
Sementara itu di salah satu Butik Kenamaan di Ibukota ....
Erina sangat menikmati profesinya sebagai Merchandiser di salah satu toko butik yang ada Ibukota. Merchandiser sendiri adalah salah satu pekerjaan fashion yang sangat berhubungan dengan bisnis. Tanpa adanya seorang Merchandiser maka produk fashion akan sulit untuk dikenal dan dijual kepada Konsumen.
Merchandiser memiliki tanggung jawab untuk memastikan produk fashion selalu tersedia di toko dengan jumlah dan harga yang tepat. Tidak hanya itu, seorang Merchandiser juga perlu menyiapkan strategi pemasaran untuk produk baik itu secara online dan offline.
Kali ini, Erina terlihat tengah bekerja sama dengan seorang Desainer yang akan menjual dan melakukan Lauching untuk busananya di toko butik milik Erina dan rekannya, Mela.
“Rin, nanti loe yang ketemu sama Mas Erick untuk launching kemeja musim panas nanti yah,” ucap Mela yang meminta Erina untuk menemui Erick, salah seorang desainer yang memiliki desain batik kekinian.
“Jam berapa, La?” tanya Erina kemudian.
“Biasa kalau Mas Erick sih bisanya sore,” balas Mela.
Tampak Erina mendengus perlahan. “Ck, kenapa tidak kamu saja, La? Gue harus pulang, Raka membutuhkan gue,” balasnya.
Ya, kali ini Erina merasa memang dia harus pulang. Raka sudah pasti menunggunya di rumah. Oleh karena itu, Erina kalau bisa lebih memilih Mela yang bertemu dengan Mas Erick. Sebab, jika bertemu dengan Mas Erick pastilah membutuhkan waktu lama, terlebih Mas Erick sendiri memiliki karakter yang suka mengobrol panjang.
“Kali ini saja, Rin … sorry banget, malam ini gue ada janji saja Ibnu, pacar gue. Toh, loe kan sudah menjadi janda. Bebas kan?” respons Mela.
“Gue … gue rujuk sama Zaid, La,” aku Erina kemudian.
Ya, baru kali ini Erina mengakui bahwa dirinya bukanlah seorang janda. Melainkan Erina telah kembali rujuk dengan Zaid, mantan suaminya. Mendengar apa yang baru saja Erina katakan, Mela pun membelalakkan kedua matanya.
"Seriusan, loe rujuk sama Zaid?" Mela bertanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Erina ucapkan.
Tampak Erina pun menganggukkan kepalanya. "Iya, tiga hari yang lalu, gue rujuk sama Zaid. Bukan karena cinta, tapi karena Raka butuh gue. Raka membutuhkan Mamanya, Raka kehilangan ingatan dan disinyalir kondisinya akan lebih parah. Oleh karena itu, rujuk menjadi jalan yang kupilih saat ini," balas Erina.
Mela menghela nafas panjang. Rupanya memang ada orang yang mau kembali ke luka lama seperti Erina. Dulu, Mela mendukung ketika Erina berbicara hendak bercerai dengan Zaid. Sekarang, Mela harus geleng kepala dan mempertanyakan keputusan sahabatnya itu.
"Kamu terlalu gegabah, Rin. Bisa saja, kamu terluka lagi karena kembali pada Zaid," balas Mela.
"Gue menjalaninya hanya sebagai kompromi, La. Gue tidak punya pilihan lain untuk kebaikan Raka," balas Erina.
"Ya sudah, sore ini tolong temui Mas Erick dulu yah. Sekali saja, pertemuan selanjutnya biar gue yang handle, Ibnu udah kangen, Rin. Loe tahu kan, gue dan Ibnu juga sudah merencanakan untuk menikah. Jadi, banyak hal yang harus diobrolin bersama," balas Mela.
Akhirnya setelah perdebatan panjang dengan Mela, mau tidak mau Erina memang harus bertemu dengan Mas Erick. Walau enggan, karena sudah pasti jika bertemu dengan Mas Erick bisa membuatnya pulang lebih malam.
Petang tiba …
Di salah satu kafe yang berada di dekat kantor sang Desainer, Erina pun kini sudah duduk dan berbincang-bincang dengan seorang Desainer muda yang akan bekerja sama dengan Butik miliknya dan Mela, Abhaya Butik.
"Gimana kabarnya Mas Erick?" tanya Erina kepada sang Desainer.
"Baik. Sendirian aja nih? Mela mana?" tanya Mas Erick.
"Mela baru ada urusan pribadi, Mas … jadi aku yang meeting nih sama Mas Erick. Gimana Mas, untuk kemeja pria dengan kombinasi batik jadi rilis tiga bulan lagi dengan Bahaya Butik kan?" tanya Erina.
Ya, dia harus memastikan bahwa koleksi terbaru sang Desainer harusnya bisa dijual di gerai butiknya. Lagipula, nama besar Erick Pierre di dunia fashion sudah tidak perlu diragukan lagi.
"Jadi dong. Dijual eksklusif di Abhaya," balas Mas Erick. Kali ini pun sang Desainer menjawab dengan sungguh-sungguh dan memastikan bahwa koleksi terbaru hanya akan dijual eksklusif di Abhaya Butik saja.
"Wah, makasih banyak Mas Erick. Nanti aku dan Mela akan buat campaigne untuk bisa menjualnya secara online dan offline," balas Erina.
Akan tetapi, sebagaimana yang Erina tahu berbicara dengan Erick memang membutuhkan waktu lama. Bahkan sekarang sudah menunjukkan jam 22.00 malam. Merasa sudah malam, Erina pun mengakhiri pertemuan kali ini dan berpamitan dengan Erick.
"Baiklah Mas Erick, Erin pamit yah … sudah malam," pamitnya.
"See you again ya Erin. Nanti kita bisa ngobrol lagi," balas Erick dengan memeluk Erina untuk sesaat.
Kini pria tampan yang berprofesi sebagai Desainer itu mengantarkan Erina sampai ke mobilnya yang terparkir di depan kafe. "Bye Erin, see you."
Hari sudah begitu malam dan Erina masih harus menempuh perjalanan dari kafe ke kediaman Zaid. Kurang lebih hampir satu jam jaraknya. Praktis, jam 23.00 barulah Erina sampai di rumahnya. Turun dari mobil, Erina memasuki kediaman Zaid dengan begitu hati-hati.
Wanita itu menyangka Zaid, Raka, dan ART sudah tidur. Rupanya, Zaid masih terduduk di ruang tamu. Erina pun terkaget-kaget melihat Zaid yang terduduk di sana dalam kegelapan. Ya, lampu utama di ruang tamu sudah dipadamkan.
"Astaga, Zaid. Kamu bikin aku kaget."
Erina memegangi dadanya lantaran merasakan kekagetan melihat Zaid yang duduk di sofa ruang tamu. Nyaris saja Erina berteriak, rupanya suaminya yang ada di sana.
"Apa bekerja sampai semalam ini Rin?"
Zaid memperhatikan Erina yang baru pulang hampir tengah malam. Sungguh, Zaid merasa bahwa Erina yang pulang menjelang tengah malam rasanya keterlaluan. Tadi, Raka bertanya-tanya kapan Mamanya pulang. Rupanya jam 23.00 lewat, Erina baru tiba di rumah.