Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Menemani ke Butik


Hari Senin kembali menyapa. Sekarang Zaid akan mengantarkan Raka ke sekolah, dan sekaligus untuk mengantarkan Erina ke butik. Tampak Zaid tersenyum cerah dan juga lebih bersemangat ketika hendak mengantarkan Raka dan Erina. Tentu, ada perasaan senang karena kali ini Zaid akan menemani Erina, walau hanya untuk beberapa jam saja.


"Pa, nanti Raka sekolahnya sampai jam 12 loh, Pa ... kan ada les bahasa Inggris," ucap Raka.


"Apa iya, Raka? Hari apa saja?" tanya Zaid.


"Hari Senin dan Selasa saja kok, Pa," balas Raka.


Zaid kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Papa jemput jam 12 yah ... untung kamu sudah memberitahu Papa, jadi nanti Papa bisa jemput jam 12," balas Zaid.


Namun, di dalam hatinya, Zaid merasa senang karena dia bisa satu jam lebih lama berasa di butik milik Erina. Menemani istrinya bekerja. Erina juga turut tersenyum.


"Mama, kok senyam-senyum?" tanya Raka kemudian.


"Mama merasa lucu saja, Papa baru tahu kalau sekarang kamu baru ada les Bahasa Inggris. Sekolah yang pinter ya, Raka," ucap Erina.


"Iya, Mama ... harus pinter. Nanti biar jadi orang sukses seperti Papa," jawabnya.


Hingga akhirnya, Zaid melajukan mobilnya. Tempat yang dia tuju unutk kali pertama adalah sekolah Raka. Setelahnya, dia menuju butik milik Erina. Erina yang hari ini masuk sendiri, karena rekannya Mela sekarang gilirannya untuk libur.


"Masuk, Mas ... mau teh atau kopi? Aku bisa buatkan?" tawar Erina sekarang kepada Zaid.


"Nanti saja ... kamu yang datang duluan? Tidak ada yang lainnya?" tanya Zaid kemudian.


"Ada sih, Mas. Mela temenku yang patungan bersama untuk membuka butik ini baru libur. Nanti ada penjualnya juga yang akan datang. Biasanya jam 09.00, mereka baru saja datang," ucap Erina.


Erina menggeleng perlahan dan tersenyum. "Aku punya ruangan kerja sih. Untuk sketsa gambar, dan ada beberapa stok merchandise di sana. Tidak luas sih, mungkin sekitaran 2,5 meter persegi lah," balas Erina.


Dengan bertanya seperti ini, Zaid sekaligus untuk mengetahui ruangan di butik milik Erina dan juga siapa saja penjual di butik itu. Setidaknya dia tahu bahwa pekerjaan Erina akan seperti apa. Sebelum jam 09.00, rupanya pegawai butik itu sudah datang. Sehingga Erina mengenalkan Zaid kepada pegawainya.


"Bu Erina sudah datang?" tanya pegawai itu.


"Iya, seperti biasa. Oh, iya ... Tina, kenalin ini suamiku," ucap Erina.


"Halo, saya pegawainya Bu Erina, Tina," ucapnya.


Zaid menjabat tangan pegawai itu dan menyebutkan namanya. "Zaid."


Tina kemudian bertanya kepada Erina. "Tumben diantar Bu Erina?" tanyanya.


"Iya, ingin menemani istrinya," balas Erina. "Oh, iya ... saya dan Pak Zaid ke ruangan saya dulu ya, Tina. Selamat bekerja."


Merasa sudah ada yang menjaga butik, Erina kemudian mengajak Zaid menuju ke lantai dua. Di sana ada ruangan milik Erina. Tempat Erina bekerja sehari-harinya.


"Silakan masuk, Mas ... ini ruanganku. Yakin tidak mau minum dulu?" tanya Erina.


"Tidak, kamu kerja saja. Aku akan duduk di sini, walau pun rasanya aku ingin ngerjain kamu malahan," ucap Zaid dengan mengedipkan satu matanya kepada Erina.


Setidaknya ada Zaid sadari dari pernikahannya dulu dengan Erina. Kurang komunikasi dan juga kurang waktu bersama. Sekarang Zaid ingin menebusnya. Sebisa mungkin, jika bisa bersama dengan Erina, itu lebih baik untuk Zaid.