
...Mohon maaf teman-teman jika 2 bab sebelumnya alurnya melenceng 😬 autor menulis tanpa outline, jadi pas anget2nya diotak autor langsung autor tulis....
...Sudah autor revisi ya, bisa kalian baca ulang lagi. Terima kasih kalian sudah mengingatkan autor yang kadang suka oleng 😅...
...Jangan lupa tekan tombol likenya, komentar, dan sedikit hadiah untuk autor 😀...
Happy Reading 🌹🌹
Putri dan Rose tersentak kaget karena gebrakan meja yang kuat. Siapa lagi jika bukan Bintang yang melakukannya.
Bintang akan membuat kehidupan Putri dikampus ini seperti neraka baginya.
Putri melihat keberadaan Bintang melebarkan matanya, bagaimana bisa Bintang nerada disini. Apa mereka satu kampus? Putri berkelana dengan pikirannya sendiri.
"Heh, gadis kampung! Kenapa kamu bisa berada disini!" Seru Bintang yang menyita perhatian mahasiswa lainnya.
"Aku berkuliah disini, lalu kamu kenapa disini?" Jawab Putri yang mencoba biasa saja meskipun jantungnya sudah berdetak seperti disko.
Tawa Bintang pecah mendengar jawaban dari Putri, "Uang darimana kamu agar dapat bersekolah disini? Oh, aku ingat. Kamu kerja diclub malam, pasti kamu menjual tubuhmu ke om-om untuk menjadi orang kaya ya?" Jawab Bintang dengan senyum mengejek.
Bintang memang tidak mengatakan perihal tsntang Sky, karena seantero kampus sudah tahu perihal perjodohannya yang gagal.
Bintang tidak mau diejek karena kalah dengan hadis yang tengah dia labrak ini.
Mata Rose membola, bahkan tangannya menutup mulutnya. Banyak mahasiswa yang sudah kasak-kusuk dibelakang Putri.
Putri hanya dapat meremas ujung bajunya, dan mengigit bibir dalam agar tidak menangis.
"Kampus ini tidak cocok untuk gadis sepertimu! Ingat pekerjaanmu jika pagi hari jadi OB, jika malam hari jadi wanita panggilan. Sebelum membuat dirimu malu, lebih baik kamu segera angkat kaki dari kampus ini." Jawab Bintang semakin menginjak harga diri Putri.
Putri menatap tajam kearah Bintang, seketika dia langsung berdiri di hadapan Bintang. "Ya, memang pekerjaanku hanya OB dan wanita malam. Lalu, apa itu merugikanmu?" Jawab Putri datar terkesan dingin.
Bintang geram karena gadis itu ternyata berani menjawab ucapannya "Tentu saja sangat merugikan aku bahkan bama baik universitas, kami membayar mahal dan belajar dengan tekun agar dapat masuk kesini. Tetapi karena wanita sepertimu, seperti sia-sia usaha kami." Jawab Bintang dengan senyum miring.
Rose hanya melihat dan mendengarkan perdebatan mereka berdua, Rose tidak tahu apapun tentang kehidupan Putri.
Banyak mahasiswa yang menyoraki dirinya, bahkan banyak yang memberikan ucapan pedas. Segera Putri berjalan meninggalkan kantin, beruntung hari ini sudah tidak ada jam kuliah lagi.
Rose yang melihat kepergian Putri, segera berlari menyusulnya. Dia benar-benar ingin tahu tentangnya dan berharap dapat menjadi teman yang dapat diandalkan.
Sedangkan dari kejauhan, terlihat Dave menatap tajam kearah Bintang. Dave sungguh ingin tahu pembicaraan apa yang tengah mereka lakukan sehingga membuat Putri pergi dengan menangis.
Segera Dave berjalan keparkiran untuk mengambil mobil dan menyusul gadis pujaan hatinya.
...**...
"Putri, tunggu!!" Seru seorang gadis yang terlihat ngos-ngosan mengejar langkah Putri.
Putri berhenti dan membalikkan padannya, terlihat Rose yang susah payah mengejarnya. Bahkan keringat terlihat jelas membanjiri pelipisnya.
Hoshh... hoshh... hoshh...
"Putri, kenapa larimu cepat sekali. Ah, aku lelah! " Ucap Rose yang langsung dirinya duduk di bahu jalan.
"Ke... kenapa kamu mengikutiku?" Tanya Putri dengan mencengkram kuat tasnya.
Rose mendongakkan kepalanya melihat wajah teman barunya, mata merah, hidung merah. Sudah dipastikan jika tadi dia berlari sambil menangis.
"Tentu saja aku mengikutimu, jika kamu diculik bagaimana? Apa yang akan aku katakan kepada keluargamu." Jawab Rose asal karena dia lelah untuk berdebat dengan Putri.
