Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Mendadak Masuk Angin


Erina sangat senang dia bertemu teman-teman baru. Tidak hanya orang-orang yang sukses di bisnisnya masing-masing, tetapi orang yang memiliki hubungan yang erat. Seperti persahabatan Sara dan Marsha yang sangat tulus. Itu mengingatkan Erina dengan persahabatannya dengan Mela. Sayangnya, sekarang mereka harus berjalan sendiri-sendiri karena Erina tidak mau Erick yang menginterupsi hubungannya dengan Zaid.


Sangat disayangkan memang. Namun, Erina sudah sampai pada keputusannya untuk mempertahankan rumah tangganya. Komitmennya untuk membina dan membangun lagi rumah tangga dengan Zaid. Selain itu, Erina sendiri merasakan benih-benih cinta yang perlahan tumbuh untuk suaminya sendiri.


"Boleh yah, nanti jadi model untuk Zarina Butik. Harga profesional tidak masalah," ucap Erina.


Marsha pun menganggukkan kepalanya. "Baik, nanti bisa dibicarakan lagi yah. Selamat yah ... semoga Zarina Butik bisa sukses dan menghasilkan brand yang bagus," ucap Marsha.


Usai grand opening itu, mertua Marsha memutuskan untuk pulang. Sementara Ayah dan Ibunya memilih untuk menginap di rumah. Setelah para tamu berpamitan pulang, Erina merasakan kepalanya yang mendadak pusing. Perutnya juga merasa sangat tidak enak.


Wanita itu sampai memegang erat tangan suaminya. "Mas, aku mendadak kok kayak masuk angin gini yah?"


Erina menutup mulutnya sendiri karena merasakan hendak mual. Zaid juga bisa merasakan tangan Erina yang dingin. Keningnya pun berkeringat dingin. Akhirnya, Zaid segera membawa Erina pulang.


Sampai di rumah, Zaid sendiri yang membopong Erina hingga masuk ke kamarnya. Ayah dan Ibu Erina juga sampai merasa bingung. Tadi Erina sehat dan baik-baik saja. Bagaimana bisa mendadak sakit seperti ini.


"Ada yang bisa Ibu bantu Nak Zaid?" tanya Bu Lia kepada menantunya itu.


"Oh, ini Bu ... Zaid ingin membuatkan teh hangat untuk Erina. Mungkin karena excited mempersiapkan grand launching butik sampai seharian Erina telat makan," balas Zaid.


"Baiklah, biar Ibu yang seduhkan tehnya," balas Bu Lia.


Menganggukkan kepalanya. Zaid berterima kasih kepada Ibu mertuanya. Pria itu kembali berlari ke kamar dan kemudian membantu Erina untuk mengganti pakaiannya. Dia sendiri yang melepas dress yang dikenakan Erina, menggantikannya dengan piyama rumahan. Setelah itu, Bu Lia masuk ke kamar Zaid dan Erina dengan membawa Teh yang dicampur sedikit daun mint untuk menghilangkan rasa mual.


"Tidak apa-apa. Mumpung Bapak dan Ibu di sini. Kalau butuh bantuan jangan segan-segan. Ya sudah, kamu temenin Erina yah. Kelihatannya dia sangat butuh kamu," ucap Bu Lia lagi.


Akhirnya Zaid membantu Erina untuk duduk dan membantu Erina untuk meminum teh itu terlebih dahulu. Supaya lebih enak dan mengurangi mual. Sembari Zaid menyeka kening Erina yang terus mengeluarkan keringat dingin dengan menggunakan tissue.


"Badan kamu gimana rasanya, Yang?" tanya Zaid sekarang.


"Lemes, dingin, dan kayak mau mual gitu, Mas," balasnya.


"Kecapekan kamu, Sayang. Kamu semingguan ini udah wawancara dan rekrutmen staf kamu. Terus, persiapan grand opening yang semua kamu kerjakan sendiri. Habis ini tidur dulu yah," ucap Zaid.


Erina pun menganggukkan kepalanya. Dia tentu akan menuruti ucapan suaminya. Usai meminum Teh dengan sedikit campuran daun mint itu, Erina duduk, dan menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.


"Besok mungkin aku istirahat dulu kali ya Mas ... biar lebih enakan badannya. Mungkin benar aku kecapekan," ucapnya lirih.


"Iya, tidak usah dipaksakan. Kalau memang butuh waktu istirahat ya udah, istirahat saja. Kan itu butik kamu sendiri. Yang penting delegasikan tugas ke staf. Anggap mereka partner kerja kamu," nasihat Zaid.


Lagi, Erina menganggukkan kepalanya. Memang dirinya butuh waktu untuk istirahat. Sebab, seperti yang Zaid sampaikan dia sangat sibuk semingguan ini. Melakukan semua sendiri. Mungkin satu atau dua hari Erina ingin bisa beristirahat.


"Santai saja, istirahat ... aku khawatir. Kamu itu termasuk wanita yang kuat dan jarang banget sakit. Sekarang, tiba-tiba berkeringat dingin dan wajah kamu jadi pucat kayak gini bikin aku khawatir," aku Zaid.


Bagaimana Zaid tidak khawatir. Tadi, Erina bersama tamu yang hadir semuanya tertawa bahagia. Terlibat obrolan hangat dan dalam nuansa kekerabatan. Lantas, setelahnya menjadi sakit tentu saja Zaid menjadi khawatir. Semoga saja Erina memang hanya masuk angin. Selain itu, Zaid juga berharap bahwa esok istrinya sudah akan kembali sehat.