
Hamil anak kedua, nyatanya Erina justru benar-benar menempel dengan suaminya. Siapa sangka dulu rumah tangga yang retak, nyaris tidak bisa diselamatkan dan tidak ada harapan. Sekarang, Erina tidak bisa jauh-jauh dari Zaid. Sama seperti hari ini, Erina yang menunggu Zaid bekerja.
Bukan sekadar menunggu, Erina justru bergelayut manja di lengan suaminya. Zaid justru senang, kapan lagi istrinya itu bisa bermanja-manjaan dengannya seperti ini. Dulu, istrinya terkesan pasif. Hanya dirinya yang terus-menerus berinisiatif.
"Dulu, mana pernah kamu nungguin aku kayak gini coba," ucap Zaid.
"Ya, kan dulu, Mas. Sekarang ... aku sudah berubah. Atau jangan-jangan kamu memakai pelet, Mas. Sampai aku gak bisa jauh-jauh dari kamu. Aneh banget loh," balas Erina.
Ya, Erina mengakui dengan jujur bahwa dia sudah berubah. Selain itu, Erina juga berkata bahwa sekarang dia tidak bisa jauh-jauh dari Zaid. Intinya, Erina yang dulu tidak seperti Erina yang sekarang. Untuk mengungkapkan perasaan pun, Erina juga lebih terbuka.
"Aku justru seneng kamu yang seperti ini, Sayang. Jadi, kehidupan rumah tangga kita lebih selaras kan. Bukan hanya aku yang berinisiatif. Kamu nanti diem-diem, terus gugat cerai aku. Jangan kayak gitu lagi," balas Zaid.
Ya, dulu Erina hanya diam. Hanya menahan semuanya seorang diri. Namun, pada satu titik, Erina ternyata justru melayangkan gugatan kepadanya. Dengan ketidakberdayaan Zaid kala itu, akhirnya Zaid juga menerima saja. Rumah tangga mereka pernah retak untuk kali pertama. Namun, Zaid tidak akan membiarkannya retak untuk kedua kalinya. Dia tidak akan membebaskan Erina dari rumah tangga ini. Dia ingin terus bersama Erina, menua dengan istrinya itu.
"Maaf ... mungkin dulu kena bisikan setan," balas Erina masih bermanja-manjaan di lengan suaminya.
"Perbanyak ibadah, Sayang. Jangan mudah terbujuk dan terperdaya dengan suara-suara yang membuat kita kehilangan kepercayaan. Biar setannya kabur," balas Zaid.
Erina menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas ... iya. Nanti ibadah sama kamu. Jadi, istri yang kayak gini juga ibadah kan Mas?" tanya Erina.
"Kayak gini gimana coba?" tanya Zaid.
Zaid tapi menahan Erina untuk tetap di sisinya, dan merangkul tubuh istrinya itu. "Yakin mau bobok? Kodenya tadi gagal berarti?" tanya Zaid lagi.
"Jangan begitu, aku malu," balas Erina.
"Kamu mau?" tanya Zaid sekarang.
Pria itu sedikit beringsut dan kemudian menyatap wajah Erina. Dia belai perlahan sisi wajah Erina, menelisipkan juntai rambut Erina ke belakang telinganya. "Jawab, kamu mau?" tanya Zaid sekarang.
Itu adalah pertanyaan penuh tantangan dan jebakan. Selama ini, selama menjadi istrinya Zaid mana pernah Erina berani mengatakan niat hati dan hasratnya. Namun, sekarang Zaid membutuhkan jawaban.
"Ya sudah, kalau tidak mau menjawab," balas Zaid.
Namun, kala Zaid hendak berdiri, kedua tangan Erina memegangi tangan suaminya itu. Seolah dia ingin berkata supaya Zaid tidak pergi. Supaya Zaid tetap berada di sisinya.
Bukan jawabannya. Erina sedikit bergerak dan dia mengecup bibir Zaid di sana. Walau malu, tapi Erina tidak bisa menyembunyikan apa yang dia mau sekarang. Walau tidak bisa memberikan jawaban dengan kata-kata. Satu kecupan bisa memberikan jawaban yang pasti.
Happy Reading^^
Terima kasih yang sudah menunggu selama ini. Author kembali yah ... semoga bisa lebih rajin dan menyelesaikan Rujuk Bersyarat. Dukung yah ...🥰