
...Jangan lupa, like, komen, rate dan hadiahnya....
Happy Reading 🌹🌹
Kini Putri telah sampai di depan perusahaan suaminya, yaitu perusahaan Gandratama.
Dia melangkah masuk dengan gugup, karena selama ini belum ada yang mengetahui tentang status pernikahan mereka.
Putri sudah berdiri di depan resepsionis, "Permisi mbak, saya ingin bertemu dengan Tuan Sky." Ucap Putri sopan.
Resepsionis tersebut memindai penampilan gadis yang ada di depannya, jelas tidak menggambarkan wanita karir karena mengenakan kaos ala anak muda.
"Maaf dek, disini bukan untuk mencari sugar daddy. Lebih baik kamu pergi." Usir resepsionis tersebut.
Putri membelalakkan matanya kaget, apa dia di pandang serendah itu di mata orang lain.
"Saya ada keperluan penting dengan Tuan Sky mbak, bisa telfon asistennya Tuan Gabriel." Jawab Putri setenang mungkin.
"Cih, dasar jaman anak sekarang. Jika ingin bergaya tidak perlu bekerja serendah itu, Tuan Sky dan Tuan Gabriel tidak ada waktu untuk menemui gadis sepertimu." Ucap resepsionis dengan kasar.
Putri mengepalkan tangannya matanya sudah memerah, baru saja ingin berkata datanglah resepsionis yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut.
Resepsionis yang pernah muncul di bab sebelumnya.
"Loh, Putri. Cari siapa?" Tanyanya dengan ramah.
"Eh, mbak saya mau ketemu Tuan Sky dan Tuan Gabriel." Jawab Putri tidak kalah ramah.
"Sudah ada janji belum Put?" Tanyanya lagi.
"Ck, usir saja. Tidak mungkin petinggi perusahaan ini memiliki urusan dengan gadis ingusan seperti dia." Potong resepsionis satunya.
Putri menghidup udara dalam-dalam, ingin sekali dia memberi pelajaran tetapi dia harus menjaga nama baiknya juga suami.
"Belum mbak. Bisa tolong telfonkan saja, bilang saja Putri menunggu di bawah." Jawab Putri dengan tersenyum, dia tidak menanggapi ucapan resepsionis yang satunya.
"Sebentar ya Put, kamu duduk dulu saja disana." Ucap sang resepsionis yang lama.
Putri mengangguk dan melempar senyum kearahnya. Berbeda dengan tamoang resepsionis yang baru, wajah sinis dan sadis.
Putri menunggu cukup lama, hingga dia bertemu dengan Neni. Teman seprofesinya dulu ketika menjadi OB.
"Putri." Panggil Neni.
"Mbak Neni," Putri segera berdiri dan memeluknya.
"Ya ampun Put, kamu keluar tidak berpamitan kepadaku. Sekarang kamu semakin cantik kerja dimana sekarang?" Tanya Neni tanpa di jeda.
Putri terkekeh geli, "Mbak satu-satu tanyanya, aku sekarang meneruskan sekolah mbak." Jawab Putri lembut.
"Wah, mbak ikut seneng Put. Semoga kamu menjadi orang sukses dan tidak susah cari kerjaan." Ucap Neni penuh haru.
"Iya mbak," Jawab Putri tersenyum.
"Kamu kesini ada perlu apa Put? Apa mau magang?" Tanya Neni penasaran.
"Eh... emm iya mbak." Jawab Putri kikuk.
Cukup lama Putri menunggu dengan berbincang dengan Neni, tetapi Sky maupun Gabriel belum muncul.
Terlihat sepatu pantofel hak tinggi menendang ember berisi air pel.
"Heh! Kerja, buka malah ngobrol. Dan kamu gadis kecil lebih baik pergi dari sini tuan Sky dan Gabriel tidak akan menemui benalu sepertimu." Ucap resepsionis sadis itu.
"Maaf nona, apakah anda tidak di ajari etika." Jawab Putri dengan berani.
"Tentu saja aku di ajari etika, lihat nyatanya aku dapat bekerja di perusahaan besar ini. Lihat kalian, satunya kelas rendah sebagai OB dan kamu aku yakin hanya ingin menawarkan tubuhmu ke Tuan Sky." Jawab resepsionis tersebut sinis.
