
Usai pergi dari Rumah Sakit, Erina setibanya di rumah menidurkan Raka dulu. Sekarang memang Raka lebih suka tidur dengan Mamanya. Mungkin di dalam hatinya, Raka masih ingin membuktikan bahwa Mamanya akan selalu bersama dengannya. Tidak akan pergi lagi.
"Ma, nanti adiknya di perutnya Mama berapa lama, Ma?" tanya Raka.
"Sembilan bulan, Kak Raka."
"Oh, lama juga ya, Raka kira hanya sebentar," balasnya.
"Iya ... dulu Mama hamil Raka juga sembilan bulan kok. Sama, nanti Mama hamil adiknya Raka juga sembilan bulan," balas Erina.
Memang begitulah Raka, sisi polosnya masih ada. Bahkan Raka juga bertanya nanti Mamanya akan hamil berapa lama. Namun, Erina senang karena bisa bounding dengan Raka. Dengan berbicara dan cerita sebelum tidur bisa semakin mengeratkan hubungannya dengan Raka. Selain itu, dia terus memupuk kepercayaan Raka kepadanya.
"Sehat selalu ya, Ma. Jangan sakit."
Hati Erina menjadi menghangat mendengarkan perkataan Raka. Walau Raka pernah ragu, tapi Raka pun adalah anak yang penuh perhatian. Terbukti ketika Raka menginginkan Mamanya bisa selalu sehat.
Menunggu sampai Raka tertidur, barulah Erina beralih untuk berjalan menuju ke kamarnya. Hanya melalui connecting door, dan dia sudah tiba di rumah. Sekarang pandangan matanya mengedar dan mencari tahu di mana suaminya berada. Ternyata suaminya berada di sofa. Seperti biasa sedang memegang tablet miliknya. Tidak perlu menunggu, Erina sudah berjalan mendekat di mana suaminya berada.
"Kerja, Mas?" tanya Erina.
"Ya, seoerti biasa, Sayang. Hanya mengecek laporan saja. Dari berbagai cabang. Bersyukurnya sejauh ini masih aman," balas Zaid.
Setelah itu, Erina menganggukkan kepalanya. Bahkan wanita hamil itu dengan sendirinya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Sudah menempel dengan sang suami.
"Manjanya Bumilku," kata Zaid. Pria itu mendekatkan dagu di puncak kepala Erina. Dagu itu bergerak ke kanan dan ke kiri tepat di atas kepala Erina.
Zaid tertawa, bukankah ini adalah ngidam yang aneh. Memang Erina tidak membutuhkan apa pun. Dia hanya suka menempel pada Zaid dan lebih banyak melakukan Physical Touch salah satunya memeluk atau bersandar kepada suaminya.
"Yakin, ngidamnya cuma itu? Gak pengen ngidam yang lain?" tanya Zaid.
Kemudian Erina menggelengkan kepalanya. "Enggak, peluk-peluk kamu saja sudah seneng."
"Apa babynya cewek kali yah ... sampai bisa senempel ini sama Papanya," balas Zaid.
"Ya, kalau baby girl anugerah banget itu, Mas. Kan kita sudah punya Raka. Adiknya cewek jadinya kan pas tuh cowok dan cewek. Lengkap," balas Erina.
"Iya juga sih, cuma tadi belum kelihatan jenis kelaminnya yah, Sayang? Dulu Raka kelihatan jenis kelaminnya usia kehamilan berapa sih?" tanya Zaid.
"Lupa, kelihatannya usia kehamilan 19an minggu deh, Mas," balas Erina.
Zaid juga sedikit lupa kapan dulu terlihat jenis kelamin Raka. Namun, Zaid masih ingat bahwa dia sangat bahagia ketika tahu bayinya berjenis kelamin laki-laki. Nanti pun, Zaid juga akan sangat bahagia kala mengetahui jenis kelamin bayinya kedua.
"Mas Zai gak keberatan kan kalau aku nempelin kayak gini?" tanya Erina.
"Tidak sama sekali, Sayang. Justru aku seneng. Kapan lagi ditempelin Bumil cantik kayak kamu. Aku jujur tambah seneng, dulu kamu hamil Raka pun biasa saja. Sekarang aku lebih suka."
"Serius?"
Dengan cepat Zaid menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar serius bahwa Zaid sama sekali tidak keberatan. Justru dia sangat senang ketika Erina bisa nempel dengannya.