
Happy Reading 🌹🌹
Dave menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan dengan bersiul ria, bahkan di tangannya sudah membawa paper bagian dengan ukuran sedang berwarna pink.
Warna khas kegemaran kaum hawa di seluruh dunia.
"Selamat pagi Mah... Pah..." Sapa Dave dengan mengecup pipi kedua orang tuanya.
"Pagi sayang," Jawab Lila dengan tersenyum hangat.
"Kamu membawa apa Dave?" Tanya Rudi yang melihat paper bag di atas meja makan.
"Oh, ini hanya hadiah untuk teman Pah." Jawab Dave tersenyum.
"Kamu punya pacar Dave?" Tanya Lila dengan wajah bahagia.
Dave menggeleng pelan, "Calon istri Mah." Jawab Dave.
Rudi dan Lila menatap ke arah anak semata wayangnya, "Siapa? Kenapa tidak di kenalkan kepada Mama dan Papa." Cecar Lila kepada Dave.
"Akan segera Dave kenalkan Mah, sabar saja. Dave sedang berjuang." Jelas Dave dengan senyum hangat.
Lila sangat senang, bahkan matanya berkaca-kaca. "Akhirnya Pah, Dave memiliki calon istri. Berarti Dave sudah merelakan Putri dan menjalani kehidupannya." Ucap Lila kepada suaminya.
Gerakan Dave yang menyuapkan makanannya terhenti, sedangkan Rudi melirik ke arah Dave.
"Dave, segeralah bawa calon menantu Mama ya. Akan Mama tunggu." Ucap Lila dengan menyentuh tangan Dave yang berada di atas meja.
Dave berdiri dan memundurkan kursinya, "Dave berangkat dulu Mah, hari ini ada jam kuliah pahi." Ucap Dave yang segera berlalu dari ruang makan dan tidak lupa membawa paper bag berwarna pink tersebut.
Lila menatap punggung anaknya bingung, padahal Dave terlihat sangat bahagia hari ini. Tetapi kenapa sekarang wajahnya kembali dingin. Apakah Lila salah bicara.
Rudi yang melihat kebingungan di wajah istrinya hanya dapat menenangkannya, "Sabar Mah, jangan kejar-kejar Dave untuk membawa calon menantu kita. Tunggu saja hingga Dave berhasil membawanya kehadapan kiga." Ucap Rudi dengan menepuk pelan punggung tangan Lila.
Lila menoleh ke arah Rudi dengan wajah tidak semangat, "Iya Pah, Mama hanya bahagia. Akhirnya putra kita dapat melupakan obsesinya kepada Putri." Jawab Lila lirih.
...**...
Matahari kian meninggi, tetapi dia insan yang berada di bawah selimut bersama itu enggan untuk bangun.
Setelah pertempuran semalam, Sky kembali bergerilya di atas tubuh istrinya lagi. Mau tidak mau Putri melayani suaminya.
Putri dengan senang hati melayani selayaknya pasangan suami istri pada umumnya.
Sky semakin mengeratkan pelukannya, wajahnya bersembunyi di balik punggung polos istrinya.
Aroma tubuh Putri menjadi candu bagi Sky, apalagi ketika bibir tipis istrinya menjeritkan namanya.
Membayangkannya saja membuat buayanya terbangun, oh sungguh sial sekali. Kenapa tubuh Sky menjadi murahan ketika bersama istrinya.
Sky bergerak gelisah, dengan malas Sky membuka kedua kelopak matanya.
"Maaf sayang, buayanya nakal." Gumam Sky di dekat telinga Putri.
Putri tidak terusik sama sekali, dia mimpi indah dan damai.
Sky mengangkat kaki kanan Putri dan meletakkannya di atas pinggulnya. Sky mencari akses agar buayanya dapat terpuaskan.
Dengan perlahan, Sky memasukkan buayanya dari arah belakang. Karena posisi Sky saat ini dibelakang tubuh Putri.
