
...Readers jangan lupa tekan like dan komen....
...Kasih rating bintang 5 juga ya....
...Bantu autor agar dapat berkembang di platform noveltoon ini....
Happy Reading 🌹🌹
Waktu terus berlalu.
Ketika berada di kediaman Wiratama, Sky mendapatkan panggilan dari sekertarisnya Gabriel.
Nampak Gabriel ingin berbicara serius, sehingga Sky harus keluar dari dalam mansion Wiratama.
Gabriel melaporkan rencana Grace dan Intan secara rinci, dia juga mengirimkan rekaman suara milik Grace.
Sky mengepalkan sebelah tangannya yang tidak memegang HP, tidak ada dia biarkan wanita murahannn itu menghancurkan pernikahannya.
"Segera susun rencana dengan matang, kita akan melihat sejauh mana mereka bermain-main." Ucap Sky dengan nada dingin.
Sky memantapkan perasaannya jika memang benar dia sudah jatuh cinta dengan istrinya, jadi dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Hanya milikku, sampai mati Putri hanya milikku." Monolog Sky di dalam hatinya.
Sore hari, setelah mereka melakukan makan malam lebih awal. Terlihat Sky dan Putri tengah duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
Sky tengah mengeluarkan surat perjanjian pernikahan mereka, setelah sekian jam dia mencari keseluruh penjuru rumah.
Putri menatap nanar kertas itu, "Apakah ini akhir dari rumah tanggaku." Gumamnya didalam hati.
"Put," Ucap Sky sembari mengguncang bahunya.
Putri tersentak dari lamunannya, "Eh, iya." Jawab Putri gugup.
"Kamu tidak apa-apakan?" Tanya Sky dengan nada khawatir tetapi ekspresinya datar.
"Tidak," Jawab Putri cepat.
"Put... aku ingin menjalani rumah tangga dengan baik dan benar. Apakah kamu ingin menjalani rumah tangga denganku seperti pasangan normal yang lainnya." Ucap Sky dengan serius.
Putri menatap lurus ke arah wajah Sky, "Apa kamu yakin? Apa kamu sudah mencintaiku?" Tanya Putri menuntut.
"Apakah itu penting?" Tanya Sky dengan membalas tatapan Putri.
Hati Putri berdenyut nyeri, bagaimana bisa pria dihadapannya mempertanyakan penting dan tidaknya kata cinta.
"Tentu saja penting bagiku, karena jika tidak ada cinta dalam mahligai rumah tangga. Tidak akan bisa bertahan lama." Jawab Putri dengan menyunggingkan senyum sinis.
"Apa keberadaanku disisimu tidak cukup?" Tanya Sky kembali.
"Makhsudmu, kamu menjeratku dengan status pernikahan tetapi kau akan bermain gila di luar sana. Jangan mimpi." Jawab Putri tajam.
"Apa kamu cemburu?" Tanya Sky tanpa menjawab ucapan Putri.
"Tidak, untuk apa aku cemburu dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku." Jawab Putri dengan menekan perasaannya.
Sky yang tidak suka mendengarkan ucapan Putri, secara arogant dia mencium bibir istrinya.
Putri memberontak karena dia tidak ingin disentuh oleh pria yang tidak mencintainya.
Tetap saja, tegana Sky lebih besar daripada Putri. Sky memperdalam ciumannya dia menahan tengkuk istrinya.
Posisi Putri kini sudah terbaring di sofa, dengan Sky berada di atasnya.
Putri hanya pasrah dan mengikuti permainan Sky, hanya suara kecapan yang terdengan diruangan tersebut.
Sky tersenyum ternyata Putri sudah mengikuti permainannya.
Sky menempelkan keningnya ke kening Putri setelah melepaskan ciuman mereka, hingga hanya deru nafas yang terdengar. Terlihat dada keduanya naik turun setelah aktivitas tersebut.
"Tapi, kamu tidak cinta kepadaku." Jawab Putri dengan bibir bergetar.
Sky melihatnya, dalam hati tersenyum senang ternyata. intanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Apa kamu tidak pernah melihat perjuanganku selama ini, bagiku tidak perlu banyak mengucapkan kata cinta. Tetapi aku membuktikannya dengan perbuatan." Jawab Sky dengan lembut.
Sudut mata Putri meneteskan air matanya, seakan otaknya tengah memutar sebuah film. Dimana Sky selalu ada untuk dirinya bahkan meskipun pria yang ada di atasnya tersebut berkata tidak, tetapi dia akan melakukannya.
"Jangan menangis, hem. Apa bisa mulai sekarang kita mencoba menjalani rumah tangga seperti pasangan normal pada umumnya?" Tanya Sky yang membelai wajah Putri.
"Ya," Jawab Putri dengan suara serak.
"Baiklah, mulai sekarang kamu harus membiasakan memanggilku dengan kata sayang. Karena kamu diam, berarti kamu setuju." Jawab Sky dengan arogant.
Bagaimana bisa menjawab, jika pria menyebalkan itu tidak memberikan kesempatan untuk menjawab.
Sebelum Sky bangun dan duduk dengan benar, dia mengecup bibir Putri yang terlihat sudah bengkak akibat ulahnya.
Hawa panas sudah menjalar ke seluruh badan Sky, tetapi dia akan menahannya. Karena baru awal mereka menjalani hubungan dengan normal.
Sky menyerahkan kontrak pernikahan kepada Putri, posisi mereka saat ini sudah duduk bersila dan saling berhadapan di sofa.
Putri menerima kertas perjanjian itu, dengan tangan gemetar. Akhirnya, pernikahan yang selama dia impikan akan berakhir dengan lenyapnya kontrak tersebut.
Sky yang sudah tidak sabar, segera mengambil kembali surat perjanjian itu. Dia merobeknya dengan kasar dan menjadi serpihan kecil.
"Kenapa kamu yang merobeknya!" Ucap Putri dengan wajah marah.
Sky berdiri dan menatap tajam kearah Putri, yang di tatap menelan ludahnya dengan kasar.
"Ap... apa!" Ucap Putri lagi untuk menutupi rasa takutnya.
"Kamu tidak mengerti, baru lima menit yang lalu aku mengatakannya. Mulai hari ini harus memanggilku sayang." Jawab Sky datar dan tajam.
Putri mengangguk cepat, dia tidak menyangka jika Sky akan marah.
"Jawab dengan benar." Ucap Sky lagi.
"I... iya sayang." Ucap Putri dengan nada tercekat.
"Pintar... karena sayangku tadi lupa. Sekarang harus menerima hukuman." Jawab Sky dengan tersenyum penuh arti.
"Hukuman?" Beo Putri.
Tanpa menunggu lama, Sky segera menggendong Putri seperti harung beras dan menuju ke lantai dua.
"Turunkan aku!" Seru Putri yang memukuli punggu Sky.
"Sayangku, kamu harus di hukum dengan benar." Ucap Sky dengan sesekali memukul pantat Putri.
"Ya!!" Teriak Putri.
Aduh-aduh, mas Sky mau ngasih hukuman apa? Autor jadi senyum-senyum sendiri bayangin adegan sambil ngetik.
Autor masih waras, belum gila karena awal bulan ðŸ˜ðŸ˜
...**...
...AUTOR IJIN PROMOSI DULU YA....
...YANG MINTA MP PUTRI SAMA SKY, AKAN AUTOR KASIH ABA-ABA BIAR PUASANYA GAK BATAL....
...CUKUP AUTOR AJA YANG MANDI KERAMAS 😂😂...
Silahkan teman-teman semua mampir ke karya kak Yuthika Sarah, bukan Sarah Wijayanto lo ya.