
Menjelang siang, barulah Raka pulang dengan Oma dan Opanya. Hari di kota Lembang justru berkabut, berhawa dingin, Raka tapi terlihat senang bisa menikmati akhir pekan di Lembang. Dia berlarian masuk ke dalam rumah untuk mencari Mama dan Papanya.
"Mama ... Papa, Raka sudah pulang," ucapnya.
"Wah, anaknya Papa sudah pulang. Tadi lihat apa saja, Nak?" tanya Zaid.
"Melihat proses daun teh itu diproses menjadi teh, Pa. Baunya harum banget deh, Pa ... rasanya seperti Teh di kafenya Papa," balas Raka.
Zaid kemudian tersenyum. "Itu karena Papa mengambil tehnya langsung dari sini, Raka. Kualitas Tehnya terjamin," balas Zaid.
Sekarang Erina mengamati suaminya itu. Rupanya tidak hanya membantu mengembangkan bisnis Bapaknya, tapi juga kebutuhan teh di kafe milik Zaid juga disuplai dari perusahaan teh milik Papanya. Rasanya, Erina sampai kehilangan kata-kata. Memang Zaid sebaik itu, sayangnya dulu Erina hanya fokus ke diri sendiri. Sampai tidak bisa melihat kebaikan Zaid.
"Oh, pantas saja rasanya sangat enak. Tadi Raka nyobain tehnya," cerita Raka.
Kemudian Zaid memberi salam kepada Papa mertuanya. Hubungan mertua dan menantu saja sangat baik. Terlihat Pak Raplan yang memeluk Zaid.
"Berbulan-bulan kamu baru ke sini, Zaid?"
"Iya, Pak. Perusahaan Bapak kan sudah stabil. Zaid seneng jadinya, tidak perlu bolak-balik Jakarta - Lembang," balasnya.
"Datang ke rumah mertua kan juga tidak apa-apa, Zai. Tidak salah," balas Pak Raplan lagi.
Zaid menganggukkan kepalanya. "Sekarang, Zaid sudah kemari, Pak. Walau hanya bisa menginap semalam. Senin nanti Raka sudah sekolah," balasnya.
Pak Raplan menganggukkan kepalanya. Memang sekarang cucunya sudah sekolah. Wajar jika tidak bisa liburan terlalu lama di Lembang. Namun, ketika anak, menantu, dan cucu datang menjadi hiburan tersendiri untuk Pak Raplan dan Bu Lia.
Siang itu dilalui dengan banyak ngobrol. Raka juga senang bermain-main. Bisa lebih dekat dengan alam, bisa bermain dengan Opa dan Omanya. Sampai malam tiba, kurang lebih jam 20.00, Raka sudah tertidur. Mungkin juga efek terlalu senang bermain hari ini.
Sementara kembali berada di dalam satu kamar dengan satu ranjang. Jujur membuat Zaid dan Erina bingung. Tambah bingung dengan udara yang menusuk di Lembang. Begitu dingin. Jika hanya sekadar berbagi selimut rasanya sangat kurang. Namun, Zaid juga tidak ingin tergesa-gesa. Lebih memilih menunggu Erina.
"Rin," panggil Zaid ketika Erina masih membaca sesuatu di dalam kamarnya.
"Ya, Mas ... ada apa?" balas Erina.
"Apa Lembang selalu sedingin ini yah?" tanya Zaid.
"Memang selalu dingin, Mas. Belum kalau hujan turun dengan tiba-tiba. Bisa lebih dingin," balas Erina.
Terlihat Erina yang memberikan jawaban pun sembari tersenyum. Selain itu juga nada bicaranya tidak lagi ketus. Sekadar mendapatkan jawaban dan sikap baik Erina saja membuat Zaid begitu bahagia.
"Kamu tidak tidur?" tanya Zaid kemudian.
"Sebentar, Mas. Lima menit lagi," balas Erina.
Lebih lucu, Zaid juga memasang guling di balik punggungnya. Membiarkan guling yang akan menjadi jarak pemisah baginya dan Erina. Hingga akhirnya, Erina menaruh tabloid yang baru dia baca, kemudian dia menaiki ranjang perlahan-lahan. Sedikit melirik, Erina sangat yakin bahwa Zaid sekarang belum tidur.
