
Zaid tengah berpikir. Dulu dia merasa melepaskan Erina karena ingin Erina bahagia dengan mencapai semua hal yang pernah Erina lupakan. Menggapai kembali mimpinya. Akan tetapi, sekarang Zaid berpikir bahwa ketika dulu dia memilih melepaskan Erina, justru Zaid yang merasakan kehilangan.
Malam ini, ketika mereka sudah berada di dalam kamar, walau berbeda ranjang. Zaid terlihat ingin mengobrol dengan istrinya itu.
"Erin, bisa berbicara sebentar?" tanya Zaid perlahan.
"Kenapa, Zai? Ingin datang ke Butik dan bertemu dengan Erick lagi?" balas Erina dengan nada ketus.
Bukan marah, tetapi Zaid menyadari Erick sendiri terusik dengan kedatangannya. Namun, apakah benar Erina sudah mulai memiliki perasaan dengan Desainer blasteran Inggris itu? Rasanya kali ini Zaid akan benar-benar berperang dan tidak ingin mengalah.
"Kayaknya aku memang harus sering-sering datang ke butik milik kamu deh, Rin. Posisi aku dan dia jelas berbeda. Aku suami kamu, Rin. Entah apa alasan sebenarnya yang terjadi, yang fakta aku suamimu dan berhak atas kamu," balas Zaid.
Berkata mengenai hak, memang Zaid sebagai seorang suami lebih berhak dengan Erina. Namun, sejak mereka rujuk, Zaid tetap menghormati batasan yang ada. Tidak mencoba untuk melanggar kesepakatan di antara keduanya.
"Hak apa Zai? Itu tidak ada di dalam kesepakatan kita," balas Erina.
Zaid tersenyum di sana. "Bagaimanapun di mata hukum dan agama, aku suamimu, Rin," balas Zaid.
Kini pria itu beringsut dan tampak mendatangi ranjang milik Erin, mengambil tempat duduk di tepian ranjang itu. Melihat Zaid yang sekarang mendekat kepadanya, membuat Erina terkesiap. Erina merasa tidak suka dengan sikap Zaid sekarang.
"Ngapain Mas? Tempat kamu di sana, bukan di sini," balas Erina dengan menunjuk tempat tidur Zaid.
"Satu ranjang dengan suami sendiri tidak masalah kan, Rin? Kalau aku meminta hakku juga bukan menjadi masalah kan? Aku sangat layak untuk mendapatkan semua dari istriku, kamu," balas Zaid dengan tegas di sana.
Erina terdiam. Dia seolah kehilangan kata-kata untuk bisa membalas Zaid. Sebenarnya yang dikatakan oleh Zaid benar. Namun, Erina tidak mau untuk melayani Zaid. Sudah ada kesepakatan di antara keduanya bahwa tidak akan ada kontak fisik di antara keduanya.
Zaid tersenyum dalam hati. Benarkah sebesar ini penolakan yang Erina berikan kepadanya. Benarkah Erina tidak menginginkannya lagi sebagai seorang suami.
Akhirnya pria itu mengatakan keseriusannya untuk mengejar Erina lagi. Mungkin dulu Zaid banyak salah dan juga melewatkan beberapa hal hingga Erina terluka. Sekarang, Zaid ingin membuktikan diri dan bisa mengejar Erina kembali.
"Apa, Zai?" tanya Erina bingung.
"Aku ingin mengejarmu lagi, Rin. Mengembalikan cintamu kepadaku. Memang rujuk kita semata-mata untuk Raka, tetapi ikatan pernikahan apa pun alasannya itu tetap sah dan sakral. Jangan mencoba menghindar, karena jelas aku adalah suamimu, Rin," ucap Zaid.
"Sudah terlambat," balas Erina.
Sekali lagi Zaid tidak menunjukkan wajah yang marah. Melainkan pria itu justru tersenyum di sana. "Terlambat karena Erick kan? Ingat Erina, selama menjadi istriku, maka kamu terikat penuh kepadaku, suamimu. Aku tidak peduli dengan Erick atau siapa pun itu. Aku mau kamu tidak berlaku yang aneh-aneh yang akhirnya melukai Raka.
"Selalu Raka menjadi alasan," balas Erina.
"Memang benar begitu adanya, Rin. Yang menjadi korban dari perceraian orang tua siapa lagi kalau bukan anak? Jadi, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga Raka," balas Zaid.
Di sana Erina terdiam. Pikirannya serasa berputar-putar. Di dalam hatinya, dia selalu menekankan bahwa sakitnya Raka, hilangnya ingatan Raka, karena perpisahannya dengan Zaid. Namun, Erina juga merasa tidak ingin sepenuhnya kembali kepada Zaid.
"Sekarang, coba katakan. Di mana letak salahku dulu, Rin? Aku akan memperbaikinya. Dalam memoriku yang masih tersimpan, aku tidak main wanita, aku tidak melakukan hal-hal yang melukai kepercayaanmu sebagai seorang istri. Kalau aku bekerja keras itu juga untuk kamu dan Raka. Tidak ada salahnya bekerja keras di usia muda, dan menikmati hidup di usia tua. Untuk pengasuhan Raka, sepulang kerja aku juga membantumu, Rin. Memandikan Raka, menyuapinya, membersihkan pup-nya, semua aku mau melakukan. Jadi, letak salahku di mana? Atau memang kamu yang sudah nyaman dengan Erick. Terlalu nyaman dengan keberadaannya sampai kamu perlahan menginginkan kebebasan dan juga suamimu."
Zaid sudah sampai pada taraf dia mengungkapkan semua isi hatinya. Tidak lagi menutupi perasaannya. Dulu dia diam dan menerima saja ketika Erina menggugatnya. Akan tetapi, sekarang Zaid serius ingin mengejar Erina kembali. Bahkan jika Erina mau membuka di mana saja letak salahnya, Zaid akan berbesar hati minta maaf dan memperbaiki sisi kelemahannya.
"Kamu terlalu nyaman dengan Erick, Rin. Itu sebenarnya letak salahnya. Seorang wanita yang sudah bersuami, hidupnya akan berbeda, Rin. Semua wanita mengalaminya, ada batasan yang kini dirasakan semua wanita. Tidak hanya kamu," balas Zaid.
Sampai di sini Erina tak bisa berkata-kata. Ucapan Zaid yang panjang lebar dan juga rasa bersalah di dalam diri Erina membuat Erina tak bisa membalas apa pun. Benarkah Erina dalam posisi terlalu nyaman dengan Erick? Jika sudah begini, apa yang akan dilakukan Zaid selanjutnya.