
Sebesarnya Zaid sudah berkecil hati ketika melihat Erina keluar dari butiknya bersama Erick. Bahkan pria itu menaruh kotak bekal yang dibawakan oleh Mamanya ke samping kursi kemudi. Zaid menghela nafas kasar dan mengusap wajahnya. Dia merasakan dilema, haruskah menyerah sekarang atau dia menguatkan dirinya sendiri dan menemui Erina sekarang.
Jika menyerah sekarang dia laksana panglima perang yang memilih kembali ke benteng pertahanan tanpa membawa kemenangan. Namun, perasaannya mengatakan bahwa sebenarnya Zaid masih menyimpan perasaan untuk Erina. Walau mungkin saja perasaan itu tidak akan terbalas.
Tidak ingin menyangkali perasaan di dalam hati, Zaid merapikan rambutnya sesaat, dan kemudian turun mobil. Dia mengambil kotak bekal itu. Dengan penuh percaya diri, Zaid pun berjalan menuju ke arah Erina.
Menyadari kedatangan Zaid, Erina pun tampak bingung. Sebab, sekarang di hadapannya sedang ada Erick. Arah pandangan mata Erina pun tampak tidak fokus terkadang merespons Erick, terkadang menatap Zaid yang berjalan ke arahnya.
"Erin," sapa Zaid begitu jarak pria itu hanya beberapa meter dari Erina.
Sontak saja, Erick menoleh ke belakang. Mencari arah sumber suara yang memanggil nama Erina. Menyadari kedatangan Zaid, Erick merasa terusik di sana.
"Zai," balas Erina dengan suara lirih.
Erick pun membalik posisinya, dan sekarang desainer muda yang memiliki paras campuran Inggris itu, berdiri di sisi Erina dan menatap tajam kepada Zaid.
"Untuk apa loe ke mari?" tanya Erick.
Sebenarnya Erick dan Zaid sudah beberapa kali bertemu. Bukan kala Erick mengantarkan Erina ke taman kala Raka menginginkan jalan-jalan di taman. Selalu saja, ketika keduanya bertemu, atmosfer menjadi panas dengan sendirinya.
"Kenapa, gue suaminya Erin," balas Zaid.
Sengaja Zaid menekankan kata suami, agar mempertegas hubungan di antara dirinya dan juga Erina. Dia datang dengan posisi yang lebih tinggi yaitu sebagai suaminya. Bukan hanya sebagai pria yang menanti penuh harap tanpa ada kepastian.
Erick pun menatap wajah Erina yang menunduk di sisinya. "Benar Rin, dia suami kamu? Bukankah kalian sudah bercerai?" tanya Erick lagi.
Zaid pun tersenyum di sana. "Oh, jadi ... Erin belum memberitahu kamu yang terjadi yah? Wah, bukannya kamu adalah pria yang selalu berada di sisi Erin, kenapa sampai tidak tahu kabar terkini, Rick?" tanya Zaid.
"Erick, aku bisa jelaskan semua ... sebenarnya ...."
Namun, ucapan Erina itu terjeda, karena ada Zaid yang sudah memberikan jawaban kepada Erick. "Kami rujuk, Rick."
Erick benar-benar tidak mengerti kenapa bisa Erina memilih rujuk dengan Zaid. Bahkan Erina pun tidak memberitahunya perihal rujuknya itu. Padahal ini adalah masalah yang besar untuk Erick.
"Benar Erin?" tanya Erick lagi.
Erina pun akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, benar, Rick," balasnya.
Di sana Zaid sedikit tersenyum kecil di sudut bibirnya. "Apa kamu mengganggumu, Rin? Aku hanya ingin mengantarkan masakan kesukaanmu dari Mama," ucapnya.
Tangan Zaid terulur dan menyerahkan kotak bekal itu. "Untuk kamu," ucapnya.
Erina juga mengulurkan tangannya dan menerima kotak bekal itu dari tangan Zaid. "Makasih," jawabnya singkat.
Sementara wajah Erick tampak begitu masam. Kenapa bisa Erina tidak menceritakan kepadanya perihal rujuknya Erina dengan suaminya lagi. Itu bahkan belum habis masa iddahnya, dan berarti sekarang mereka sudah menjadi suami dan istri lagi.
Zaid mengamati pandangan Erina dan Erick yang ada di hadapannya. Kemudian, Zaid pun lebih memilih untuk mengundurkan diri.
"Baiklah Rin ... aku pamit untuk menjemput putra kita. Ku tunggu di rumah nanti sore. Bye," pamitnya.
Sementara Erick masih menatap tajam Zaid yang berjalan mulai pergi dari depan butik milik Erina dan rekannya itu. Beberapa kali Erick masih menggelengkan kepalanya. Dia pikir, dia sudah menjadi pria yang selalu ada di sisi Erina, mengetahui semua kisah Erina. Akan tetapi, sekarang ... untuk perkara rujuk, Erick benar-benar tidak tahu dan Erina pun seakan menyembunyikan semuanya darinya.