
Selang beberapa pekan berlalu, Raka terbangun dengan kepalanya yang sangat sakit. Saking sakitnya, pagi hari Raka sampai berteriak dan memanggil Mama dan Papanya.
"Mama ... Papa ...."
Erina dan Zaid yang berada di kamar pun, segera menuju ke kamar Raka melalui connecting door yang ada di kamar mereka. Zaid yang berjalan lebih dahulu. Sementara Erina tidak bisa berjalan cepat karena tengah kondisi hamil. Walau demikian, Erina sangat khawatir karena putranya itu terdengar menangis sekarang.
"Kenapa, Raka?" tanya Papa Zaid dengan bingung dan merangkul Raka.
"Kepala Raka pusing banget, Pa. Sakit banget. Kayak berputar-putar," balas Raka.
Di sampingnya, Erina pun mengusapi kepala putranya. Sembari tangannya meraba kening Raka, apakah Raka demam. Ternyata tidak, kening Raka justru dingin dan berkeringat di sana.
"Kamu tidak demam, Nak. Apa ada gigimu yang sakit?" tanya Erina.
Sekarang Erina menanyai demikian karena mungkin saja Raka mengalami sakit gigi. Sebab, biasanya mereka yang sakit gigi akan merasa pusing kepalanya.
"Tidak, Ma. Tidak sakit gigi," balas Raka.
Jika tidak demam dan tidak sakit kepala, apa yang membuat Raka sampai bangun dengan keadaan kepalanya yang sakit. Zaid dan Erina pun menjadi khawatir, apa sebaiknya mereka segera membawa Raka menuju ke Dokter? Sebab, khawatir jika terjadi apa-apa dengan Raka.
"Papa ambilkan minum dulu yah," kata Zaid sekarang.
Zaid segera beringsut dan mengambilkan air minum untuk Raka dulu, setelah itu barulah Zaid membantu Raka untuk minum, sementara Erina mengusapi kepala Raka. Sembari berdoa di dalam hati supaya Raka segera membaik.
Melihat kondisi Raka, Zaid juga menelpon ke sekolah dulu dan meminta izin bahwa hari ini Raka tidak bisa masuk ke sekolah dulu. Zaid juga berencana untuk mengajak Raka ke Dokter saja. Bagaimana pun, Raka pernah kecelakaan dulu dan kepalanya tertimpa pohon, mungkin rasa sakit itu kembali datang.
"Raka mandi kita ke rumah sakit saja yah?" ajak Zaid.
"Raka tidak mau ke rumah sakit, Pa? Raka sudah pernah tinggal di rumah sakit sangat lama, tidak sama Mama," balasnya.
Deg.
Zaid melihat putranya itu. Apakah sekarang sisa memori itu kembali datang? Amnesia retrograde yang dulu diidap Raka, kembali datang? Sementara Erina kembali merasa bersalah. Kemarin Raka berkata supaya dia tidak lagi pergi dengan Erick, dan sekarang Raka mengingat tinggal di Rumah Sakit sangat lama tanpa Mamanya.
"Mama sudah berada bersama kamu, Nak," balas Erina.
Erina beringsut dan menatap Raka. "Apa Raka marah sama Mama?" tanya Erina.
"Iya, Raka marah sama Mama. Raka marah waktu Mama menceraikan Papa."
Ya Tuhan, Erina sampai menitikkan air mata. Memori yang pernah hilang, akhirnya kembali. Memori yang hilang karena Raka terjatuh dan mengira Mama dan Papanya masih bersama. Sekarang, memori yang sempat hilang itu kembali lagi.
"Raka, Mama tidak begitu kok. Mama sekarang bersama kita terus," balas Zaid.
"Mama dulu menceraikan Papa. Raka lihat, Pa," balas Raka.
Raka menangis sekarang. Ada rasa sakit yang kembali menyeruak mana kala mendapati Mama dan Papanya bercerai di pengadilan. Kala itu, Raka sangat terpukul.
"Raka Sayang, Mama tidak jadi bercerai kok. Mama selalu menjadi istrinya Papa dan selalu menjadi Mamanya Raka kok," kata Erina sekarang dengan terisak.
"Apa iya, Ma?" tanya Raka.
Erina menganggukkan kepalanya. "Iya, Mama ada di sini. Mama selalu di rumahnya Papa, bersama kamu. Mama sekarang juga hamil loh, katanya Raka mau memiliki adik bayi seperti Sean," balas Erina.
Dengan pelan-pelan Erina memberikan penjelasan kepada Raka. Berharap Raka akan kembali menerima semuanya. Sebab, sekarang hubungannya dengan Zaid sudah membaik.
"Mama cinta Papa?" tanya Raka.
"Ya, Mama sangat mencintai Papa Zai. Mama juga sangat menyayangi kamu, Raka."
Menjawab itu Erina berderai dengan air mata. Sungguh, tidak bisa membayangkan Raka pun sakit. Erina juga sakit ketika diragukan oleh anaknya sendiri.
"Kalau begitu jangan tinggalkan Raka lagi, Ma. Raka gak mau ke rumah sakit lagi," balas Raka.
Erina menganggukkan kepalanya. "Ya, Raka. Kalau tidak mau ke rumah sakit, Raka harus sehat. Kalau kepalanya nanti pusing gimana?" balas Erina.
"Ada Mama kok. Kalau Mama tidak meninggalkan Papa dan Raka, Raka tidak akan sakit kok," balas Raka.
Akhirnya Mama dan anak itu saling memeluk. Erina menangis di sana. Zaid pun turut menitikkan air mata. Bukan salah Raka ketika memori itu kembali datang. Dulu, Erina pernah bersalah. Namun, semuanya sudah berlalu. Erina sudah memilih untuk memperbaiki semuanya dan juga tinggal bersama mereka.