
...Jangan lupa like, komen, hadiah dan rating bintang lima untuk autor remahan koya ini....
...Kasihlah bunga oii riders, jangan pelit. ...
...Autor lemess gak ada yang kasih hadiah. ...
...mode pemaksaan ðŸ˜ðŸ˜...
Happy Reading 🌹🌹
Setelah selesai makan, Sky dan Gabriel segera membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja masing-masing.
Putri hanya menunggu mereka dengan berkeliling di ruangan suaminya.
"Ayo sayang, aku sudah selesai." Ucap Sky pada Putri.
Jantung Putri berdebar-debar, meskipun tidak pernah keluar kata cinta dari bibir Sky. Tetapi dengan memanggilnya sayang sudah cukup membuat dirinya yakin jika Sky juga mencintainya.
"Kak Gabriel sekalian saja ikut bersama kita sayang," Jawab Putri yang menatap ke arah asisten suaminya.
"Baiklah, ayo Briel." Ajak Sky.
Gabriel hanya mengangguk dan mengikuti langkah keduanya.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai di kediaman Wiratama.
"Mama, Papa." Panggil Putri yang masuk terlebih dahulu meninggalkan kedua pria yang masih di dalam mobil.
"Sayang... kamu akhirnya datang. Mama sangat merindukanmu." Ucap Bulan dengan mengecup seluruh wajah Putri dan memeluknya.
Bintang mendekat setelah Bulan melepaskan pelukannya, "Kamu kesini sendiri atau di atar oleh Kak Sky?" Tanya Bintang karena tidak melihat kehadiran pria tersebut.
"Aku sama Kak Sky dan Kak Gabriel, tetapi mereka masih di dalam mobil." Jawab Putri lembut.
"Ayo ke kamarku sebentar Put." Ajak Bintang kepada saudaranya.
Mereka menaiki anak tangga untuk ke kamar Bintang, kini mereka telah duduk di atas kasur dan saling berhadapan.
"Put, aku ingin menanyakan sesuatu." Ucap Bintang dengan wajah serius.
"Apa," Jawab Putri singkat.
"Tadi pagi, Tante Intan kembali lagi datang ke mansion ini. Dia datang bersama salah satu pemegang saham Wiratama, Tante Intan menyodorkan berkas yang harus di tanda tangani oleh Ayah tetapi Ayah tolak mentah-mentah. Ternyata yang membunuh Kakek adalah Tante Intan." Ucap Bintang dengan memelankan suaranya di kalimat terakhir.
Tubuh Putri membeku, bagaimana bisa seorang anak tega membunuh Ayah kandungnya sendiri.
"Bukankah kata Paman Rudi, Kakek terlibat kecelakaan tunggal." Jawab Putri yang semakin penasaran.
"Iya, tetapi waktu itu Kakek akan menjemputmu di panti. Kami tidak tahu kejelasannya kenapa sampai Tante Intan tahu kepergian Kakek. Hingga di tengah jalan mobil Kakek masuk ke dalan jurang dan para polisi tidak menemukan jejak kecelakaan yang di sengaja." Jelas Bintang dengan raut wajah sedih.
Air mata Putri menetes, sungguh sangat sesayang itukah Kakek Gunawan dulu padanya. Jika saja... Jika saja Kakek selamat menjemput Putri, mungkin Putri tidak akan menjalani kehidupannya dengan penuh lika liku yang menyakitkan.
Bintang memeluk saudara tirinya dengan sayang, dia tahu perasaan Putri saat ini.
Jika saja Putri bertemu dengan kakek tanpa suatu hambatan apapun. Pasti Putri sudah bertemu dengan kedua orang tuanya, dan pertemuannya dengan Putri tidak akan di mulai dengan permusuhan.
"Put, kamu tahu letak surat wasiat yang kakek tinggalkan untukmu? Tante Intan akan terus merongring harta peninggalan Kakek jika kita tidak menemukan surat wasiat itu. Tes DNA yang kamu miliki tidak akan kuat jika tanpa surat wasiat itu." Jelas Bintang kepada Putri setelah melepaskan pelukannya.
"Aku tidak tahu Bintang, bahkan aku tidak pernah terfikirkan tentang harta peninggalan Kakek." Jawab Putri yang masih sedih karena tidak bertemu dengan sang kakek.
"Kita harus mencarinya Put, ayo kita kekamar Kakek. Kita akan mencari tahu dari sana dulu." Ajak Bintang kepada Putri.
"Tapi... kamu nanti kecapean. Lebih baik aku saja yang mencari, kamu istirahat saja." Cegah Putri pada Bintang.