"A... aku anak yatim piatu." Jawab Putri dengan menundukkan kepalanya.
Rose kaget dengan ucapan Putri, segera dirinya berdiri dan memeluk teman barunya tersebut.
Rose menepuk-nepuk punggung Putri, seakan menyalurkan kekuatan. "Tidak apa-apa, mulai hari ini aku akan menjadi keluargamu." Jawab Rose yang masih memeluk Putri.
Putri semakin terisak dalam pelukan Rose, pelukan seorang teman yang belum pernah dia dapatkan. Kecuali dari teman masa kecilnya, yang entah sekarang dimana.
"Dulu kan? Sekarang tidak lagi?" Tanya Rose.
Putri menganggukkan kepalanya, semenjak dirinya menikah dia memang hanya dirumah dan tidak bekerja lagi.
"Yasudah, untuk apa dipikirkan masalalumu. Sekarang kamu harus membuktikan jika kamu akan menjadi sosok yang lebih baik lagi." Ucap Rose yang kini sudah melepas pelukannya.
Lagi-lagi, Putri hanya mengangguk.
"Sudah ayo kita pergi, sunggu wajahmu sangat jelek sekali." Ucap Rose dengan tertawa.
Putri mencebikkan bibirnya, sedetik kemudian dia ikut tertawa. Dia sangat bahagia bisa memiliki teman sesama perempuan.
Suara klakson membuyarkan tawa dua gadis tersebut.
"Ayo masuk." Ucap Dave yang membuka kaca mobilnya.
Rose sangat kegirangan, dia seperti mendapatkan jacpot.
"Tidak Pak, terima kasih tawarannya." Jawab Putri cepat.
Rose segera menoleh dan merapatkanntubuhnya kearah Putri seraya berbisik, "Kenapa kamu menolaknya?" Ucap Rose.
"Sstt.. dia itu dosen, tidak sopan." Jawab Putri cepat.
"Ayo cepat masuk, atau kalian akan aku beri nilai E!" Ancam Dave pada Putri.
Segera Putri membuka pintu mobil menyeret Rose untuk segera masuk dan mereka duduk tenang dibelakang.
Segera Dave menjalankan mobilnya, ingin sekali Dave menyuruh Putri untuk duduk didepan. Tetapi saat ini ada orang lain.
"Apa kalian sudah makan?" Tanya Dave yang masih fokus menyetir.
"Sudah."
"Belum."
Jawab Rose dan Putri bersamaan. Mereka langsung saling menoleh, Rose menatap Putri dengan penuh harapan.
Putri hanya menghela nafasnya pelan, "Belum Pak, apa Pak Dave ingin makan siang bersama kami?" Tanya Putri dengan melirik kearah Rose.
"Boleh, jika kamu memaksa." Ucap Dave datar tetapi dalam hatinya bersorak senang.
Putri terperangah dengan jawaban Dave, seakan-akan dia yang memaksanya untuk ikut.
Mobil Dave telah sampai didepan restoran yang mewah, sudah dipastikan pasti sangat mahal harga makanannya.
"Tunggu Pak! Bisakah kita pindah tempat makan?" Tanya Putri gugup.
"Ada apa Put?" Tanya Rose heran.
"Emm.. anu.. "
Belum selesai Putri menyelesaikan ucapannya, Dave sudah memotongnya terlebuh dahulu.
"Saya yang akan mentraktir kalian, sudah ayo. Aku sudah sangat lapar." Jawab Dave yang segera turun dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Putri.
...**...
...PROMO NOVEL...
Siapakah yang pernah menyangka, berbaik hati menolong orang hanyut di sungai malah berujung petaka? Jaleka Rasmin, wanita cantik nan miskin karena kesalah pahaman terpaksa menikah dengan Aska Gilang Irfan, anak orang kaya yang meninggalkannya setelah malam pertama. Belum lagi ia terpaksa harus berjuang sendirian melahirkan bayi tanpa didampingi suami. Anehnya, pria itu terus menafkahinya setiap bulan. Setelah ayahnya yang tuna rungu meninggal dunia, ia mencari pria itu dan tinggal bersamanya. Janji manis dan ucapan kasarnya, membuat mereka akhirnya bercerai. Perkenalannya kemudian dengan pria Jepang kaya raya yang takut menikah akibat trauma masa lalunya, Kenzo Wiraguna, malah membuahkan bunga-bunga cinta diantara mereka. Namun mantan suaminya datang dan berniat kembali dengan menyatakan cinta padanya. Akankah ia kembali dengan mantan suaminya, ataukah pria baru yang menawarinya cinta?