
Kini mereka berdua ada di ruang kerja Zhao.
"Katakan." ucap Tuan Hao.
"Sebenarnya aku belum menikahinya. Pasti papa sudah menyelidikinya, Jadi Zhao tidak perlu repot repot mengatakannya lagi." ucap Zhao.
"Kau benar, Apakah dia seorang Janda? informasi yang papa dapat dia tidak memiliki suami tapi dia memiliki seorang anak." ucap Tuan Hao
"Bisa di katakan seperti itu." ucap Zhao.
"Apakah tidak ada gadis sehingga kau ingin menikahi janda?." Tanya Tuan Huo.
"Apakah bermasalah jika zhao menikahi janda?, Bukankah papa tahu, Gadis sekarang semua rata rata sudah terasa janda." ucap Zhao.
"........" Tuan Hao diam dan membenarkan ucapan Zhao.
"Aku berniat menikahinya, dan aku akan menganggap anak nya juga anak ku, Zhao berharap papa merestui hubungan kami dan jangan mempersulit Xiao xia." ucap Zhao.
"Tidak janji." ucap Tuan Hao.
"Pa...." ucap Zhao.
"Papa akan melihat, jika memang dia pantas menjadi menantuku papa tidak akan menghalangi hubungan kalian." ucap Tuan Hao.
"Terimakasih Pa." ucap Zhao.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Mereka berdua keluar dan kembali berkumpul dengan Xiao xia, Nifeng, dan Ken.
Mata Tuan Hao menatap satu orang yang belum pernah ia lihat, dia adalah Mayleen.
"Apakah dia putri wanita mu?" tanya Tuan Hao berbisik.
"Benar Pa." ucap Zhao.
"Kenapa kau tidak memilih Anak nya saja yang masih muda." ucap Tuan Hao.
"Bukankah Xiao xia juga masih terlihat sangat muda." ucap Zhao.
"Em..Tapi papa sangat bingung bukan kah umurnya sudah hampir 40 tahun, tapi kenapa dia seperti anak kuliahan." ucap Tuan Hao.
Zhao tidak menanggapi ucapan Tuan Zhao, ia hanya tersenyum kecil. zhao memandang wajah cantik istrinya. Sungguh ia saat ini ingin membawa xiao xia masuk kedalam kamar dan mengukung nya.
...Xiao xia....
Berbeda dengan Mayleen yang bingung melihat orang asing yang terus memperhatikan dirinya.
"Bun siapa laki laki tua itu?." Tanya Mayleen berbisik.
"Dia Kakek mu." ucap xiao xia.
"Berarti May masih memiliki kakek?" tanya Mayleen.
"Em..." jawab xiao xia.
Waktu yang menunjukkan untuk makan malam, kini semuanya sudah duduk di meja makan yang tersedia banyak makanan di atas meja.
Xiao xia mengambilkan makanan di piring Zhao. Setelah selesai xiao xia ingin mengambilkan makanan untuk Tuan Hao. Tuan Hao yang menyadari langsung menyerahkan piringnya agar xiao xia mengambilkan makanan untuknya.
Tuan Hao tidak berniat pulang ke Mansion nya, Ia berniat akan menginap di rumah Zhao, Entah kenapa rasanya Tuan Hao ingin berkumpul dengan mereka
...Mayleen...
Setelah selesai acara makan malam nya xiao xia dan lainnya duduk di ruang keluarga untuk bersantai. Sedangkan Zhao duduk memangku laptop nya mengerjakan tugas kantor yang belum selesai.
Mayleen terus menatap Tuan Hao yang duduk tak jauh darinya. Mengetahui dirinya di tatap terus oleh gadis remaja itu, Tuan Hao mendongak melihat ke arah Mayleen.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?." tanya Tuan Hao.
"Ah...he..he..tidak, Hanya cuman ingin bertanya sedikit saja, hanya sedikit." ucap Mayleen
"Apa?" tanya Tuan Hao.
Xiao xia dan Zhao beralih melihat mereka berdua.
"Apakah benar anda kakek saya?." tanya Mayleen
"Bukan." ucap tuan Hao.
"Ah...bukan ya, Tapi kata bunda anda kakek saya." ucap Mayleen.
"Bunda mu saja yang berharap." ucap Tuan Hao.
"Benarkah begitu, Tapi memang kenyataan nya seperti itu sih, sama seperti ku berharap anda menjadi kakek ku he..." ucap Mayleen cengengesan.
Xiao xia dan Mayleen sama sekali tidak merasa sakit dengan ucapan Tuan Hao, karena kedua wanita memiliki hati baja akan selalu kokoh dengan fikirannya.
"Tapi aku berharap anda menjadi kakek ku." ucap Mayleen kekeh.
"Jangan berharap karena nanti jika kau jatuh akan terasa sakit." ucap Tuan Hao.
"Ya jelas sakit kek, nama nya juga jatuh. Tapi kalau jatuh nya di kasur may suka karena itu empuk dan tidak akan sakit." ucap Mayleen.
"........" Tuan Hao memijit pelipisnya tanda ia pusing meladeni Mayleen.
Tuan Hao berdiri dan ingin istirahat di kamar nya saja.
"Apakah perlu saya antar pa." ucap xiao xia
"Tidak..Dan jangan panggil aku papa, kau belum resmi menjadi menantu ku." ucap Tuan Hao.
"Kalau begitu aku akan menyuruh Zhao cepat cepat menikahi ku agar saya bisa memanggil anda dengan sebutan Papa." ucap Xiao xia.
Sungguh kepala Tuan Hao rasanya ingin meledak meladeni dua wanit itu. Ia tidak menghiraukan Mayleen maupun Xiao xia, dengan berjalan cepat Tuan Hao pergi ke kamarnya.
Sedangkan Mayleen dan Xiao xia yang melihat Tuan Hao pergi langsung tertawa karena telah membuat Tuan Hao pusing.
Sedangkan Zhao hanya menggeleng gelengkan tingkah kedua wanita yang di sayang nya.
Selamat membaca
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.