Putri segera berdiri dan menamoar reseosionis tersebut di muka umum.
"Beraninya!" Seru resepsionis tersebut balik menampar Putri tidak kalah kerasnya.
Putri tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah resepsionis itu, "Kau bilang beretika? Sunggu perusahaan Gandratama yang buta memiliki karyawan grade E sepertimu!" Ujar Putri tajam.
"Putri sudah, jangan sampai kamu tidak jadi magang di sini karena aku." Ucap Neni mencoba melerai mereka.
"Ck, pemandangan yang cocok. Sama-sama gadis miskin yang mencoba merangkak di kasur CEO." Jawab resepsionis pedas.
"Kau!" Putri segera maju dan menjambak rambut resepsionis tersebut.
Sunggu dia tidak terima harga dirinya di injak-injak oleh orang lain, terlebih yang tidak memiliki peran di perjalanan hidupnya.
Aksi mereka saling mengumpat dan menjambak tidak luput dari karyawan yang memvideo aksi mereka.
Sedangkan kini Sky dan Gabriel tengah berlari menuju loby kantor mereka.
Resepsionis yang kenal Putri segera naik ke lantai dimana terdapat ruangan CEO, karena dia tahu Putri gadis yang baik. Mungkin memang ada keperluan penting.
Dengan nafas yang ngos-ngosan Sky membelah kerumunan di lantai satu.
"BERHENTI!!" Suara bariton menggelegar di lantai satu tersebut.
"LEPASKAN TANGANMU DARI ISTRIKU!!" Seru Sky dengan menatap tajam dan emosi melihat kondisi istrinya.
Shock. Satu kata yang tergambarkan oleh seluruh karyawan di lantai satu, begitu pula dengan Neni sampai menjatuhkan alat pel-nya.
Sang resepsionis yang jahat kaget bukan main, dia langsung melepaskan jambakannya dan membungkuk sembilan puluh derajat kepada Putri.
Sky mendekat kearah Putri dan meneliti keadaannya.
Wajah, leher ada beberapa bekas cakaran dan juga rambut yang acak-acakan.
"Briel, pecat dia." Hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulut Sky.
"Tuan, mohon maafkan saya. Saya tidak sengaja." Ucap sang resepsionis yang sudah berlutut di depan Sky.
"Tidak sengaja. Apa matamu buta kamu sudah melukai wajah istriku. Aku pastikan kamu tidak akan di terima kerja perusahaan manapun." Segera Sky membopong Putri dan menuju lift untuk ke ruangannya.
"Sayang turunkan aku, aku malu." Ucap Putri lirih.
"Apa itu sakit?" Tanya Sky yang melihat luka cakaran di wajah Putri.
"Sedikit," Cicit Putri dengan menundukkan kepalanya.
Terasa perih dan panas akibat pergulatannya tadi. Putri pikir jika Sky akan memarahinya karena membuat gaduh di perusahaannya.
Sedangkan kini Gabriel dengan wajah tegas dan dingin menatap keraha sekeliling.
"Segera hapus video mauoun foto yang kalian ambil, pura-pura saja kalian tidak melihatnya tadi. Dan kamu OB segera datang ke HRD untuk menggantikan posisi dia sekarang." Tunjuk Gabriel pada resepsionis yang sudah di pecat.
"A... aku tuan?" Tunjuk Neni pada dirinya.
"Apa telingamu tuli." Jawab Gabriel dingin.
Neni segera mengangguk, dan membawa pergi peralatannya menuju ruang HRD.
Kini tinggal dua resepsionis yang berada di lantai satu, karena para karyawan membubarkan diri. Mereka tidak ingin terkena imbasnya.
"Kamu, kamu pegawai baru di sini. Jangan berlagak sok kuasa, ingat ayahmu hanya memiliki jabatan kecil jadi tidak terlalu banyak berulah. Segera kemasi barangmu dan oergi dari sini, perusahaan tidak memberimu pesangon." Ucap Gabriel tajam dan melenggang pergi menuju ruangan CEO.
Resepsionis tersebut menangis dengan terduduk, sungguh dia tidak menyangka jika gadis tersebut adalah istri dari bosnya.
...**...