"Sshhh, ahhh... sayang kenapa tubuhmu menjadi candu." Suara kenikmatan selalu lolos dari bibir Sky.
Putri melenguh, dia merasa sedang berhubungan badan dengan Sky di dalam mimpi.
Sky meremas kedua gunung kembar kesayangannya, pinggulnya semakin cepat dan dalam dalam menggoyang hingga akhirnya lenguhan keduanya lolos.
Sky terus menekan buayanya agar semakin dalam yang memuntahkan mayones. Tangannya meraba perut rata Putri.
Sky membangunkan istrinya setelah puas mencuri kesempatan untuk menuntaskan hasratnya, Terlihat kelopak mata Putri yang mulai terbuka.
"Morning sayang." Ucap Sky dengan senyum mengalahkan matahari.
Putri tersenyum lembut, "Morning" Jawabnya singkat.
"Ayo bangun, sudah pukul delapan. Hari ini kamu tidak perlu kuliah dulu ya. Aku juga tidak bekerja hari ini." Ucap Sky panjang lebar.
Putri segera sadar seratus persen dan mendudukkan tubuhnya, Putri meringis pelan, di bawah sana terasa perih.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Tanya Sky dengan khawatir.
"Perih," Cicit Putri pelan.
"Pelan-pelan sayang, kamu mau kemana terburu-buru." Ucap Sky dengan ikut bangun dari tidurnya.
"Aku harus kuliah, hari ini akan sampai sore." Jawab Putri.
"Apa kamu yakin bisa berjalan?" Tanya Sky dengan senyum penuh kemenangan.
"Ini gara-gara kamu, jika semalam sayang tidak memintanya lagi. Tidak akan sesakit ini." Keluh Putri pada suaminya.
Sky terkekeh geli, "Sudah kita di rumah saja, aku juga tidak berangkat bekerja." Ucap Sky.
"Kenapa tidak berangkat bekerja?" Tanya Putri heran menatap ke arah Sky.
"Karena aku bosnya, jadi bebas mau bekerja atau tidak." Jawab Sky dengan kesombongan yang hqq.
Sky segera menyebakkan selimut dan berdiri untuk menyiapkan air hangat agar dapat meredam rasa perih istrinya.
Putri menutup kedua matanya, karena melihat Sky tanpa celana. Sehingga menampakkan pantatnya yang polos seperti pantat bayi.
(wkwkw, gak tau malu itu Sky)
"Kenapa sayang tidak pakai celana," Gerutu Putri setelah Sky kembali dari dalam kamar mandi.
"Kenapa, toh kamu sudah melihatku. Apa kamu ingin lagi." Tanya Sky dengan wajah dan nada mesumnya.
Putri memukul wajah Sky dengan bantal, rasa pedihnya belum hilang tetapi pria mesum itu ingin menggempurnya lagi.
Sky tergelak, segera Sky berdiri dan membopong Putri untuk berendam di air hangat yang sudah dia siapkan.
Terasa kulit mereka bersentuhan secara langsung, Sky menurunkan Putri ke dalam bath up secara perlan.
Sky juga ikut masuk, dia berasa di belakang Putri.
"Kenapa ikut masuk ke sini sayang. Mandilah di bawah shower itu." Tunjuk Putri pada Sky.
"No, aku ingin menggosok punggungmu sayang. Jangan usir aku dari sini." Rengek Sky dengan penuh drama.
Putri menghela nafasnya pelan, sungguh tubuh Putri sudah remuk ingin segera beristirahat.
Selama membersihkan diri tidak ada adegan enak enak, karena Sky menahan diri agar tidak menyentuh istrinya dulu.
Nanti... saat Putri sudah terbiasa dengan sentuhannya. Sky setiap hari akan meminta jatah kepada istrinya.
...**...
YANG DI GEMPUR
TUKANG GEMPUR