Namun, Erina sengaja mematikan lampu utama, menggantinya dengan lampu tidur. Sehingga suasana di dalam kamar itu menjadi temaram. Hingga akhirnya, Erina dengan perlahan menarik gulung itu. Ya, dia yang berinisiatif untuk menghapus jarak itu. Erina menyadari bahwa dirinya yang terlebih dahulu membuat jarak. Maka, Erina juga yang akan menghapus jarak itu. Dia kini, sudah menyingkirkan guling itu.
Di satu sisi, Zaid masih kelihatan anteng. Seolah tidak bereaksi apa pun. Hingga didorong oleh hatinya sendiri, Erina berbaring lebih dekat dengan Zaid. Ya, Erina berbaring tepat di balik punggung Zaid. Bahkan Erina membawa satu tangannya untuk melingkari pinggang Zaid, dengan mendekatkan keningnya hingga mengenai punggung Zaid.
"Mas, sudah tidur?" tanya Erina perlahan.
Tidak ada jawaban, tapi Erina bisa merasakan usapan tangan Zaid di tangannya yang sekarang melingkari perutnya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Zaid sekarang. Sebagai pria, sebagai suami dan kemudian Erina berinisiatif seperti ini tentu saja membuat Zaid sangat senang. Sementara, Erina mendekati Zaid dengan perasaan berdebar-debar. Sebenarnya Erina enggan mengambil inisiatif, tapi bagaimana dalam masalah ini Erina merasa dirinya yang banyak bersalah.
Beberapa detik setelahnya, Zaid kembali mengubah posisinya. Sekarang dia bisa berhadap-hadapan dengan Erina. Bisa memandang wajah ayu Erina. Sudah berapa lama. Zaid menjalani masa sendiri. Wajah Erina pun sebelumnya juga selalu judes. Akan tetapi, sekarang Erina tampak begitu cantik di mata Zaid.
"Hmm, kenapa Sayang?"
Zaid menggerakkan tangannya, dia membelai perlahan sisi wajah Erina. Sementara Erina tersenyum. Situasi seperti ini aneh dan canggung. Terlebih sudah berapa bulan pasca rujuk, keduanya pisah ranjang.
"Aku pikir kamu akan tidur jam segini," balas Erina.
"Terlalu dini untuk tidur," balas Zaid.
Erina tersenyum, kemudian dia menatap wajah Zaid lagi. "Tadi kamu bilang, apakah selimut saja cukup hangat untuk tidur? Jika kamu mau, kamu bisa memelukku, Mas," balasnya.
Zaid tentu sangat senang. Selain Erina yang berinisiatif, rupanya Erina seolah memberikan akses yang lain kepadanya. Zaid kemudian menelusupkan tangannya ke bawah kepala Erina, membiarkanmu Erina bertumpu di lengannya dan kemudian memeluk Erina.
Berbulan-bulan pisah ranjang dan sekarang bisa berpelukan tanpa jarak seperti ini rasanya sungguh bahagia. Ingin rasanya malam-malam Zaid terlewati dengan memeluk dan mendekap hangat Erina seperti ini.
Tidak banyak suara. Hingga terdengar rinai hujan di luar sana. Malam yang temaram disertai rinai hujan. Udara malam pun rasanya semakin dingin.
"Kalau hujan seperti ini, sekadar pelukan rasanya kurang, Sayang," ucap Zaid.
Erina sebenarnya tahu maksud suaminya. Jika Zaid seolah menahan, Erina hanya merespons dengan senyuman saja. Zaid menghela nafas panjang.
"Kalau aku tidak salah, malam pertama kita terjadi di kamarmu ini kan?" Tanya Zaid.
Erina memberi anggukan. "Benar, lima tahunan yang lalu, di dalam kamar ini."
Walau keduanya menikah karena perjodohan, tapi Erina sama sekali tidak menolak untuk memberikan dirinya bagi suaminya. Dulu pun, Erina juga sudah tahu bahwa usai menikah istri akan menjadi hak suaminya.
"Maukah kamu mengulang malam yang temaram disertai rinai hujan sama seperti lima tahun yang lalu?"
Akhirnya, Zaid menyampaikan niatnya. Entah nanti Erina akan setuju atau tidak. Yang pasti, Zaid kini ingin bisa menyatu tanpa jarak walau itu hanya selembar pakaian saja. Mengulang masa dulu indahnya malam pertama usai pernikahan mereka di dalam kamar ini.