungkapan terima kasih karena Erina lebih memprioritas Raka sekarang.