
Happy Reading 🌹🌹
"Siapa Mah yang menefon?" Tanya Bintang setelah menidurkan kedua anak kembarnya.
"Tante Ambar, memberi kabar jika Putri sudah melahirkan." Jawab Bulan yang berjalan ke arah sofa.
"Mereka baik-baik saja kan Mah?" Ucap Bintang yang sudah duduk di samping Bulan.
"Semoga saja, Mama sepertinya tidak bisa berlama-lama di sini Nak. Apa kamu ingin pulang ke Indonesia?" Tanya Bulan pelan.
"Bintang ingin sekali Mah, tapi bagaimana dengan kedua anak Bintang terutama Mikayla." Jawab Bintang menatap box anak perempuannya.
"Besok kita ke Rumah Sakit, kita periksa dan tanyakan apakah Mikayla sudah bisa di ajak bepergian jauh." Ucap Bulan menggenggam tangan Bintang.
Bintang menganggikkan kepala, "Ayo Mah, kita kabari Papa." Ajak Bintang kepada Bulan.
Bintang dan Bulan segera beranjak dari sofa, dan keluar kamar baby twins untuk menuju taman belakang dimana Jackson dan Doni tengah memancing.
"Bagaimana pekerjaanmu Jack?" Tanya Doni yang menunggu umpannya di makan ikan.
"Seperti biasa Yah, selalu sibuk. Tetapi semua dapat di handel dengan baik oleh asistenku." Jawab Jackson yang menyesap es sirupnya.
Doni menganggukkan kepala, hingga di kagetkan oleh suara istrinya.
"Ayah, kita harus segera kembali." Ucap Bulan yang baru saja sampai di tempat tujuan.
Doni dan Jackson memutar kepala mereka ke sumber suara, terlihat dua wanita cantik yang berbeda usia.
"Ada apa Mah?" Tanya Doni menaikkan sebelah alisnya.
"Putri hari ini melahirkan Ayah, baru saja Ambar menelfonku." Jawab Bulan yang duduk di samping suaminya di ikuti Bintang.
"Benarkah? berarti kita memiliki cucu lagi Mah. Tapi, kita baru disini tiga hari." Ucap Doni.
"Rencananya besok Bintang dan Mama mau membawa kembar ke Rumah Sakit Yah." Ucap Bintang pelan.
"Ada apa Honey? Apa kembar sakit?" Tanya Jackson menuntut.
Bintang menggeleng pelan, "Em, aku ingin ikut Mama ke Indonesia Honey. Jadi... aku ingin memeriksakan Mikayla." Jawab Bintang lirih.
Jackson diam sejenak, dia melihat ke arah kedua mertuanya.
"Baiklah, besok kita ke Rumah Sakit bersama. Kita akan menaiki pesawat pribadi saja." Ucap Jackson tersenyum hangat ke arah Bintang.
"Tapi, kita tidak memiliki pesawat pribadi." Jawab Bintang menatap suaminya.
"Tenang saja, aku akan meminjam ke rekan kerjaku. Ingat kesehatan si kembar." Ucap Jackson dengan mengelus pipi istrinya.
Bintang beryambur kepelukan suaminya, "Terimakasih... terimakasih," Ucap Bintang terharu.
Jackson mengecup pucuk kepala istrinya, "Tidak perlu berterimakasih Honey, itu sudah kewajibanku." Jawab Jackson membalas pelukan Bintang.
Doni dan Bulan melihat rumah tangga Bintang dan Jackson, tersenyum bahagia. Karena Bintang berada di tangan yang tepat.
Sore harinya, keluarga Wiratama beserta menantu dan kedua cucunya memasuki pesawat pribadi yang di sewa oleh Jackson.
Baby twins terutama Mikayla dapat melakukan perjalanan yang cukup jauh, meskipun perlu di dampingi oleh seorang perawat. Jackson tetap melakukannya agar dapat kembali ke negara istrinya.
"Kita tidak memberi kabar kepada Ambar atau Sky?" Tanya Doni kepada Bulan.
"Apakah Putri melakukan sesar Mah?" Tanya Bintang yang duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya.
"Tidak, kata Ambar normal sayang." Jawab Bulan dengan menggendong Mikayla.
"Bukankah seharusnya bisa pulang cepat," Ucap Bintang dengan wajah berpikir.
"Seperti kamu tidak tahu Sky saja, pasti suami posesifnya itu tidak akan membiarkan Putri pulang jika belum benar-benar pulih." Kata Bulan dengan wajah malasnya.
Selama di mansion Wiratama, Sky seperti cicak. Selalu menempel dengan Putri jangankan untuk mengobrol, hanya di tinggal sebentar sudah teriak seperti di hutan rimba.
Bintang hanya terkekeh membayangkan saudaranya akan di pusingkan dengan dua bayi, bayi besar dan anaknya.
Sedangkan di Rumah Sakit.
"Mas, aku masih bisa berjalan dan kedua tanganku sehat. Sudah duduklah, berhenti mengurusku." Keluh Putri yang kesal dengan suaminya.
"Tidak.. tidak... kamu habis melahirkan sayang, pasti anumu sakit. Kata orang itu di jahit." Ucap Sky dengan menggelengkan kepalanya cepat.
Putri menghela nafasnya pelan, "Mas, ini juga akan sembuh. Setiap wanita yang melarikan normal maupun cesar sama saja, Sama-sama di jahit hanya beda lokasi." Jawab Putri mencoba memberi pengertian.
"No.. no... no... jangan melarangku untuk mengurusmu sayang. Sudah ayo cepat aku mandikan keburu Langit bangun." Sky segera menggendong Putri menuju kamar mandi.
Putri hanya bisa pasrah dengan sikap suaminya, meskipun dalam hati senang tetapi dia tidak ingin di anggap seperti orang sakit.
"Tanganmu di kondisikan Mas." Ucap Putri memukul punggung tangan suaminya.
"Ck, hanya sedikit. Pelit sekali." Jawab Sky mencebik kesal.
"Sudah, jadi mandikan aku tidak? Jika tidak keluar saja Mas." Tanya Putri tegas.
Sky segera menyalakan shower dengan air hangat, sambil bibirnya seakan menirukan ucapan istrinya.
Setelah selesai memandikan istrinya dan membantu ganti baju, Sky menggendong kembali Putri ke brangkarnya.
Terdengar Langit menangis kencang.
"Mas, bawa kesini. Langit pasti haus." Ucap Putri pelan dengan meluruskan kakinya.
Sky berjalan ke arah box bayi dan mengambil Langit secara perlahan.
"Anak Mama lapar ya." Ucap Putri dengan membuka tiga kancing bajunya.
Sky hanya menelan ludahnya kasar ketika benda kenyal itu keluar dari sarangnya dan dengan rakus Langit menyusu dari sumbernya.
"Pelan-pelan Langit, Ayah tidak akan mengambilnya untuk waktu dekat ini." Ucap Sky dengan mencium pipi anaknya gemas.
...**...
Halo, maaf lama kembali 😂
Semoga kalian tidak bosan menunggu bab selanjutnya.
Happy Day 😘