Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Misteri Surat Wasiat


Happy Reading 🌹🌹


Sky telah sampai di kediaman orang tuanya.


Ambarsari heran dengan kedatangan putranya yang terlihat kusut dan beberapa plaster menghiasi wajah tampannya.


"Kamu datang Sky, dimana Putri?" Tanya Ambarsari heran karena Sky hanya masuk seorang diri.


"Putri kuliah Mah," Jawab Sky yang berjalan ke arah dapur.


Ambarsari mengikuti langkah putranya, "Kenapa dengan wajahmu itu Sky dan bajumu ini sangat kotor." Ujar Ambarsari dengan menepuk pelan pundak Sky.


"Bik, tolong mask buah ini segera." Sky menjawab pertanyaan Mamanya, dia menyerahkan lima buah kecubung kepada pembantunya.


Ambarsari memiringkan sedikit tubuhnya yang berada di belakang Sky agar dapat melihat sayur tersebut.


"Ini apa Sky, apa terong belanda?" Tanya Ambarsari menatap lekat buah berwarna hijau tersebut.


"Saudaranya mungkin Mah," Jawab Sky datar dan meninggalkan Mamanya sendiri di dapur.


"Sky! Mama belum selesai bicara!" Seru Ambarsari yang kesal karena di kacangin oleh Sky.


Sky hanya berjalan menaiki tangga dengan melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah Mamanya.


"Dasar anak tidak sopan, untung anakku. Jika bukan sudah aku buang ke palung mariana." Gerutu Ambarsari kesal.


...**...


Gabriel telah sampai di apartemen miliknya, ya dia adalah pria yang mandiri. Hasil dari kerja kerasnya dia belikan beberapa aset properti.


Segera dia keluar dari mobil tidak lupa membawa kotak bekal yang di berikan Putri untuk dirinya.


Terlihat Gabriel menekan tombol lift untuk menuju unit apartemennya, setelah masuk kedalam apartemen.


Bergegas dirinya meletakkan bekal dari Putri, dia kemudian masuk ke dalam kamar pribadinya untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Baru saja dirinya mencoba terlelap, Hpnya berdering menandakan jika ada telfon masuk.


Tertera nama Sky di layar handphonenya. Segera dia bangun dan mengangkat telfonnya.


"Briel, segera berangkat ke kantor." Ucap Sky tanpa menunggu jawaban dari Gabriel dia langsung menutup telfunnya.


Dengan menghela nafas kasar, Gabriel melemparkan Hpnya kesembarang arah.


Segera dirinya berjalan kedalam kamar mandi guna menyegarkan tubuh dan otaknya yang sudah kusut seperti tumpukan pakaian yang tidak disetrika satu bulan.


Sky tengah bersiul-siul senang, dia segera memakai parfum yang dia tinggalkan di rumah orang tuanya.


Setelah Sky memasuki kamarnya, segera pria tersebut membersihkan diri untuk berangkat ke kantor.


Setelah selesai memakai baju, Sky segera menelfun asistennya. Dia tidak akan membiarkannya libur.


...**...


Di kediaman Wiratama.


Setelah Intan secara tidak sadar mengungkap kejahatannya, Doni terlihat tersulut emosi tetapi dia harus menahannya.


Yang dia butuhkan sekarang adalah tentang kematian Ayahnya.


"Jangan bermimpi, anakku masih hidup. Bahkan yang menjemput anakku adalah Ayah." Jawab Doni dengan tersenyum sinis.


Intan terlihat kaget bahkan sampai dia melebarkan netranya, "Hahaha... tidak mungkin Doni." Jawab Intan dengan tertawa.


"Kenapa tidak mungkin, pasti kamu tahu berita tentang kematian Ayah. Pada saat kejadian itu Ayah menjemput anakku... pewaris kekuarga Wiratama." Jawab Doni dengan tegas dan tajam.


"Doni... Doni, tidak mungkin pria tua itu menjemput cucunya. Dia bahkan sudah mati sebelum sampai ketempat tujuan." Jawab Intan yang sudah tersulut emosinya lagi.


Doni mendapatkan intruksi dari Roni, untuk memainkan emosi Intan yang suka di luar kendali.


"Tentu saja aku tahu, asal kamu tahu Doni. Kematian pria tua itu adalah ulahku. Aku akan menjegalnya sebelum dia bertemu dengan cucunya jika memang masih hidup." Jawab Intan dengan angkuhnya.


"Kamu!" Seru Doni yang sudah berdiri dan menatap nyalang ke arah Intan.


