Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Edisi Dave dan Rose : Melepaskanmu dengan Senyuman


Happy Reading 🌹🌹


"Jadi... apakah kamu mau melayaniku?" Ucap Dave yang masih menatap wajah gadis di depannya dengan intens.


Rose hanya bergeming, dia meremat lutut yang berbalut celana jeans itu.


"Apa kau tidak bisa? Maka kita akhiri hubungan ini Rose." Ucap Dave untuk melihat apakah Rose masih memperjuangkan dirinya.


Sebulir air mata jatuh dari oelupuk mata gadis itu, bibirnya seakan kelu untuk menjawab.


"Kenapa lama sekali sayang." Panggil seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Kedua kelopak mata Rose melebar dia menatap intens wanita yang berbalut gaun tipis nanti sexy itu.


Rose menatap Dave dan wanita itu secara bergantian, sedangkan kedua insan itu hanya acuh dengan keberadaan Rose.


"Dia siapa sayang?" Tanya wanita itu yang sudah duduk di pangkuan Dave dengan tangan melingkar di lehernya.


"Bagaimana Rose, apakah masih ingin kamu teruskan? Hubungan wanita dan pria dewasa memang seperti ini." Dave tidak menjawab melainkan bertanya kepada Rose lagi.


"Apa kamu memandang wanita serendah ini?" Ucap Rose yang menatap tajam ke arah Dave.


Dave yang mendapatkan tatapan Rose membuat sesuatu dalam dirinya tidak nyaman, tapi apa itu? Dave juga tidak tahu.


"Apa dia gadis yang mengejar-ngejarmu Dave?" Tanya wanita itu dengan suara sensual.


"Ya," Jawab Dave singkat dengan masih menatap lekat Rose.


"Gadis kecil, lebih baik kamu pulang saja. Kamu tidak cocok menjalin hubungan dengan pria dewasa. Pria dewasa membutuhkan kepuasan batin bukan berjalan-jalan ke pasar malam," Ucap wanita itu dengan nada mengejek.


"Akan aku ajari bagaimana hubungan pria dan wanita dewasa Rose." Timpal Dave.


Dave segera menyesap bibir wanita yang ada di depannya dengan ganas, tangannya sudah tidak terkondisikan.


Lengu*han keluar dari bibir wanita itu karena Dave sudah bermain di leher dan gunung kembar yang sedikit menybul diluar.


Bagaimana dengan Rose?


Tatapan yang setiap hari penuh cinta dan penuh damba, terhempas tergantikan penuh kebencian. Kebencian yang belum pernah Rose berikan terhadap siapapun.


Dave dan wanita itu semakin memanas, hingga akhirnya Rose berdiri dan berteriak "Stop!! cukup!!"


Dave dan wanita itu berhenti dan melihat ke arah Rose, terlihat gadis itu kacau.


Rose menghirup udara yang seakan racun bagi tubuhnya di ruangan itu, "Cukup Kak Dave, aku bukan wanita ja*lang seperti dia. Cukup Kak Dave menginjak-injak harga diriku! Tidak semua hubungan pria dan wanita dewasa selalu berhubungan badan tanpa ikatan, sungguh picik pikiran kalian." Ucap Rose dengan bibir dan nada gemetar.


"Baiklah ini adalah akhir perjuanganku untukmu Kak. Aku tidak pernah menyesal karena aku tahu jika kamu bukan pria yang di takdirkan untukku. Aku dan kamu bagai syair tidak berirama, selamat tinggal. Aku melepaskanmu dengan senyuman." Akhir kata yang keluar dari mulut Rose.


Rose mengambil tasnya dan berlari menuju pintu, langkahnya terhenti karena seorang pria bediri tegak menjulang di depan pintu itu.


Tangis Rose akhirnya pecah, Rose secara impulsif memeluk Gabriel yang berada di depannya.


Sedangkan Gabriel menatap tajam ke arah Dave, keduanya saling adu pandang Dave merasa marah karena gadis itu melepaskannya begitu saja dan memeluk pria lain di depannya.


Dave mendorong wanita yang ada di pangkuannya secara kasar dan berjalan mendekat kearah Rose.


Secara implusid Dave memegang lengan Rose dan menariknya secara paksa karena dia tidak suka Rose menyentuh pria lain.


