Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Konsultasi dengan Dokter Sony


Zaid sangat yakin bahwa memori Raka kembali hadir. Sebab, Raka kembali mengingat perceraian Zaid dan Erina dulu. Selain itu, Raka juga mengingat Erina yang meninggalkan dirinya. Oleh karena itu, siang itu Zaid mengajak Erina dan Raka untuk mengunjungi Dokter Sony. Melakukan konsultasi, karena dulu memang ada ingatan yang hilang.


"Nanti siang kita ke Rumah Sakit ya, Raka?"


"Untuk apa ke Rumah Sakit, Pa? Raka tidak mau, Raka mau di rumah sama Mama," balasnya.


Erina pun merangkul Raka, "Mama akan ikut kok, Nak. Tenang saja, Mama tidak akan meninggalkan Raka," balas Erina.


Hingga akhirnya, Raka menatap Mamanya. Bertanya-tanya benarkah Mamanya itu akan tetap berada di sisinya. Tidak akan meninggalkannya lagi. Sebab, Raka takut kalau Mamanya pergi lagi.


"Sudah berapa bulan Mama di sini, Sayang? Lagipula, Mama baru hamil. Mama maunya sama Papa terus," kata Erina memberikan pengertian kepada Raka.


Mata bening Raka beralih menatap Papanya. Ingin mencari tahu, apakah Papanya juga mengatakan hal yang sama.


"Benar Raka. Mama selalu bersama kita kok," balas Zaid.


"Ya sudah, kalau begitu nanti malam Raka bobok sama Mama yah," pintanya.


"Iya, Kak Raka boleh bobok sama Mama. Mama selalu sayang Raka."


Zaid membuat janji dulu dengan Dokter Sonny, hingga akhirnya siang mereka bertiga menuju ke Rumah Sakit. Sejak turun dari mobil hingga menuju ruangan tunggu Dokter Sonny, Raka selalu menggandeng tangan Mamanya. Jujur, Raka masih takut. Belum sepenuhnya percaya jika Mamanya tidak akan pergi lagi. Sementara, Erina memilih untuk memaklumi, anak kecil memang seperti itu. Terlebih memori Raka juga baru hadir kembali, sudah pasti ada pertentangan di dalam ingatan Raka.


"Pak Zaid ... mari silakan, sudah lama. Ada apa ini?" tanya Dokter Sonny.


Usai itu Zaid menjelaskan bagaimana ingatan Raka yang hilang akhirnya kembali disertai dengan sakit kepala. Selain itu, Zaid juga menjelaskan ada kekhawatiran yang dirasakan Raka. Bagaimana pun Dokter Sonny bisa mendiagnosis melalui pengakuan pasien.


"Oh, syukurlah. Tandanya justru baik, Pak. Korteks dan sinapsis di dalam otak terhubung kembali. Tidak perlu khawatirkan. Justru jika tidak kembali, ingatan itu bisa terkubur selamanya," balas Dokter Sonny.


Syukurlah, jika itu adalah hal yang baik. Sebab, Zaid dan Erina takut jika sampai berakibat fatal untuk Raka. Jika mengarah ke hasil positif itu justru hal yang disyukuri.


Dokter Sonny tetap memeriksa Raka dan memberikan terapi kognitif untuk Raka. Selain itu, seolah mengajak Raka bercerita. Erina dan Zaid juga turut mendengarkan perasaan Raka. Dari semua cerita itu, Erina terpukul dengan perceraian yang kembali Raka ceritakan.


Benar, ketika orang tua memutuskan bercerai, korbannya adalah anak. Raka sampai mengingat semuanya. Ketukan palu di pengadilan agama pun, Raka mengingatnya.


Namun, keduanya sudah rujuk. Dulu rujuk diambil dengan berbagai syarat dan supaya Raka tidak semakin sakit usai amnesia retrograde yang dia alami. Namun, siapa sangka dari rujuk bersyarat, akhirnya bunga cinta justru bersemi.


"Masih saya beri vitamin untuk otaknya. Kalau ingatan yang baru datang tidak apa-apa. Yang penting jangan memaksa Raka mengingat. Memori manusia seperti kotak penyimpanan, Pak Zaid. Ketika kotak terbuka, banyak folder di dalamnya. Biarkan semua folder itu terbuka dengan sendirinya," pesan Dokter Sonny.


Usai konsultasi dengan ahlinya, Zaid dan Erina tidak takut lagi. Itu artinya, dia bisa menempatkan diri dan bersikap ketika memori Raka kembali terbuka. Selain itu, Erina berharap bahwa Raka akan memiliki kepercayaan kepadanya. Dia sangat menyayangi Raka, tidak akan berlaku bodoh untuk kedua kali.