
Ketika puzzle demi puzzle tersusun, maka yang akan didapatkan adalah gambaran besar. Begitu juga dengan ingatan Raka, satu keping demi satu keping puzzle mulai tersusun. Semua memori yang hilang sudah kembali. Walau masih banyak pertanyaan dalam diri Raka, tapi perlahan-lahan Raka bisa memahami bahwa setiap hari Mamanya ada di rumah. Tidak seperti dulu ketika Mamanya tidak lagi di rumahnya. Agaknya itu mulai cukup membangkitkan kepercayaan Raka kepada Erina.
"Mama janji kan gak ninggalin Raka?" tanya Raka sekarang.
"Mama sudah di rumah Papa terus kan sama Raka?" tanya Erina sekarang kepada Raka.
Akhirnya Raka sekarang menganggukkan kepalanya. Walau masih kecil, Raka juga tahu bahwa Mamanya sudah berada di rumah Papanya setiap hari. Bahkan sekarang, Mamanya juga bekerja saja dari rumah menjaga hati dan perasaan Raka. Untuk stafnya yang ingin konsultasi pekerjaan bisa datang ke rumahnya saja.
"Ma, Raka senang loh, Ma. Pokoknya jangan pergi lagi ya, Ma," balas Raka sekarang.
"Baik, Kak Raka. Akhir pekan nanti Mama akan ke Dokter untuk cek kondisi adik bayi. Kakak Raka temenin Mama enggak?" ajak Erina.
Selain ingin melibatkan Raka dalam kehamilannya dan mendekatkan Raka dengan adiknya sejak berada di dalam kandungan. Erina juga mau membuktikan bahwa dia tidak akan meninggalkan Raka lagi.
"Mau, Ma. Boleh yah Ma? Nanti Mama disuntik enggak? Raka kasihan loh kalau Mama disuntik," balas Raka.
Erina tersenyum. Pemikiran anak kecil selalu begitu ketika datang ke Rumah Sakit atau ke Dokter, yang terlintas adalah disuntik. Padahal, periksa kehamilan hanya sekadar di-USG saja.
"Baiklah, nanti temenin Mama yah. Mama senang banget kalau ditemenin Kak Raka, Adik bayinya juga senang."
...🍀🍀🍀...
Beberapa Hari Setelahnya ....
Ketika memeriksa kembali kandungannya ke Rumah Sakit, Erina benar-benar mengajak Raka. Hal ini disambut baik oleh Zaid juga. Baginya ini adalah bounding seorang Mama dengan putranya. Selain itu, Zaid tahu bahwa Erina tengah berusaha memenangkan hati Raka.
"Iya, kelihatan, Sayang. Kak Raka mau juga melihat adiknya nanti kan?"
"Mau, Ma. Sean juga sering diajak Mamanya ke Dokter kok, Ma. Sekarang giliran Raka."
Zaid yang mengemudikan stir mobil pun berbicara kepada Raka. "Nah, sekarang Raka sudah percaya bukan kalau Mama sudah ada beserta kita?" tanyanya.
Raka kecil pun perlahan menganggukkan kepalanya. "Ya, Raka sudah percaya kok, Pa. Mama selalu tinggal di rumah Papa, di rumah kita. I Love U, Mama."
Kala Raka mengatakan itu, Erina tersenyum. Hatinya sebagai seorang ibu terharu. Beberapa waktu yang lalu, dia sedih ketika putranya sendiri meragukannya. Sekarang, ketika Raka sudah kembali percaya kepadanya pastinya Erina sangat senang.
"Mama dan Papa, kapan-kapan liburan bersama yuk? Kan Raka mau liburan sekolah lama," balasnya.
"Boleh, Sayang. Raka mau liburan ke mana?" tanya Zaid.
"Ke pantai saja, Pa. Menginap," jawab Raka.
"Baiklah, nanti kita lihat perkembangan Mama dulu yah, dan meminta surat izin untuk terbang naik pesawat untuk Ibu hamil. Kalau adik bayinya sehat, Papa akan mengajak Raka liburan."
"Yes, Raka seneng banget bisa liburan sama Mama dan Papa. Nunggu libur dulu ya, Pa. Ada pengulangan dulu di sekolah kata Miss-nya," kata Raka sekarang.
"Siap Kak Raka. Belajar yang rajin dulu untuk pengulangan. Nanti Mama dan Papa mengajak Kakak jalan-jalan yah," balas Erina.
Raka yang duduk di belakang pun berdiri sebentar, tangan kecilnya kini melingkari leher Mamanya. "Makasih Mama. Raka senang. Keluarga Raka seperti ini. Kayak teman-temannya yang lain. Ada Papa, Mama, Raka, dan nanti ada adik bayi."