
Happy Reading 🌹🌹
Saat ini Putri dan Sky sudah berada di kediaman Wiratama.
Ternyata mertuanya Agung dan Ambarsari datang untung menjenguk Bintang, sudah hampir satu bulan lamanya mereka pergi keluar negri.
"Bagaimana kabar Ayah dan Mama?" Tanya Putri setelah memeluk kedua mertuanya secara bergantian.
"Baik nak, bagaimana kabarmu. Apa sudah ada kabar baik tentang keberadaan cucu kami?" Tanya Ambarsari dengan mengelus peru rata Putri.
Putri hanya berkedip dengan cepat, dia bingung harus beralasan apa. Karena selama ini dirinya tidak pernah disentuh oleh Sky kecuali ciuman terakhir mereka di meja makan tempo lalu.
"Mama, kami masih ingin bersenang-senang. Iyakan sayang?" Ucap Sky yang kini merangkul pundak Putri.
Dengan gerakan kaku, Putri menganggukkan kepalanya cepat.
"Iya Mah," Jawabnya gugup.
"Kalian bisa lanjutkan bersenang-senangnya setelah memiliki anak, nanti biar Mama dan Ayah yang merawat anak kalian." Ucap Ambarsari dengan memandang keduanya penuh harap.
"Iya Mah, doakan ya Mah. Agar Putri dapat segera memberi Mama cucu." Jawab Putri yang kini menundukkan kepalanya karena malu.
Sky hanya melirik, terlihat telinga Putri yang memerah. Dalam hati Sky tertawa melihat Putri yang tengah menahan malu atau dia sedang membayangkan yang enak-enak.
**
Terlihat Intan tengah tersenyum bahagia, dia mendapatkan salah satu pemegang sahan di perusahaan Wiratama.
Segera dirinya menghubungi nomor tersebut, cukup lama pembicaraan yang terkesan alot dan penuh perdebatan.
Hingga akhirnya, pemegang saham itu setuju untuk membantu Intan melengserkan Doni dari kursi kebesarannya.
Tentu saja dengan syarat yang langsung disetujui oleh Intan dengan mudahnya.
"Kamu akan hancur Doni." Gumam Intan dengan menggenggam erat Hpnya.
**
Sedangkan Grace, karena kehamilannya dia lebih banyak berada di apartemen miliknya.
Sesekali dia pergi keluar untuk menemui pria yang tengah menghamilinya, dengan perasaan marah ketika dia dinyatakan hamil oleh dokter kandungan.
Terlebih, pria tersebut tidak ingin bertanggung jawab karena dia sudah memiliki istri dan tidak ingin menceraikannya.
Karena kecerobohan yang dibuat Grace sendiri, menghasilkan benih yang tidak berdosa didalam rahimnya.
Grace terus memutar otaknya, dia tidak ingin menghidupi anak seorang diri dan hidup dalam kemiskinan.
Sehingga dia memberanikan diri mendatangi Sky dan mengaku jika dirinya tengah menganduk anak hasil hubungan badan mereka.
"Kemana Sky sebenarnya, kenapa nomornya tidak bisa di hubungi. Apalagi dia sudah tidak satu rumah dengan orangtuanya."
"Aku bisa gila jika Sky tidak bisa aku tipu."
"Ayo, Grace berfikirlah."
"Apa aku harus datang kerumah orangtuanya? Tidak... tidak... Ayahnya pasti akan membunuhku."
Grace menjentikkan jari seakan mendapatkan tamparan hidayah, "Aku harus menemui gadis kampungan itu, dan memintanya untuk bercerai. Kamu pintar sekali Grace." Ucaonya membanggakan dirinya sendiri.
Tanpa Grace sadari, ada sebuah penyedap yang telah di pasang pada tasnya. Karena mata-mata yang di utus oleh Gabriel berhasil meletakkan penyadapnya.
Sedangkan seorang pria yang tengah bersandar di mejanya, hanya tersenyum sinis. Dia mendapatkan jacpot.
Dia adalah Gabriel, yang tengah bersantai karena Sky tidak datang ke kantor untuk menemani Putri menemui orangtuanya.
Gabriel tinggal memainkan drama yang apik untuk dia susun, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Bahkan eksekusi nyawa Grace, sudah di pikiran oleh Sky. Tinggal wanita itu memilih untuk mengantarkan nyawanya dengan cara yang mana.
**
Kembali di kediaman Wiratama.
Putri tengah menemani Bintang di dalam kamarnya.
"Apa kamu tidak menginginkan sesuatu?" Tanya Putri kepada Bintang.
"Tidak," Jawabnya singkat.
"Apa kamu tidak mengalami yang namanya ngidam, begitu?" Tanya Putri lagi.
"Tidak," Jawabnya lagi.
