Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Makna Kerja Sama


Erina masih mencoba beradaptasi untuk tidur satu ranjang dengan Zaid. Walau merasa tidak nyaman, sudah ada sebuah guling yang memisahkan keduanya, tapi Erina merasa masih tidak nyaman. Bahkan sekarang, Erina sengaja hanya tidur di pinggiran tempat tidur itu.


"Enggak tidur, Rin?" tanya Zaid perlahan.


"Aku gak terbiasa tidur satu ranjang sama orang lain," balasnya.


"Aku bukan orang lain, tapi aku adalah suamimu. Kita pernah berbagi ranjang selama hampir lima tahun," balasnya.


Mendengar jawaban dari Zaid seketika, Erina terdiam. Wanita yang semula memunggungi Zaid itu hanya diam dan tidak menjawab. Hanya saja, memang rasa tidak nyaman itu muncul begitu saja.


"Bukan hanya berbagi ranjang, bahkan kita saling menghangatkan," balas Zaid lagi.


"Sudahlah, aku mau tidur," balas Erina.


Zaid kali ini memilih diam dan tidak memberikan jawaban. Zaid hanya bisa menjaga perasaan Erina dan memastikan situasi menjadi kondusif, terlebih Raka juga tidur satu kamar dengan Mama dan Papanya. Jangan sampai berdebat, dan membangunkan Raka yang sudah tertidur.


***


Keesokan harinya ....


Kegiatan Kids Camp kembali berlangsung hari ini. Seluruh siswa dan orang tua mengenakan kaos seragam yang dibagikan dari pihak sekolah yang berwarna hijau daun. Seolah benar-benar menyatu dengan alam yang mereka gunakan untuk kegiatan sekarang.


"Nah, anak-anak dan Mama, Papa. Hari ini adalah aktivitas fisik tentang pentingnya bekerja sama. Kenapa kerja sama itu penting? Sebab, di dalam keluarga memang harus ada kerja sama. Papa bekerja, Mama mengurus rumah dan anak, itu adalah bentuk kerja sama. Bagi anak-anak yang sudah memiliki adik, ketika adiknya menangis dan ditenangkan itu juga namanya kerja sama. Untuk. kian mempererat kerja di antara Mama dan Papa, serta anak. Kali ini kita memindahkan air ke dalam wadah. Estafet yah, dari anak dulu, lalu ke Mama atau Papa. Air yang paling banyak terkumpul dalam wadah itulah pemenangnya. Mengambil airnya hanya boleh dengan telapak tangan yang saling diatupkan."


Kali ini Raka pun bersemangat. Dia sangat ingin memenangi perlombaan saat ini. Akan tetapi, Raka juga ingin Mama dan Papanya juga berjuang bersamanya.


"Kita berusaha menangkan yah, Pa," pinta Raka.


"Kita berjuang dulu bersama, Raka," balas Papa Zaid.


"Ayo, semangat ... anak-anak, Mama, dan Papa semangat yah. Inilah kerja sama dalam keluarga. Saling mengambil peran, saling mengisi, dan saling menerima. Saat kita mengambil air, itu kita sedang menjalankan peran kita. Suami bekerja, istri mengurus rumah dan anak, anak yang sekolah. Kemudian saling mengisi satu sama lain. Mama, Papa, dan anak itu berbeda karakter dan sifat, tapi berbeda bukan berarti tercerai berai, melainkan bisa mengisi satu sama lain. Begitulah sebuah keluarga. Nah, sekarang kita hitung mundur dari sepuluh, dan permainan ini berakhir yah."


Sepuluh ... Sembilan ... Delapan ... Tujuh ... Enam ... Lima ... Empat ... Tiga ... Dua ... Satu!


Seluruh peserta menyelesaikan permainan mereka. Para guru akan melihat seberapa banyak air yang terkumpul, dan sementara seluruh peserta menetralkan nafas mereka.


"Capek, Pa," ucap Raka dengan terengah-engah.


"Benar, tapi seru kan?" balas Zaid.


Raka pun menganggukkan kepalanya. "Benar Pa. Keluarga kita harus bisa bekerja sama yah Mama dan Papa. Kita saling mengambil peran, saling mengisi, dan saling menerima," ucap Raka.


Erina dan Zaid sama-sama menganggukkan kepalanya. Sekaligus Erina melakukan instropeksi diri. Sudahkah selama dia melakukan ketiga hal itu. Jika menyangkut kerja sama, agaknya Erina sendiri akhir-akhir ini justru sibuk dengan butiknya. Itu juga yang membuatnya merasa bersalah dengan Raka.


"Mama kalau kerja, kerja aja, Ma. Kan Papa mau bekerja sama dengan Mama, Papa yang mengasuh Raka," balas Raka.


Erina pun tersenyum tipis. Namun, hatinya merasakan sesuatu yang ganjil. Sementara Zaid memilih diam dan tidak menjawab Raka.


"Iya, Raka ... maafkan Mama yah," balas Erina.


Dengan cepat Raka pun menggelengkan kepalanya. "Tidak usah minta maaf, Mama. Raka sudah senang kok, Mama sudah mau tinggal kembali dengan Papa dan Raka," balasnya.


Jika ada orang yang berhati besar dan lapang, serta mudah memaafkan dia adalah anak-anak. Mereka begitu pemaaf. Bahkan sering kali mereka tidak memasukkannya ke dalam hati. Sama seperti Raka, yang merasa bahwa Mamanya tidak perlu minta maaf. Asalkan Mamanya mau tinggal bersamanya saja, sudah cukup untuk Raka.


Seharusnya orang tua pun belajar dari anak-anaknya tentang arti memberi maaf. Ketika memaafkan akan melakukan dengan tulus, dan tidak mengungkitnya lagi di masa lalu. Kesalahan satu hari, akan diingat dan dimaafkan dalam satu hari.