Rose menghempaskan tangan Dave dengan kasar dan menukul tubuh Dave "Kenapa!!Kenapa ini semua tidak sesuai dengan harapanku? Kenapa!! Aku sudah bekerja keras. Kenapa aku harus melewati ini semua, enyahlah! Apa salahku? Apa salahku? " Ucap Rose dengan air mata keluar deras dan memukul dada bidang Dave.


Deg.


Hati Dave begitu sakit, kenapa ucapan Rose dan tangisannya begitu menyakitkan. Apakah Dave begitu dalam menyakiti cinta Rose untuknya.


Dave diam dia menerima pukulan demi pukulan yang seakan mengisyaratkan kesedihan Rose itu.


"Berhenti, cukup kamu menangisi pria seperti Dave. Ayo kita pulang." Ucap Gabriel yang tatapannya tertuju pada Dave.


Dave mengepalkan kedua tangannya erat, dia tidak suka kekasihnya bukan mantan kekasihnya di peluk pria lain.


"Lepaskan." Ucap Dave dingin.


Briel hanya tersenyum miring, "Apakah Dave kekasihmi Rose?" Tanya Briel pelan.


Rose menatap Dave dengan perasaan yang hancur berkeping-keping "Bukan, aku sudah melepaskannya sebelum keluar dari kamar laknat ini." Ucap Rose mantap meskipun air mata masih terus keluar.


"Kau.. " Dave seakan tidak terima.


"Cukup Dave! Rose sudah membuangmu bukan Rose yang di buang."


Segera Briel membalik tubuh Rose dan menciumnya di depan Dave, membuat Dave dan Rose melebarkan kedua kelopak mata mereka.


"Aku akan menghilangkan setiap bekas Dave dari tubuhmu." Ucap Briel dengan menatap teduh gadis di depannya.


Rose seakan gamang, dia sebenarnya sedang berada di dunia pararel apa? Baru saja melihat pria yang dia cintai bermain gila dengan wanita lain, tapi... pria kanebo itu, ah.. sungguh gila.


Dave mendorong Briel dan memukul pipinya hingga membuat Briel tersungkur, Briel hanya meringis dan tersenyum smirk.


Briel bangkit dan memukul Dave, hingga terjadi perkelahian yang tidak terelakka.


"Stop!" Rose berteriak.


Rose berlari ke arah Briel, terlihat kedua pria itu sudah kacau karena banyak luka yang menghiasi wajahnya.


Dave dengan nafas terengah-engah merasa sedih karena Rose lebih menolong Gabriel daripada dirinya.


"Ayo kak, kita pergi dari sini." Ucap Rose dengan wajah sebabnya.


Briel mengangguk, Briel melingkarkan tangannya di pundak Rose karena Rose memapah Gabriel.


"Shi**t!!" Dave menendang angin setelah kepergian Gabriel dan Rose.


"Sudahlah sayang, untuk apa memperebutkan gadis ingusan itu." Wanita yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


Dave merogoh saku celananya san berjalan mendekat ke wanita bayaran itu, "Ini bayaranmu" Ucap Dave dengan menaruh selembar cek di atas nakas.


"Tapi, kita belum bermain." Rengen wanita tersebut.


"Aku tidak bernafsu dengan tubuhmu itu, diamlah dan terima saja uang dariku." Kemudian Dave berlaku dari kamar tersebut.


"Arg**h, si*al. Aku harus mendapatkan Dave karena dia tambang emas, siapa gadis itu. Sungguh bukan levelku." Ucap wanita bayaran tersebut.


Kini Rose tengah mengobati luka di wajah Gabriel, setelah keluar dari hotel. Rose melajukan mobil Gabriel menuju apotik.


Rose meniup pelan wajah Gabriel yang telah di beri dia salep agar lukanya cepat kering. Gabriel melihat gerak gerik Rose dalam diam.


Begitu telaten gadis yang ada di depannya itu, "Jangan banyak-banyak lukaku hanya sedikit." Ucap Briel yang masih menatap lekat wajah Rose.


"Diamlah Kak, jika tidak di obati dengan cepat nanti akan meninggalkan bekas." Jawab Rose tanpa melihat ke arah mata Gabriel.


Gabriel hanya pasrah tetapi perasaannya sangat senang, dia seperti anak kecil yang tengah di obati oleh ibunya.


"Kenapa yang berhubungan dengan gadis ini, aku selalu menjadi seperti anak kecil. Ck, sangat menyebalkan." Umpat Briel dalam hati.


"Selesai." Seru Rose dengan riang.


...**...