
Mayleen bengong dan diam dan masih setia mendongak melihat ke atas..
Setelah ia sadar apa yang ada di depan nya, Mayleen berteriak sekencang kencang nya kala mendapat hembusan nafas dari naga itu.
Aaaaaaa................Mayleen berteriak sekencang kencang nya karena takut, baru pertama kali melihat hewan sebesar ini.
Naga yang ada di depan Mayleen yang mendengar jeritan nya kaget dan menggoyang kan tubuhnya hingga air yang ada di danau itu bergoyang dan meluap di daratan.
"Hei gadis rendahan, tidak bisakah kau berteriak lebih kecil. Kau membuat telinga ku sakit." ucap Naga
Mayleen yang mendengar suara menggelegar langsung diam, mencari asal suara. Melihat Mayleen yang sepertinya mencari sesuatu. Naga itu menghela nafas.
"Gadis kecil rendahan, akulah yang berbicara dengan mu." ucap naga.
Mayleen yang mendengar bahwa naga itu yang berbicara mendongak ke atas setelah itu ia berteriak kembali.
Aaaaaaa..........Dan setelah itu Mayleen pingsan di tempat.
Naga yang melihat Mayleen pingsan bingung.
"Kenapa dengan nya? Huh...aku tidak peduli. Tapi kenapa ada manusia rendahan datang kesini?" ucap Naga
Lama naga menunggu Mayleen yang pingsan, akhirnya Mayleen sadar.
"Uuh...kepala ku sakit dan pusing sekali." Mayleen mengoyangkan kepala nya kemanan dan kekiri agar pusing nya hilang. " Kenapa aku bermimpi semengerikan itu, bisa bisa nya aku bermimpi bertemu dengan naga besar yang buruk rupa, sungguh sial sekali." gumam Mayleen.
Mayleen tidak menyadari gumaman nya di dengar naga yang saat ini ada di belakang nya.
Naga itu mendengus kesal karena Mayleen mengatai nya naga buruk rupa.
"Dasar gadis kecil rendahan, bisa bisanya dia mengatakan aku buruk rupa." batin Naga.
"Apakah menurut mu aku ini buruk rupa gadis rendahan?" ucap Naga berbicara di belakang tubuh Mayleen.
Mayleen yang mendengar serta merasakan nafas di punggung nya langsung tubuh nya membeku.
Gleeek......
"Sial, apakah tadi aku tidak bermimpi?" ucap Mayleen dalam hati.
Deg.....
Mayleen tepat berada di depan kepala naga itu. Mata Naga itu sangat besar bergerak gerak menatap Mayleen. Sungguh Mayleen saat ini sudah berkeringat dingin melihat pemandangan ini.
"Semoga hanya mimpi....semoga hanya mimpi." ucap Mayleen dalam hati sambil memejamkan matanya.
Sedangkan di luar.
Xiao Xia dan Edward membawa tubuh Mayleen ke tempat yang lebih nyaman. Edward menyandarkan tubuh Mayleen di bawah pohon.
"Bunda apa yang terjadi kepada Mayleen?" tanya Edward.
"Entah lah, kita tunggu saja hingga Mayleen sadar." ucap Xiao Xia.
Sebenarnya Xiao Xia juga tidak bisa masuk ke dalam kesadaran Mayleen sehingga ia tidak tahu apa yang sebenarnya nya di lakukan oleh Mayleen. Xiao Xia hanya bisa merasakan aura naga di dalam tubuh putri nya. Ia berharap semoga Mayleen dapat mengatasinya dan berharap keberuntungan berpihak pada Mayleen.
Berbeda di kastil raja Ramon.
Suara bergemuruh yang semula menggetarkan kota, kini tiba tiba menjadi tenang. Dan berganti dengan suara bayi bayi yang menangis kencang di tempat altar persembahan.
Mungkin mereka semua merasakan firasat buruk sehingga mereka menangis kencang.
Peti yang berisikan tubuh pangeran pertama raja Ramon tiba tiba keluar sebuah asap hitam dan menyebar di atas tepat nya di atas para bayi bayi itu.
Bayi bayi itu semakin menangis kencang kala bahaya yang mengintai diri nya, hingga asap hitam yang berada di atas turun dan melahap bayi bayi itu dengan rakus hingga hanya menyisihkan tulang.
Para penjaga yang melihat bayi itu mati dan hanya menyisakan tulang menelan ludah nya dengan kasar.
Gleeek.....
Setelah asap hitam itu berhasil menelan 100 bayi. Asap asap itu kembali ke tubuh pangeran pertama. Raja Ramon menyipitkan mata nya melihat ke arah peti.
"Kenapa, apakah masih kurang sehingga tidak ada pergerakan." ucap raja Ramon dalam hati.
Sedangkan pangeran Luis yang melihat kejadian tadi berkeringat, karena melihat asap yang bisa menelan tubuh bayi bayi itu dengan mudah. Fikiran pangeran Luis berkelana, Mungkinkah kakak nya ini sangat sangat lah kuat.
Tiba tiba sebuah tangan keluar dan memegang pinggiran peti. Setelah itu munculah seorang pemuda gagah yang diam memandang ke bawah. Mungkin saat ini pemuda itu masih menyesuaikan tubuh dan fikiran nya karena baru bangkit dari tidur panjang nya