Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Perdebatan Tengah Malam


"Apakah bekerja sampai harus jam segini?"


Suara dengan tipe bariton yang khas membuat Erina terperanjat. Sebab, sebelumnya Erina pikir semua orang telah tertidur, termasuk Zaid. Rupanya suaminya itu masih terjaga dan menunggu di sofa ruang tamu. Suasana rumah yang gelap, sepi, dan kemudian ada suara manusia, tentu saja membuat Erina terperanjat.


"Ya ampun, Zaid ... kamu ngagetin aku aja sih," jawab Erina dengan memegangi dadanya yang sekarang terasa berdebar-debar.


"Apakah bekerja memang harus sampai selarut ini?" tanya Zaid lagi.


Erina menghela nafas panjang dan kemudian menatap kepada Zaid. "Bukan urusanmu, Zai ... kan kita sudah sama-sama berjanji tidak akan ikut campur urusan masing-masing. Jadi, jangan bertanya kepadaku," balas Erina.


"Bukannya aku ikut campur, Rin ... tapi Raka menunggumu. Sejak sore dia menunggumu," balas Zaid yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Ketika Zaid mengucap tentang Raka, tampak Erina menggelengkan kepalanya perlahan. Apakah memang Raka hanya menjadi alasan utama untuk mengekangnya. Erina begitu kesal dengan Zaid sekarang ini.


"Kamu tidak sedang menggunakan Raka, putra kita untuk menjeratku kan Zai?" tanya Erina.


Dengan cepat Zaid menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak menggunakan Raka sebagai jerat atau perangkap. Akan tetapi, aku mencoba berbagi pengasuhan denganmu, Erin. Ada putramu yang menunggu dengan cemas, berharap sebelum dia tidur malam ada Mamanya yang akan mengucapkan selamat malam kepadanya," balas Zaid.


Kali ini Zaid juga tidak mengada-ada. Sebab, tadi Raka memang bertanya kapan Mamanya akan pulang. Seingat Raka ketika pagi tadi, Erina akan pulang malam. Malam yang dipikirkan Raka adalah sebelum dirinya tidur. Rupanya, justru Mamanya pulang nyaris tengah malam.


Tadi, Raka pun sempat bertanya-tanya kepada Papanya itu. "Papa, ini sudah jam delapan malam. Kenapa Mama belum pulang ya Pa? Raka takut kalau Mama akan meninggalkan Raka lagi dan tidak pulang ke rumah kita."


Anak kecil itu kembali merasakan kecemasan dalam dirinya. Ada ketakutan jika Mamanya tidak lagi pulang. Bahkan begitu menuju ke kamarnya, Raka seolah masih mengharap bahwa Mamanya akan pulang bekerja.


"Raka cuma pengen sebelum tidur, ada ucapan selamat malam dari Mama, Pa ... ada Mama yang memeluk Raka dan juga mengecup kening Raka," ucapnya.


Mendengar semua permintaan putranya itu, membuat Zaid merasa sesak. Memang dirinya sudah rujuk dengan Raka. Akan tetapi, Mamanya sudah bekerja sekarang. Walau hanya tiga hari dalam sepekan, jika sampai setiap bekerja Erina akan pulang larut malam, tentu menjadi masalah juga untuk Raka dan Zaid.


"Dia menunggu Mamanya pulang. Dia menunggu ada Mamanya yang akan mengucapkan selamat malam dan juga memeluknya sebelum tidur. Namun, keinginan anak kita tidak terwujud," balas Zaid.


Setelah mendengarkan semua yang Zaid ucapkan, Erina kemudian menundukkan wajahnya. Dia masih berdiri di antara percaya dan tidak percaya. Benarkah itu adalah keinginan Raka.


"Untuk apa aku mengada-ada, Rin? Tidak ada untungnya untukku. Tentu di luar berbagai syarat yang kita teken bersama, kamu tahu kan bahwa kita kembali bersatu adalah untuk Raka," balas Zaid.


Ya, diluar kesepakatan dan berbagai syarat yang Erina ajukan. Zaid seolah kembali mengingatkan Erina bahwa tujuan mereka rujuk kembali adalah untuk Raka. Memastikan Raka segera pulih dan sehat dengan sempurna.


"Kamu tidak perlu selalu mengingatkanku dengan alasan utama rujuknya kita berdua, Zai," balas Erina.


"Kalau memang kamu tidak mau diingatkan tidak masalah, Rin ... tapi, tolong pikirkan Raka juga. Jikalau memang pulang malam, tolong pulanglah sebelum dia tidur malam," balas Zaid.


Usai mengatakan semuanya, Zaid memilih berlalu dari ruang tamu. Pria itu kemudian menaiki anak tangga, menuju ke dalam kamarnya. Setidaknya Zaid merasa lega karena bisa mengutarakan unek-unek di hatinya. Dia tidak berniat ikut campur. Toh, Zaid juga tidak menanyai kenapa Erina sampai pulang larut malam, kemana dia pergi, hingga apa yang dia lakukan. Zaid benar-benar memisahkan bagian privasi dan juga yang bisa dia masuki sebagai ranahnya.


Sementara Erina pun mendengus kesal. "Ck, kamu keterlaluan, Zai ... aku baru pulang larut malam sekali, dan kamu sudah mengomel seperti ini. Aku pun tidak percaya bahwa Raka bisa mengatakan semua itu."


Dengan rasa kesal di dada, kemudian Erina pun menaiki anak tangga dan mengekori Zaid untuk masuk ke dalam kamarnya. Setibanya di dalam kamar, Erina memilih untuk mandi dan membersihkan dirinya. Walau sudah larut malam, tapi Erina memang harus membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sementara Zaid sudah berbaring dan memunggunginya.


Ketika Erina hendak merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Tampak wanita itu menghela nafas panjang dan kemudian berbaring dengan memunggungi Zaid. Masih kesal rasanya dengan ucapan Zaid barusan.


“Rin, sudah tidur?” tanya Zaid kemudian.


“Hmm, belum. Ada apa?” sahut Erina.


“Besok Raka ingin jalan-jalan di taman dengan Mama dan Papanya. Apa kamu bisa?” tanya Zaid kemudian kepada Erina.


Tampak Erina berpikir sekarang. Kali ini benarkah keinginan Raka atau dari Zaid yang mengutarakannya. “Aku besok masih bekerja, Zai … aku usahakan akan pulang sore,” balas Erina.


“Baiklah, susul aku dan Raka di taman kota,” balas Zaid.


“Hmm, iya,” balas Erina.


Hari yang melelahkan untuk Erina. Sudah larut malam, dan sudah ada permintaan lain dari Raka. Padahal esok dirinya juga masih harus bekerja. Erina hanya bisa menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya.