Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Brangkas Besi


Happy Reading 🌹🌹


"Itu tanggal lahirku." Ucap Bintang dan Putri bersamaan.


Mereka berempat saling menatap, "Apakah ini sebuah kode?" Ucap Sky memecah keheningan.


"Apa mungkin Kakek menyimpan brangkasnya di suatu tempat?" Tanya Bintang dengan melihat ke arah Putri dan Sky secara bergantian.


Keduanya menaikkan bahunya ke atas, karena Putri juga baru bertemu dengan kedua orang tuanya. Apalagi Sky yang tidak pernah dekat dengan Kakek Gunawan semasa hidupnya.


"Aku akan bangunkan Mama dan Papa dulu jika begitu." Ucap Bintang yang mulai berdiri dari duduknya.


"Tidak perlu, kita akan mencarinya sendiri di dalam kamar Kakek Gunawan. Siapa tau beliau menyimpan brangkasnya di sana." Usul Sky dengan mantap.


Semua orang mengangguk setuju, Bintang di bantu oleh Putri untuk berdiri. Entah kenapa kehamilan Bintang sangat cepat membuat perutnya besar sehingga cukup sulit membuat wanita muda itu beraktivitas.


Sky memasukkan kunci kamar Kakek Gunawan dan membukanya dengan perlahan.


Sky mencari saklar lampu agar dapat menerangi ruangan tersebut, sedangkan Gabriel menuju jendela kamar untuk membuka tirai agar ada cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela tersebut.


Seperti biasa, Bintang hanya duduk dan mengamati semua orang yang sedang mencari brangkas.


Sesekali dia mengusap perutnya yang mulai membuatnya sesak untuk duduk berlama-lama.


Terlihat Sky meraba-raba dinding pada kamar Kakek Gunawan.


Terdengar suara berdecit, ternyata tembok di samping meja kerja Kakek Gunawan ada sebuah pintu rahasia.


"Ketemu!" Seru Sky sehingga membuat tiga orang yang lainnya segera mendekat ke arahnya.


"Ini ruangan apa Sayang?" Tanya Putri dengan sedikit bergidik ngeri.


"Tidak tahu sayang, Briel coba kamu nyalakan senter." Ucap Sky dengan tenang.


Gabriel segera menyalakan senter Hp begitupun dengan Putri, Sky kembali mendorong dinding tersebut dengan cukup kuat.


Mungkin karena sudah lama tidak di gunakan, sehingga membuat dinding tersebut sedikit macet.


Gabriel segera melangkah masuk, memastikan semuanya aman dan mencoba mencari sumber penerangan selain lampu senter.


Sky mengikuti langkah Gabriel, dan Putri secara tidak sadar menggandeng tangan suaminya dengan begitu erat.


Putri mengedarkan pencahayaan yang dia miliki ke seluruh ruangan rahasia tersebut.


"Wah, ini seperti di film-film. Amazing." Ucap Putri berdecak kagum.


Dulu ketika di panti asuhan masih memiliki televisi, Putri pernah menonton film yang ada ruangan rahasianya.


"Apa kamu senang?" Tanya Sky dengan menengok ke arah istrinya.


Putri mengangguk cepat, kini dia berjalan sesuai nalurinya.


Gabriel akhirnya menemukan saklar lampu ruangan tersebut, terlihat sebuah brangkas besi berada di sana.


Sedangkan kini Bintang tengah keluar kamar Kakek Gunawan, terlihat para orang tua sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Bintang, kamu dari mana saja? Dimana yang lainnya?" Tanya Bulan yang tengah memegang secangkir teh.


"Emm, anu Mah. Kami tadi pergi ke kamar Kakek Gunawan." Jawab Bintang dengan takut-takut.


"Lalu, kenapa lukisannya tidak di kembalikan?" Ucap Bulan menatap heran ke arah Bintang.


"Apa!" Seru yang lainnya secara bersamaan.


"Ayo segera kita mengeceknya," Ajak Doni kepada yang lain.


Segera kaum pria berjalan lebih dahulu ke kamar Kakek Gunawan.


Sedangkan Lila mendekati Bintang, "Kamu disini saja ya sama tante, biar Mamamu menemani Papamu." Jawab Lila lembut.


Bintang mengangguk dia juga tidak betah di ruangan yang pengap itu.


"Kalau begitu, Mama tinggal dulu dengan Tante Ambarsari ya Nak. Aku menitipkan anakku sebentar ya jeng." Ucap Bulan pada keduanya.


Terlihat gerombolan Doni memasuki kamar pribadi Kakek Gunawan.


Mereka coba masuk ke dalam tembok yang dimana ruang rahasia itu di temukan.


Terlihat Sky dan Gabriel tengah berusaha mengeluarkan brangkas besi dari sudut ruangan.


"Bagaimana Sky, apakah berhasil?" Tanya Doni tidak sabaran.


"Susah sekali Pah, bisa bantu Sky dan Briel. Kotak besi ini sangat berat." Keluh Sky dengan dada naik turun karena lelah.


Seluruh orang membantu untuk mengeluarkan kotak besi tersebut, entah berapa jam lamanya mereka berada diruangan itu.


Terlihan Bulan, Ambar dan Putri sudah bolak-balik masuk untuk mengantarkan minuman es juga snack.


"Akhirnya!!!" Seru Zidan.


Dia berseru dengan kencang, karena dia sangat kesal kenapa membalas dendam harus menjalani semua ini.


"Ayo segera kita bawa keluar ruangan ini, aku sudah tidak tahan." Ucap Rudi dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


Semua orang setuju kecuali Zidan, dia menjatuhkan diri di lantai. Seluruh persendian dan juga stok tenaganya untuk satu bulan sudah dia kerahkan semuanya.


...**...


Terlihat kotak besi usang yang tengah berada di ruang tamu.


Putri dan Bintang mencoba membuka sandi pada brangkas tersebut, sudah puluhan kali di coba tetapi nihin.


"Kenapa tidak bisa, padahal jelas-jelas nomornya adalah tanggal lahirku." Keluh Bintang yang sudah lelah mencoba.


"Sama, apa Kakek mengerjai kita." Ucap Putri lesu.


"Kita istirahat dulu, brangkas ini akan di taruh di ruang kerja Papa." Ucap Doni dengan mengelus kepala Putri.


Sky yang melihatnya mendelik kesal, "Ayo sayang kita ke kamar." Ucap Sky tanpa permisi menyingkirkan tangan Doni dan menggendong Putri.


"Lihat anakmu Mah," Ucap Agung pada istrinya.


"Itu anakmu juga." Jawab Ambar mendelik kesal ke arah suaminya.


Mamanya Sky aku panggil Ambar saja ya gais, terlalu panjang namanya, kadang autor juga lupa namanya Ambarwati atau Ambarsari... wkwkwk


...**...


Mampir ke novel teman autor yaa.