Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Perubahan Hormonal


Di kehamilan ini Erina memang berbeda. Dia merasakan sendiri bagaimana banyak yang berubah di dalam dirinya. Sama seperti hari ini, ketika dia sudah kembali bekerja sebagai desainer di Zarina Butik miliknya, baru beberapa jam bekerja saja rasanya Erina sudah ingin pulang.


Tentu itu sangat berbeda dengan Erina yang dulu. Ya, dulu Erina sangat gemar bekerja. Fokus membuat desain satu per satu. Tangannya pun sangat lihai untuk menggambar dan menghasilkan desain pakaian. Akan tetapi, sekarang Erina selalu merasa rindu dengan rumah. Berkumpul dengan suami dan Raka adalah hal yang paling Erina sukai.


"Kenapa sekarang baru dua jam di kantor saja, aku sudah kangen Mas Zaid?"


Wanita itu bergumam dalam hati. Baru dua jam dia berada di dalam butiknya, membuat sketsa pakaian, tapi sudah merasa kangen dengan suaminya. Sampai akhirnya, Erina mengusap perutnya yang masih rata dengan telapak tangannya perlahan.


"Kamu yang mau Mama nempel terus ke Papa? atau memang Mama yang sekarang jadi tambah cinta sama Papa ya, Sayang?"


Begitu lucunya Erina, bahkan dia sendiri sampai mengajak bicara janinnya sendiri. Dia juga bertanya-tanya, semua itu akibat kehamilan dan perubahan hormonal dalam dirinya, atau memang dia sekarang yang tambah cinta dengan Zaid.


Jujur, kala awal menikah dulu rasanya biasa saja. Mungkin karena menikah karena perjodohan, rasanya seperti tak ada yang spesial. Cinta pun sekadar formalitas semata. Ditambah kesibukan Zaid yang membuka kafe di berbagai kota besar di Indonesia, praktis membuat kehidupan rumah tangga hambar dan juga tidak banyak percikan api asmara.


Sekarang, ketika semuanya membaik, barulah Erina mengakui dalam hatinya bahwa dia semakin mencintai suaminya. Penilaian Erina semakin berubah ketika mengetahui bahwa Zaid adalah sosok yang berjasa memulihkan perusahaan teh milik Ayahnya. Betapa baiknya Zaid yang mau membantu Ayahnya, padahal kala itu kehidupan rumah tangganya sendiri sedang tidak harmonis.


Akhirnya, ketika Zaid usai menjemput Raka pulang sekolah dan mampir ke butik, Erina tampak enggan untuk bekerja.


"Aku sengaja mampir ke butik dulu setelah jemput Raka," kata Zaid.


"Pas banget sih, Mas. Aku kangen," balas Erina.


Bahkan wanita cantik itu tak segan untuk menghambur dan memeluk suaminya. Baru beberapa jam saja, sudah kangen dengan Zaid. Raka yang ada di sana juga heran.


"Mama gak kangen sama Raka?" tanya Raka.


Mendengar pertanyaan Raka, Erina lantas mengurai pelukannya. Dia berjalan ke arah Raka dan berlutu, mensejajarkan tinggi badannya dengan putranya itu. Erina membuka kedua tangannya sembari berkata. "Mama juga kangen Raka."


Secara otomatis, Raka pun segera memeluk Mamanya itu. Erina juga kangen dengan Raka. Hanya saja, tadi dia memang memeluk suaminya terlebih dahulu.


"Makasih Mama. Raka sayang Mama," kata Raka.


"Jangan pergi lagi ya, Ma ... kenapa kadang Raka kadang berpikir Mama akan pergi dari Raka bersama Om Erick," kata Raka sekarang.


"Mama tidak akan melakukan itu, Raka Sayang. Mama akan selalu bersama Raka, Papa, dan nanti adiknya Raka," balas Erina.


Raka memang sudah sembuh dari amnesia retrograde yang dia derita. Namun, ada sisa-sisa memori dalam otaknya yang merasa bahwa Mamanya akan pergi dengan Om Erick. Ingatan itu juga dibangun karena Raka pernah melihat Erina pergi bersama Erick dulu. Terlebih ingatan di dalam otak anak itu sifatnya parsial, kadang bisa timbul dan anak mengingat, kadang pun bisa hilang begitu saja.


"Janji yah, Ma," balas Raka.


Sekarang Erina menitikkan air matanya. Sedih rasanya mendengar anaknya berbicara seperti itu. Kesedihan ini mungkin juga dipengaruhi oleh perubahan hormonal dalam dirinya yang tengah hamil sekarang.


"Janji, Raka. Maafkan Mama dulu yah?"


"Raka maafkan Mama kok. Raka bahagia, tambah bahagia nanti ada adik bayi," balasnya.


Di ruang kerja Erina, Raka tampak bermain sebentar dan melihat sketchbook milik Mamanya yang berisikan berbagai desain pakaian, lantas Zaid berbicara sejenak dengan Erina.


"Kamu mendadak menangis kenapa? Apa efek dari kehamilanmu? biasanya kan ada gejolak hormonal?" tanya Zaid.


"Aku juga gak tahu, Mas. Intinya sih kangen sama kamu dan Raka. Juga tadi sedih saja waktu Raka berbicara begitu," jawab Erina.


"Jangan sedih lagi. Aku pernah membaca kalau Bumil sedih, nanti baby nya di dalam kandungan ikutan sedih. Gejolak hormonal memang terjadi, tapi jangan terlalu bersedih yah," kata Zaid.


Erina pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku akan berusaha. Sekali lagi, maafkan aku yang dulu ya, Mas," katanya.


"Sudah dan akan selalu dimaafkan, Sayang," balas Zaid.


Itulah Zaid dengan kelapangan hatinya. Dia selalu memaafkan Erina. Pernikahan memang tidak akan pernah berjalan mulus. Justru, dia akan berusaha memaklumi dan memaafkan. Hati yang besar dan kesabaran Zaid akhirnya berbuah manis, itu terbukti dengan perubahan Erina sekarang ini.