
...Hallo readers, terima kasih atas saran yang sudah kalian tulis di kolom komentar....
...Autor masukkan bumbu sedikit bau-mau mafia untuk skuel Bintang dan Jackson....
...Terkait promosi novel autor lain, kebetulan autor remahan koya ini mengikuti suatu grup yang setiap dua minggu sekali saling bergantian untuk promosi setiap batchnya....
...Jadi, mohon pengertiannya ya teman-teman. Karena karya autor juga dipromosikan pada novel autor yang lainnya....
Sky : Udah gausah lama-lama khotbahnya tor, langsung ketik aja ceritanya.
Autor : Jatahmu anu-anu bulan depan lagi.
Sky : (merengut)
Happy Reading 🌹🌹
"Semuanya tolong keluar sebentar," Ujar Doni dengan suara serak karena menahan tangisnya.
Sky dan seluruh rombongan Rudi bergera keluar dari ruangan Bintang. Mereka paham, Doni ingin membicarakan sesuatu secara internal dengan keluarganya.
Kini Bintang sudah duduk bersila dengan tegap, Doni duduk dipinggir ranjangnya. Bulan berada disisi yang lainnya. Sedangkan Putri duduk di kursi yang sudah menghadap kearah Bintang.
"Bintang... Putri adalah anak kandung Mama dan Papa." Ucap Doni dengan menggenggap tangan Bintang.
"Ya... Bintang tau." Jawab Bintang lirih namun bibirnya bergetar.
"Sayang, dengarkan Papa. Meskipun Putri sudah ditemukan tetapi Papa harap kamu dapat menerima kehadirannya dengan lapang dada." Ucap Doni yang menatap lekat wajah anaknya.
Bintang mengangguk, dia mengalihkan pandangannya kesamping kanan dimana Putri berada.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari bibir Bintang.
Putri memeluk Bintang dengan erat, dia menangis dipelukannya. Entah kenapa rasa bencinya selama ini luruh ketika dia belajar menerima kenyataan yang ada.
Bintang membalas pelukan Putri, mereka saling menumpahkan air mata. Air mata penyesalan dan kebahagiaan.
Doni dan Bulan segera berdiri, mereka ikut memeluk kedua putri mereka. Mereka sangat bersyukur memiliki anak-anak yang baik.
Pelukan sudah mereka lerai, mereka saling melempar senyum dan diakhiri tawa.
"Lihat, wajahmu sangat jelek Put. Lebih cantik diriku." Ujar Bintang dengan suara tawanya.
"Ya! Kamu lebih jelek, lihat wajah antagonisnu tidak cocok dengan airmata." Jawab Putri cemberut tetapi mengikuti tawa Bintang.
Doni berjalan kearah Bulan, dia memeluk istrinya. Hal yang dia takutkan tidak terjadi, Doni takut jika harus memilih salah satu diantara kedua anaknya.
"Sudah-sudah, kalian berdua sangat cantik. Karena menurun dari kecantikan Mama." Ujar Bulan dengan mengibaskan rambutnya.
"Narsis." Jawab kompak keduanya.
Tawa akhirnya pecah, Bintang menggenggam erat tangan Putri.
"Put, maaf atas perlakuanku selama ini karena sudah jahat denganmu. Aku... aku hanya iri denganmu karena mendapatkan kak Sky waktu itu." Jelas Bintang pada Putri.
"Ya, tidak apa-apa Bin. Aku juga meminta maaf karena tidak sengaja membuat Sky menjadi suamiku." Jawab Putri dengan tersenyum lembut.
"Jadi, kita berdamai?" Tanya Bintang polos.
Putri terlihat mengetuk-ngetuk dagunya, "Karena perbuatanmu yang selama ini menjengkelkan, kamu harus aku beri hukuman." Jawab Putri dengan wajah serius.
"Apa?" Tanya Bintang lagi, dia sedih ternyata Putri belum memaafkan dia sepenuhnya.
"Menjadi saudariku yang baik." Jawab Putri dengan tersenyum lembut dan mata berkaca-kaca.
Bintang mengangguk, dan memeluk Putri dengan erat. Dia berjanji akan menjadi saudari yang baik untuknya.
"Achh..." Rintih Bintang melepas pelukannya dan memegang perutnya.
"Bintang, kamu kenapa?" Tabya Putri panik.
Segera Doni menekan tombok emergency, Bulan membantu Bintang berbaring.
Orang-orang yang tengah menunggu diluar dibuat bingung. Kenapa dokter dan suster berlari masuk ke kamar Bintang.
"Ada apa ini?" Tanya Rudi dengan wajah bingung.