"Aku nanti akan duduk saja, ayo aku temani." Kekeh Bintang kepada Putri.
Mereka segera menuruni anak tangga untuk menuju kamar Kakek, sebelumnya Bintang sudah meminta kunci kamar Kakek kepada Mamanya.
Bintang membuka knop pintu kamar Kakek Gunawan, terlihat ruangan yang di tutupi banyak kain putih guna untuk menghindari dari debu yang menumpuk.
Ruangan dengan nuansa klasik modern, pencahayaan yang sedikit temaram membuat suasana kamar ini sedikit gelap.
Bintang dan Putri menyingkap kain putih yang menutupi tempat tidur king size milik Kakek Gunawan.
"Kita akan memulainya dari mana Bin?" Tanya Putri bingung.
Putri dan Bintang berkutat di dalam kamar sang Kakek, mereka tidak lelah terus mencari meskipun sudah banyak debu yang menempel di baju mereka maupun barang-barang yang sudah mereka keluarkan.
"Bagaimana ini Put, kita tidak mendapatkan satu pentunjukpun." Keluh Bintang yang sudah lelah karena perutnya juga semakin besar.
"Kamu duduklah, aku akan mencari di meja kerja kakek." Ucao Putri pada Bintang.
Segera dia bergegas menuju meja kerja Kakek Gunawan yang masih berada di satu ruangan.
Dengan telaten Putri membuka dan membaca kertas-kertas yang tersimpan disana.
Nihil.
Putri tidak mendapatkan petunjuk apapun, dia menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana jika tidak ditemukan, pasti keluarga Wiratama akan terus di ganggu oleh sadara tiri Ayahnya.
Putri terus berjalan mengelilingi ruangan kamar tersebut, dia melihat pajangan maupun lutikas yang di pasang dalam kamar tersebut.
Salah satu lukisan menarik perhatian Putri, terdapat sudut yang berkilau terkena pantulan cahaya lampu.
"Apa ini." Gumam Putri yang masih dapat di dengar oleh Bintang.
"Kamu menemukan sesuatu Put?" Tanya Bintang kepada Putri.
Tidak ada jawaban dari Putri, Putri masih mengamati sudut lukisan yang bersinar tersebut.
Terdapat tulisan dengan tinta hitam, "Bintang bersinar yang terlihat dari kejauhan."
"Ini makhsudnya apa Bin?" Tanya Putri yang masih menatap lekat tulisan tersebut.
Bintang segera berdiri dan menghampiri Putri, dia sedikit menyincingkan matanya agar dapat membacanya dengan jelas.
"Sebuah teka-teki, lagi??" Ucap Bintang frustasi.
Entah kenapa sang Kakek suka sekali bermain teka-teki, dia sangat amat frustasi jika Kakek Gunawan sudah mengajaknya bermain teka-teki.
Putri segera keluar kamar Kakek Gunawan, dan memanggil para beberapa pelayan untuk menurunkan lukisan dan membawanya keluar dari kamar Kakek.
Dengan sigap dan cekatan, para pelayan menurunkan lukisan besar itu dan membawanya di ruang tengah.
Pelayan yang lain membersihkan kembali kekacuan yang di buat oleh Putri dan Bintang di dalam kamar Kakek Gunawan.
"Kenapa lukisannya di bawa keluar Nak?" Tanya Bulan yang menatap kedua anaknya.
"Tidan apa-apa mah, aku hanya ingin melihatnya dengan jelas." Jawab Putri cepat dan tidak lupa tersenyum.
"Jangan sampai rusak, itu adalah lukisan kesayangan Kakekmu." Ucap Bulan pada keduanya.
"Baik Mah," Jawab Bintang dan Putri bebarengan.
Bulan meninggalkan kedua putrinya untuk menuju halaman rumah.
"Kira-kira makhsud tulisan ini apa ya Bin?" Tanya Putri yang tidak mengerti.
Bintang menaikkan kedua bahunnya, dia sendiri juga tidak paham dengan makhsud dari tulisan tersebut.
"Ya Ampun! Sky!! Gabriel!!!"
Putri dan Bintang di kagetkan dengan suara sang Mama.
Segera dia meninggalkan ruang tengah dan menuju ke halaman rumah.
Keduanya sangat kaget dengan apa yang tengah mereka saksikan. Bahkan sampai menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan.
...**...
...Apa yang di lakukan bos dan asisten itu ya 😂 akan autor bagi kisah efek kecubung yang pernah di alami oleh teman autor sendiri....
...Jangan lupa like, favorit, hadian dan rate bintang lima....
...**...