
Setelah melihat kedua orang tua Mayleen keluar, Edward langsung naik ke atas ranjang.
"Aku rindu dengan mu." ucap Edward memeluk Mayleen.
"Ya..ya aku tahu. Tapi tidak bisakah kau tidak adu mulut dengan ayah?" tanya Mayleen merasakan pelukan hangat Edward.
"Tidak, ayah mu itu selalu bikin aku kesal. Kau tahu, sebenarnya aku ragu kalau dia itu ayah mu." ucap Edward.
"........" Mayleen hanya terkekeh.
"Dan jika di lihat seharusnya dia itu bukan menjadi ayah mu melainkan lebih pantas menjadi kakak mu." tambah nya lagi.
"Ya, mungkin yang kau katakan itu benar." jawab Mayleen.
"Sayang, aku sungguh sangat merindukan mu, rasanya aku kesepian saat kau pingsan selama seminggu. Aku sungguh takut, untung ada bunda yang mengatakan jika sebenarnya diri mu sedang berjuang mendapatkan sesuatu. Memang apa yang kamu lawan sampai bunda ikut membantu mu?" tanya Edward penasaran.
"Apakah benar kau tidak tahu apa yang ku lawan?" tanya Mayleen.
"Tidak, aku tidak tahu. Aku hanya bisa mendengar suara mu saja. Namun saat kau berbicara menyebut Naga, aku berfikir apakah kamu benar sedang melawan seekor Naga." ucap Edward.
"Ya, aku memang melawan seekor Naga." jawab Mayleen jujur.
"Naga!! Jadi kamu beneran melawan Naga? Kamu tidak berbohong kan?" tanya Edward
"Tidak, aku tidak berbohong." jawab Mayleen.
"Sayang, bisakah kita tidur aku sungguh sangat lelah." ajak Mayleen, karena sebenarnya memang dirinya cukup lelah. Walaupun raga nya tidak secara langsung melawan Naga. Namun masih bisa di rasakan oleh tubuh aslinya.
"Baiklah ayo kita tidur." ucap Edward.
"Apakah kau akan tidur disini?" tanya Mayleen tidak yakin.
"Kau tidak takut dengan ayah ku jika ayah tahu kau tidur dengan ku?" tanya Mayleen.
"Tentu saja aku takut dengan macan jantan itu, tapi akan ku urus besok. Biar kan aku memeluk mu malam ini." ucap Edward menarik tubuh Mayleen ke samping nya dan memeluk dengan erat.
"Sayang bukankah kau sudah berjanji jika sudah sadar kau akan memberikan ciuman untuk ku." ucap Edward.
"Benarkah? Tapi aku lupa pernah mengatakan itu." ucap Mayleen sambil berfikir.
"Tapi aku tidak lupa." ucap Edward mengukung Mayleen dan menatap nya penuh cinta.
"Kau tahu? Aku sungguh sangat gila karena mencintai mu." ucap Edward mendekatkan wajah nya dan setelah itu bibir mereka saling menyentuh.
Edward mengecup bibir ranum dengan lembut. Namun lambat laun ciuman itu menjadi sebuah lumata*n.
Mereka berdua asyik saling ******* serta menyesap. Tiba tiba suara yang tidak asing masuk ke pendengaran mereka.
"Hei, kau bajingan tengil. Jangan macam macam dengan putri ku. Jika kau berani menyentuh putri ku melewati batas, aku akan mengebiri mu agar kau tidak bisa memiliki keturunan." ucap Zhao berbicara lewat telepati.
Edward dan Mayleen yang sedang asyik berciuman langsung menghentikan nya.
"Kenapa ayah mertua selalu mengganggu ku saat aku sedang asyik. Apakah Ayah mertua tidak bisa tidak mengganggu ku, jika Ayah mertua mengganggu ku terus kapan Ayah mertua akan memiliki cucu dari kami." ucap Edward mengerjai.
"Dasar bajingan tengil, sia ayah mertua mu. Aku tidak sudi punya menantu seperti mu dan tidak butuh cucu dari mu. Jangan berani berani kau membuat ku marah." ucap Zhao.
"Ok ok, sekarang lebih baik anda tidur jangan mengganggu ku, Aku sedang ingin mencium putri mu, by....." ucap Edward tak menghiraukan lagi apa yang di oceh kan oleh calon mertua nya.