"Tidak tahu Tuan, ayo kita masuk saja." Jawab Sky yang sudah meninggalkan mereka dibelakang.
Seluruh rombongan masuk dan duduk di sofa dalam ruangan tersebut.
Terlihat dokter beberapa kali mengecek dan menyuktikkan sesuatu kedalam cairan infus Bintang.
"Bagaimana dok, keadaan saudari saya?" Tanya Putri yang masih panik.
"Tidak apa-apa Nona, ini hanya kram yang biasa terjadi ketika ibu hamil mengalami banyak pikiran." Jelas dokter.
Putri beralih menatap saudarinya, terlihat Bintang menundukkan kepala dan meremas selimutnya.
"Iya, Nona Bintang tengah hamil muda. Jadi saya ingatkan lagi jangan membuatnya stres karena akan berakibat fatal pada kandungannya. Sudah saya suntikkan vitamin dicairan infusnya, biarkan Nona Bintang beristirahat. Kami permisi." Jelas dokter yang kemudia pergi keluar dari ruangan Bintang.
Bulan mengelus punggung tangan Bintang, dan sesekali mengecup dahinya. "Istirahatlah sayang." Ucap Bulan.
Tenggorokan Putri serasa tercekat, dia menatap Bintang dengan tatapan yang entahlah.
Selain Putri yang kaget dengan kabar kehamilan Bintang, Rudi dan rombongannya juga kaget termasuk Sky.
...**...
Dibelahan Amerika lebih tepatnya California.
Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi mendatangi seseorang yang sudah dia bayar mahal, sehingga membuat setengah hartanya habis.
"Mana barangnya?" Tanya wanita tersebut angkuh.
Jack segera melemparkan sebuah flashdish yang jatuh didekat kaki wanita tersebut.
Dengan perasaan kesal, wanita tersebut menunduk untuk mengambilnya.
Wanita tersebut segera mengeluarkan sebuah amplok coklat yang besar dari tasnya.
"Ini sisa pembayaranmu," Ujar wanita tersebut yang menaruh uang diatas meja.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut jack, segera wanita itu meninggalkan tempat menyeramkan tersebut.
Jika bukan karena ingin menghancurkan keluarga Doni dan mengambil seluruh harta mendiang Ayahnya. Dia tidak akan sudi menemui seorang mafia dan membayar banyak orang dinegeri sebrang.
"Si/al, uangku semakin menipis. Rumah, mobil, dan apartemen sudah aku jual hanya untuk membayar mereka. Bahkan seluruh anak buahku sudah aku pecat. Aku harus segera pulang, sebelum benar-benar menjadi gelandangan dinegeri orang." Ucap pelan wanita tersebut.
Segera wanita tersebut berjalan menaiki transportasi umum untuk menuju kontrakannya. Hidupnya harus sedikit berhemat karena harta bendanya habis dia jual.
Sesampainya di kontrakan, dia segera menyalakan laptop untuk membuka video durjana yang sudah direkan oleh mafia bayarannya.
Tersenyum sinis, melihat adegan demi adegan yang terlihat pada video tersebut.
"Kalian akan aku singkirkan satu per satu, dan akulah pewaris seluruh kekayaan Wiratama." Ucapnya dengan diiringi tawa yang menyeramkan.
Wanita tersebut terus mengoperasikan laptopnya, beruntung wajah sang pemain pria tidak terlihat.
"Hemm, aku akan menguploadnya di sosial media komunitas kampusnya bukan. Gadis ini pasti akan malu dan bunuh diri. Terlebih, nama keluarga Wiratama akan tercoreng. Perusahaan mulai goyah dan aku akan datang sebagai pahlawan." Ucapnya yang tengah membayangkan rencananya seratus persen berhasil.
Segera dirinya me-upload video durjana yang berdurasi cukup lama tersebut.
Tidak lupa, dia me-upload di beberapa media sosial lainnya.
"Selesai." Ucapnya.
Dia segera menghancurkan alat elektroniknya, tetapi tidak dengan video yang tersipan didalam flasdish.
Karena barang sekecil itu yang menghabiskan setengah lebih kekayaannya.
Segera dia mengengemasi pakaian dan barang-barang yang harus dia bawa kembali ketanah air.
"Aku harus membarang yang penting-penting saja, jika semuanya uangku hanya akan habis untuk membayar kargo." Gumamnya
Dia memisahkan barang-barang yng tidak akan berguna ketika kembali pulang, karena semua barangnya merk terkenal. Segera dia menjualnya secara online untuk menambah pundi-pundi uangnya yang sudah menipis.
...**...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE