
...Hallo reader....
...Bagaimana hari puasa pertamanya....
...Masih kuat ya, tidak ada gangguan seperti hari-hari biasanya....
...Autor cuma ingatkan, tekan tombol like dan kasih rate 5 untuk karya ini ya ❤❤...
Happy Reading 🌹🌹
Sky menyerengitkan dahinya, dia menatap istrinya yang menempel di tembok seperti cicak.
"Kenapa sayang?" Tanya Sky heran.
Putri menengok kebelakang, "O... oh ini tadi aku melihat cicak, jadi aku menirukannya." Jawab Putri dengan menunjukkan dertan gigi putihnya.
Sky tergelak, melihat dari warna merah padam di wajah istrinya saja dia sudah tahu. Jika saat ini pasti Putri tengah gugup.
"Ayo, kembali ke kasur." Ucap Sky dengan menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah pintu keluar kamar mandi.
Putri menelah ludahnya susah payah, selain otaknya traveling apa yang akan terjadi di atas kasur. Dia juga traveling melihat otot perut Sky yang seperti roti sobek.
Sky mengikuti pandangan istrinya, dia tersenyum jahil.
Dengan perlahan berjalan mendekat ke arah Putri, "Aku tahu, aku sexy dan juga tampan." Ucap Sky dengan percaya diri.
Putri semakin gugup, dia mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan.
Tanpa sadar, Sky sudah mengungkungnya dengan kedua tangan kekarnya.
"Mi... minggir." Ucap Putri yang kini wajah mereka hanya berjarak satu jengkal tangan.
"Kenapa, hem." Jawab Sky dengan nada menggoda.
"Ak... aku mau kencing." Jawab Putri ambigu.
"Kencing? Mau aku bantu." Ucap Sky memberikan tawaran.
Putri menyerengit heran, kenapa kencing perlu di bantu apa dia pikir aku orang sakit. Gerutu Putri di dalam hati.
"Tidak, aku masih sehat kenapa harus di bantu." Jawab Putri cepat.
Sky terkekeh pelan, dia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Putri.
Putri melebarkan matanya karena ucapan Sky, dengan memukul dan mendorong dada Sky dia berteriak dan berlari.
"Dasar mesum!!!" Jerit Putri.
Sky tergelak kencang, apalagi melihat wajah Putri yang sudah memerah seerti kepiting rebus.
Putri segera berlari keluar dari kamar Sky, dia masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Tangannya dia tangkupkan ke pipinya, dia menepuk-nepuk pelan pipinya.
Putri masih terbayang otot Sky, bahkan aroma tubuh serta nafas Sky.
"Putri sadarlah, jangan ketularan mesum pria itu." Gumamnya dalam hati.
Segera Putri berjalan dan merebahkan dirinya di kasur singel.
...**...
Pagi hari, kediaman Sky sudah tidak setengah hari-hari sebelumnya.
Jika sebelumnya perdebatan kecil terjadi di dapur maupun meja makan, hari ini Sky sudah berteriak memanggil Putri.
"Sayanggggggg!!!!" Seru Sky dengan suara menggelegar di lantai dua.
Putri menghentakkan kakinya karena kesal, sudah sekian kalinya dia di panggil hanya untuk mengerjakan hal yang dapat di kerjakan sendiri Oleh Sky.
"Iya sayang, aku datang." Jawab Putri dengan memaksakan senyum kepada Sky.
"Pasang dasiku." Ucap Sky dengan menyodorkan dasinya.
Putri menerima dasinya, dia menatap Sky yang menjulang tinggi.
"Cepat, pasangkan dasiku. Kita sudah sepakat akan memulai hubungan yang normal." Ucap Sky dengan tersenyum manis.
"Menunduklah," Ucap Putri dengan jantung berdebar-debar.
Sky meneliti wajah Putri, terlihat semburat merah di pipinya. Hembusan nafas Putri yang berbau pasta gigi pepsoden, rambut dengan aroma pantine, dan aroma sabun lux.
"Kenapa wajahmu merah, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Sky jahil.
Putri segera merapikan, dan menepuk bahu Sky.
"Sudah selesai, ayo segera sarapan sayang." Ajak Putri yang kini sudah berbalik memunggungi Sky.
Putri merutuki dirinya, kenapa wajahnya tidak dapat di ajak bekerja sama. Dia ingin menenggelamkan dirinya di palung mariana saja.
Sky segera mencekal tangan Putri, membuatnya berbalik dan menabrak dada bidangnya.
Dengan gerakan cepat, Sky segera memeluk tubuh Istrinya.
"Le... lepaskan, kita bisa terlambat." Ucap Putri gugup.
Jantung Putri maupun Sky berpacu sangat cepat seperti tengah berolahraga lari maraton.
Sky semakin mengeratkan pelukannya, dia suka aroma yang menguar dari rambut dan tubuh Putri.
"Stt... diamlah, atau kamu akan membangunkan sesuatu di bawah sana. Jangan banyak bergerak." Ucap Sky dengan suara yang mulai serak.
Putri diam membeku, dia teringat kalimat yang di bisikkan Sky ketika di kamar mandi.
Cukup lama Sky memeluk Putri, dia sedikit menunduk dan memberikan kecupan di bibir manis Putri.
"Morning kiss." Ucap Sky dengan tersenyum.
Putri hanya mengerjab-ngerjabkan matanya, sehingga bulu mata lentiknya ikut bergerak.
Sky segera menggandeng tangan Putri dengan lembut dan menuruni anak tangga.
...**...
Sedangkan kini, Grace terlihat tengah mematutkan tampilannya di depan cermin besar.
Dia sudah bertekad bulat bagaikan bakso bulat di goreng dadakan untuk menemui Putri.
Bahkan dia sudah membawa bukti-bukti chatting romantis antara dirinya dan Sky. Tidak ada foto di atas ranjang maupun di luar ruangan.
Karena Grace hanyalan wanita panggilan hanya pemuas nafsu Sky saja, sehingga dia hanya membawa bukti chatting di antara mereka.
Grace akan datang ke kampus dimana Putri menempuh ilmu di sana, dia tidak bisa terus menerus hanya menunggu Sky untuk mengakui anak dalam kandungannya.
Karena kandungan Grace juga sudah tidak dapat di tutupi lagi.
Digugurkan juga hanya membahayakan nyawa Grace.
Grace melihat jam di pergelangan tanganbya, dia harus segera berangkat. Mengingat waktu perjalanan tidak dekat.
...**...
Didalam mobil
Sky mengantar istrinya berangkat kuliah seperti biasanya.
"Sayang, kamu hari ini pulang jam berapa?" Tanya Sky yang fokus melihat ke jalan.
"Emm, mungkin sore sayang. Karena ada praktek penulisan naskah drama dari pak Dave." Jawab Putri yang menatap Sky.
Sky mengerem mendadak mobil yang tengah dia kendarai, beruntung pas dengan datangnya lampu menyala merah.
Tubuh Putri dan Sky terhuyung kedepan, beruntung mereka mengenakan seat belt sehingga menahan tubuh mereka.
Sky hampir lupa dengan curut satu itu, sudah cukup lama dia tidak keluar di bab autor.
"Kenapa mengerem mendadak?" Tanya Putri menahan kesal.
Karena perbuatan Sky, membuat jidatnya hampir terbentur dasbor mobil.
...**...
...PROMOSI NOVEL...
...SILAHKAN MAMPIR TEMAN SELAGI MENUNGGU BAB YANG AKAN DATANG...