"Ishh, kamu itu sedang hamil atau tidak. Kenapa tidak mengalami ngidam." Jawab Putri kesal.
"Ya! Aku tentu saja hamil, lihat perutku sudah mulai membuncit." Seru Bintang tidak terima.
"Mungkin Ayah bayiku yang ngidam." Jawab Bintang asal.
"Aa... ya tentu bisa jadi. Aku harap dia saja yang menderita." Jawab Putri penuh dendam.
Bintang mencincingkan matanya kearah Putri, "Kenapa kamu yang marah, kan yang di hamili olehnya aku." Ucap Bintang.
"Memangnya tidak boleh, karena kamu adalah saudaraku tentu saja aku marah." Jawab Putri dengan malas.
"Ck, sudahlah sana pergi. Aku ingin tidur." Ucap Bintang yang kini kembali merebahkan badannya.
"Kamu mengusirku?" Tanya Putri dengan menunjuk kearahnya.
"Iya." Jawab Bintang acuh.
"Baiklah, istirahatlah. Selamat tidur ponakan aunty." Ucap Putri dengan menirukan suara bayi.
Bintang yang mendengarkan terkekeh, tetapi airmatanya berkata lain.
Begitu sesak perasaan di dalam dadanya, seharusnya saat ini dia bermanja-manja dengan pria itu.
Seharusnya saat ini, dia lebih banyak mendapatkan perhatian dari pria itu.
Bintang segera mengusap air matanya dengan kasar, "Tidak boleh menangis, lupakan dia Bintang. Lupakan." Ucap Bintang dengan nada bergetar.
Putri yang belum sepenuhnya menutup pintu kamar Bintang, mendengarkannya hingga hanya suara isakan kecil.
Sakit, tentu saja. Siapa yang tidak sakit jika saudara kita di sakiti oleh orang lain, meskipun tidak satu darah.
**
Hari sudah berganti malam.
Dokter keluarga sudah selesai memeriksa keadaan Bintang, jarum infus sudah dilepas dari punggung tangannya.
Saat ini mereka sudah berkumpul di meja makan, untuk makan malam.
Hanya suara dentingan sendok dan pembicaraan ringan yang menemani makan malam hari ini.
Berbeda dengan seorang wanita yang sudah bersiap dengan berdandan glanor dan sexy.
Dengan langkah tegap, dia keluar dari kontrakan dan masuk kedalam mobil untuk menuju kesebuah hotel mewah.
Tanpa wanita itu sadari, dia tengah di ikuti oleh mata-mata utusan dari keluarga Gandratama.
Cukup lama orang tersebut memantau Intan, hingga pada akhirnya muncullah sosok pria dengan tubuh gempal, pendek untuk ukuran laki-laki, dan kepalanya botak licin.
Dengan kekuatan handphone canggih, mata-mata tersebut mengambil gambar sebanyak dan sejelas mungkin memperlihaktan wajah keduanya.
Segera dirinya mengirikam fotonya kepada Gabriel. Orang tersebut terus mengikuti kedua pasang insan manusia berbeda lawan jenis hingga kelantai yang mereka tuju.
Gabriel yang mendapatkan sebuah oesan segera membukanya, netranya membulat. Segera dia mencocokkan dengan sesuatu.
"Menarik," Ucapnya dengan wajah meremehkan dan sinis.
Gabriel segera mengirimkan gambar yang dia dapat kepada kedua asisten yang tengah bekerjasama untuk menjebloskan wanita tersebut ke dalam penjara.
Tanpa ca ci cu ce co, rencana mereka sudah tersusun rapi. Entah kekuatan supranatural apa yang di gunakan para asisten andalan bosnya tersebut.
**
Sedangkan di dalam kamar tersebut, tengah terjadi transaksi yang sudah di setujui oleh Intan dan pria tersebut.
Bagaikan singan kehausan dari gurun sahara, pria tersebut menerjang tubuh Intan dengan ganasnya.
Intan yang mendapat serangan awalnya menolak, tetapi karena permainan singa tidak berambut tersebut membuatnya melayang hingga menembus lantai tertinggi di hotel mewah itu.
Sedangkan di luar kamar mereka, tengah seseorang bergidik ngeri. Bagaimana para orangtua itu yang tengah bertarung menggapai puncak kenikmatan.
Tetapi dia harus tahan, karena dia gagal menempelkan alat penyadap. Sehingga harus melakukannya secara manual menggunakan alat seperti stetoskop.
...**...
...MUMPUNG BELUM PUASA BISA DI BAYANGIN...
...YA ALLAH AMPUNI AUTOR INI...
...AUTOR NULISNYA JAM 02.22 MALAM...
...**...
PROMOSI NOVEL, MONGGO MAMPIR.