
Usai bertemu dengan masalah Sara dan Belva, rupanya Erina pun bertanya kepada suaminya itu. Dalam perjalanan menuju sekolah Raka, tampak Erina bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya teman suaminya. Sebab, dia tertarik dengan pasangan suami istri yang terlihat harmonis itu.
"Itu temen dari mana sih, Mas? Kelihatannya baru sekarang aku mengenal mereka," tanya Erina.
"Mau aku jawab jujur atau gimana?" tanya Zaid kemudian.
"Jujur dong, Mas. Masak iya, mau bohongan. Kan jujur itu lebih baik," balas Erina.
Zaid dengan terus mengemudikan mobilnya, kemudian mulai memberikan jawaban kepada Erina. "Jujur, dulu ... dulu banget, aku pernah suka kepada Sara. Kami bertemu di Kopi Lab waktu kami sama-sama kursus kopi, tapi waktu itu dia sudah menikah dan tengah hamil. Begitu urusan di Kopi Lab selesai, tidak berselang lama aku bertemu dengannya di Bogor lagi. Kala itu, aku berusaha mendapatkan hatinya. Namun, sia-sia. Aku membantunya merintis bisnis. Coffee Bay, yang sekarang menjadi Franchise dan hampir ada gerainya di setiap tempat itu, aku sangat tahu sejarahnya. Namun, cinta tidak selamanya memiliki kan? Aku menyerah dan mengalah untuk pria itu, suaminya Belva Agastya seorang pengusaha rekonstruksi terbesar di kota ini," cerita Zaid dengan detail. Sangat jujur. Dia pikir, dia dan Erina sudah dewasa. Bisa menerima kejujuran masing-masing pasangan. Selain itu, toh semuanya adalah masa lalu.
"Oh, begitu ... kamu tahu Coffee Bay itu dari awal?" tanya Erina lagi.
Sebab, sekarang brand Coffee Bay adalah brand kopi dan minuman yang hits. Semua orang pasti tahu tentang Coffee Bay. Begitu juga dengan Erina, yang tahu dengan kedai kopi dan minuman itu.
"Aku dulu turut memberikan training untuk stafnya waktu pertama kali buka. Coffee Bay pertama itu di Bogor," balas Zaid lagi.
Erina menganggukkan kepalanya. "Bisa yah Mas ... sudah membantu mengembangkan bisnis, tapi cintanya ditolak oleh Sara itu?" tanya Erina yang menunjukkan wajah bingung sekarang.
"Iya, Sayang ... bahkan kamu tahu Kakakku, Anthony? Dia dulu juga menyukai Sara, bahkan pernah berusaha melecehkan Sara dulu," cerita Zaid lagi.
Erina kini tahu. Pasti saja, kakak iparnya yang bernama Anthony sekarang sudah menikah dan memiliki anak, dan kemudian putrinya sulung diberi nama Sara. Apakah itu karena sebenarnya ada rasa dengan wanita bernama Sara itu.
"Memang Sara milik suaminya. Jadi, aku mengalah saja. Suaminya yang lebih berhak. Aku pernah gagal, Yang ... menjadi sad boy pun pernah. Namun, kegagalan terbesarku dua hal, Yang," ucap Zaid lagi.
"Hmm, apa?" tanya Erina.
"Pertama, memberikanmu peluang untuk melepaskan pernikahan kita. Kedua, aku gagal menjadi seorang Papa yang baik waktu Raka kecelakaan," balas Zaid.
Ya, dua hal itu adalah pukulan terbesar untuk Zaid. Dalam waktu yang nyaris berdekatan dia kehilangan Erina, dan Raka dalam kondisi kritis. Sungguh, dua peristiwa itu memberikan pukulan sendiri untuk Zaid.
Erina mendengarkan ucapan suaminya itu. Setidaknya Erina juga ada salahnya dalam masa lalu keduanya. Erina juga pernah merasa bahwa dirinya adalah seorang Mama yang gagal ketika Raka kecelakaan. Tetap saja, peristiwa yang menimpa Raka menjadi pukulan tersendiri untuk Zaid dan Erina.
"Sudah kan, tanya-tanyanya tentang Sara? Intinya, sekarang kami hanya teman saja. Kamu juga tahu sendiri, gimana harmonis dan romantisnya dia bersama suaminya. Aku jujur belajar dari sosok Belva, kala dia dalam kondisi jatuh, dia memilih berada di rumah dan mengasuh anaknya. Aku melakukan hal yang sama. Aku ingin mengasuh Raka. Semua harta yang aku miliki tidak ada apa-apanya. Sebab, hartaku yang paling berharga adalah Raka," balas Zaid.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan Erina, Zaid pun tertawa. "Iya. Kamu bisa nebak enggak Sara itu anaknya sudah berapa?" tanya Zaid kemudian.
"Palingan baru satu," balas Erina.
"Sudah dua ... dan dia bisa berbisnis dari rumah. Coffee Bay yang menjamur menjadi bukti hebatnya dia. Dia hanya lulusan SMA, siapa sangka dia sudah memiliki 200 ratusan kedai Coffee Bay. Hebat kan?"
Zaid dengan jujur mengakui hebatnya Sara. Walau menjadi ibu rumah tangga, tapi Sara berhasil menyeimbangkan dengan bisnis. Dalam jangka waktu lima tahun, Coffee Bay memiliki gerai lebih dari 200 gerai yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
"Serius?" tanya Erina.
"Iya, dia lebih banyak berada di rumah. Sekarang, dia merintis bisnis skincare," ucap Zaid.
Kemudian Zaid memberikan berita pebisnis dan ada foto Sara di sana. Erina pun menerima handphone suaminya dan memang ada berita Sara di sana.
"SaVa Beauty Care, SBC?" tanya Erina.
"Iya," balas Zaid.
"Keren yah ...."
"Makanya, kamu ingin menggapai apa di hidupmu, gapai saja. Ingat, aku akan selalu mendukung kamu. Lakukanlah apa yang kamu suka, Sayang. Penting, rumah tangga kita selalu prioritas utama," balas Zaid.
Kemudian Erina menganggukkan kepalanya. Dia sangat bersyukur sekarang. Suaminya itu benar-benar mendukungnya. Menjadi support sistem yang luar biasa untuknya.
"Mas, tanya satu lagi yah ... sudah tidak mencintai Sara kan?" tanya Erina dengan lirih.
"Tidak ada, Sayang ... sudah sangat lama. Yang aku cintai hanya satu dan itu adalah kamu, Sayang ... Erina."
Zaid memberikan penegasan. Yang dia cintai dan selalu dia perjuangkan adalah Erina. Bersama Erina, Zaid berharap kisah cintanya bisa berjalan langgeng. Hingga akhir hayat selalu bersama.