Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Sebatas Menatap Punggung


Setelah hampir dua bulan berlalu, malam ini menjadi malam pertama untuk Zaid bisa kembali satu kamar dengan seorang wanita, dan itu adalah wanita yang sama, Erina. Ya, setelah hampir dua bulan menduda, kini ada Erina yang berada satu kamar denganya, walau beda ranjang.


Jujur saja rasanya aneh. Zaid yang semula merasa kantuk, tiba-tiba kantuk itu hilang dengan sendirinya. Lantas, dia mengubah posisi berbaringnya, dia menatap pada punggung Erina yang berjarak beberapa meter darinya.


"Setelah hampir dua bulan, ada kamu lagi yang menghuni kamar ini, Rin ... aku tenang. Walau sejujurnya aku melakukan semuanya untuk Raka, tapi aku sebenarnya masih mencintaimu, Rin."


Sebatas gumaman dalam hati yang sudah pasti tidak akan pernah terdengar oleh Erina di sana. Zaid menatap punggung yang tenang, sesekali bergerak karena memang Erina tampaknya memang belum tidur juga. Namun, Zaid enggan bersuara. Cukup menatap punggung wanita yang baru saja diajaknya untuk kembali rujuk itu. Angan pun melambung teringat dengan memori pernikahannya beberapa tahun yang lain.


***


Kurang lebih beberapa tahun yang lalu ....


Ketika Erina tengah hamil muda, dan Zaid harus pergi ke Bali untuk membuka cabang kafe barunya. Kala itu Zaid berpamitan dengan Erina, dan berjanji akan segera pulang ketika urusannya selesai.


"Sayang, aku berangkat ke Bali dulu yah. Hanya tiga hari kok ... kamu mau dioleh-olehin apa? Nanti aku belikan. Pie Susu, Pia Legong? Semua yang kamu mau akan aku berikan," ucap Zaid.


Akan tetapi, Erina menggelengkan kepalanya, dan kemudian justru menangis. Ya, wanita hamil itu menitikkan air matanya.


"Jangan pergi Mas ... aku pengennya kamu ada di rumah," balas Erina.


Mungkin juga dengan gejolak hormon kehamilan yang membuat Erina enggan untuk ditinggal Zaid dalam perjalanan bisnisnya. Zaid tampak memeluk istrinya itu. "Kenapa, kan memang hanya launching kafe saja, cuma tiga hari. Kalau kondisi boleh terbang sudah pasti, aku akan mengajakmu ke Bali. Kasihan babynya. Sabar yah ... cuma tiga hari. Setelah ini, aku ada di Jakarta selama satu bulan. Full sebulan buat kamu," jelas Zaid.


Akan tetapi, Erina justru terus menangis dan seakan tidak ingin ditinggal Zaid pergi. Baginya dia ingin terus dekat dengan suaminya itu selama kehamilannya.


"Gak bisa gak datang yah?" tanyanya.


"Tidak bisa dong Sayang ... kan kenalan juga sama pegawai baru di sana," balas Zaid.


"Aku gak mau ditinggal," balas Erina dengan menyeka air matanya.


Zaid tersenyum. "Sini, peluk dulu ... nanti kalau sudah selesai, aku buruan pulang. Sabar yah, pekerjaan suaminya memang seperti ini. Kan aku pergi juga buat kerja, bukan yang aneh-aneh. Biar bisa beliin kamu sebongkah berlian," balas Zaid dengan setengah bercanda.


"Pasti Sayang ... Bumilnya yang manja atau babynya yang manja sih," balas Zaid.


"Dua-duanya," sahut Erina.


Zaid tersenyum, beberapa kali pria itu mendaratkan kecupan di kening Erina. Sebenarnya Zaid juga merasa sedih harus meninggalkan Erina, tetapi bagaimana lagi jika memang tuntutan pekerjaan. Toh, selama ini Zaid berpikir juga bekerja untuk mensejahterakan istri dan calon anaknya.


Akhirnya dengan berat hati, Zaid berangkat menuju ke Pulau Dewata dan juga Zaid berjanji dalam hati bahwa dia akan segera kembali ke Jakarta untuk bisa bertemu lagi dengan Erina.


Akhirnya, Zaid berada di Bali hanya dua hari saja. Pria itu merasa semua sudah selesai, hingga Zaid mengambil penerbangan terakhir dari Bali menuju ke Jakarta dan tujuannya adalah untuk bertemu dengan Erina.


Kurang lebih jam 23.40 pesawat baru terbang dari Bandara Ngurah Rai, dan akan tiba di Jakarta kurang lebih jam 00.40 Waktu Indonesia Barat. Akan tetapi, semuanya itu ditempuh Zaid asalkan bisa bertemu dengan Erina.


Sudah lebih dari tengah malam, dan Zaid begitu tiba di dalam kamarnya, merasa kasihan melihat Erina tidur dengan meringkuk dan menatap punggung sang istri. Tidak ingin menyebabkan berisik, Zaid memilih mandi di kamar sebelah. Setelahnya, dia baru kembali ke dalam kamarnya.


Dengan hati-hati Zaid menaiki ranjangnya, dan segera mendekap tubuh Erina. Lega dan tenang sekali rasanya bisa kembali mendekap Erina. Membiarkan punggung wanitanya menempel, bersandar dengan dadanya, dan Zaid beberapa kali mencium pipi istrinya yang masih terlelap itu.


***


Sekarang ....


Terkesiap, Zaid tersenyum sendirian mengingat indahnya kenangan dulu bersama Erina. Ketika rumah tangganya masih hangat. Hingga mereka memilih bercerai, dan sekarang mereka telah rujuk.


Namun, dua raga berbaring di dua ranjang. Hati agaknya memang masih terasa gersang. Terutama untuk Erina. Namun, Zaid setidaknya merasa senang dan bersyukur karena Raka bisa lebih cepat pulih dan secara emosi serta mental akan lebih tenang.


"Dulu, ketika kamu memunggungiku, aku akan beringsut maju dan kemudian mendekapmu erat. Sekarang jaraknya lebih jauh, Erin ... dua ranjang, walau rujuk telah terucap."


Zaid kemudian mencoba memejamkan matanya. Berharap esok hari akan lebih baik, dan juga berharap dua ranjang dalam satu kamar ini tidak akan diketahui oleh Raka. Bagaimana pun ini adalah rahasia antara dia dan Erina. Jika Raka sampai tahu sudah pasti putranya itu akan kembali memiliki seribu tanya.