"Apa! Nyatanya sekarang anakmu tidak ketemu dan aku pastikan dia sudah meninggal. Sekarang cepat tanda tangani surat pengalihan ini." Ucap Intan yang mengambil surat perjanjian dan menyodorkan ke arah Doni.


"Dasar wanita biadap! Kamu adalah pembunuh!" Seru Bulan yang sudah tidak tahan dengan sikap Intan.


"Aku tidak peduli, ini semua karena pria tua itu yang tidak adil membagi harta warisannya!" Seru Intan dengan mata melotot.


"CUKUP! SILAHKAN PINTU KELUARNYA DISEBELAH SANA." Bintang yang sudah tidak tahan dengan suara pertengkaran tersebut segera berteriak dan mengusir Intan dan botak licin tersebut.


"Diam kamu anak pungut! Kamu tidak ada hak mengusirku dari rumah ini." Jawab Intan dengan pandangan penuh permusuhan.


"Kamu yang diam! Kamu hanya anak dari wanita siri dan tidak terdaftar sah sebagai keturunan Wiratama! Silahkan keluar dari rumahku." Jawan Doni dengan penuh penekanan.


Pak botak licin yang sudah tidak nyaman dengan situasi memanas tersebut, menyeret secara paksa Intan untuk keluar dari kediaman Wiratama tersebut.


Intan terus meronta karena dia tidak terima jika dka di ragukan keturunan Wiratama.


"Lepaskan!" Seru Intan dengan menghentakkan tangannya secara kasar.


"Apa yang kamu lakukan! Harusnya mereka yang keluar dari rumah itu," Ucap Intan lagi dengan dada naik turun karena emosi.


"Cukup Intan, kamu jangan bodoh! Sekarang buktikan jika kamu keturunan Wiratama." Ucap botak licin.


"Apa yang perlu aku buktikan, aku memiliki foto pernikahan kedua orang tuaku." Jawab Intan dengan percaya diri.


Botak licin menghela nafasnya kasar, "Untuk apa foto jika kamu tidak memiliki bukti kuat, tes DNA." Jawab botak licin.


"Ayahku sudah mati, bagaimana aku bisa membuat tes DNA." Jawab Intan dengan memutar bolanya malas.


"Lalu kamu punya bukti apa selain foto itu, kamu jangan bodoh Intan. Kita ini tengah bertarung dengan keluarga Wiratama pasti banyak pendukung di belakangnya." Ucao botak licin tersebut dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal jika ternyata patnernya hanya wanita bodoh dan tidak beretika. Selalu mengandalkan emosi yang meluap-luap tanpa berfikir terlebih dahulu.


Intan secara kasar membuka pintu mobil dan duduk di sebelah botak licin dengan wajah masam.


Selepas kepergian Intan, membuat Doni terduduk lemas. Tanpa dia sadari air matanya sudah luruh.


Orang tua yang dia sayangi, ternyata meninggal tidak wajar. Apakah saudaranya memang selicik itu sehingga para polisi tidak dapat mengungkap kejahatannya.


Bulan dan Bintang yang sudah menangis karena mendapati kenyataan yang sama. Pria yang sudah ringkih namun memiliki sifat penyayang harus meninggal di tangan anaknya sendiri.


"Pah, Mama sudah tidak sanggup lagi. Kita harus segera menjebloskannya kedalam penjata! Biarkan dia membusuk di dalam sana!" Seru Bulan dengan menangis terisak isak.


"Tenang Mah, rekaman percakapan kita hari ini sudah sangat kuat menjadi bukti ketika di persidangan nanti." Jawa Doni pada istrinya.


"Pah, apa Papa tahu di mana letak surat wasiat Kakek?" Tanya Bintang kepada Papanya dengan suara parau.


Doni hanya menggelengkan kepalanya lemah, "Tidak ada yang tahu, Kakek hanya bilang jika seluruh harta diwariskan kepada cucunya." Jelas Doni.


"Lalu kita harus membuktikannya dengan apa Pah, pasti statment kita juga tidak kuat untuk menyanggah tuntutan mereka yang merongrong ingin diberi jatah harta peninggalan Kakek." Jawab Bintang cemas.


Doni hanya menijat pelipisnya, dia juga pusing memikirkan teka-teki dari Ayahnya.


Pernah sewaktu dulu Doni bertanya kepada ayahnya, kenapa tidak ada surat wasiat hanya sekerdar ucapan saja.


Jawaban yang terucap dari pria tua tersebut hanyalah, belum saatnya. Ternyata ini yang di makhsud Ayahnya.


Dulu belum saatnya bertemu dengan putri kandungnya, apa mungkin Putri tahu letak surat wasiat tersebut.


...**...


PROMOSI NOVEL BARU