
...Jangan lupa like dan sesajennya....
...Jangan jadi pembaca gelap loh, emang gak capek maen gelap-gelapan 😢...
Happy Reading 🌹🌹
Dikediaman Wiratama.
Kini tengah berkumpul diruang keluarga terlihat Doni, Bu Siti, Lila, dan Rudi.
"Ada apa gerangan, masih pagi hari datang kesini Rud?" Tanya Doni pada temannya.
"Ada keperluan yang penting, kemana istri dan anakmu?" Tanya Rudi yang melihat mansion itu terlihat sepi.
"Bulan tengah menemani Bintang di Rumah Sakit." Jawab Doni nampak lesu.
Ketiga orang yang ada dihadapan Doni saling memandang, "Siapa yang sakit Don?" Tanya Lila.
"Bintang." Jawab Doni lirih.
"Yasudah, setelah kita selesai membicarakan hal ini. Kita akan segera ke Rumah Sakit." Ucap Rudi tegas.
Doni melihat wajah temannya terlihat serius merasa betanya-tanya.
Rudi segera memberikan selembar foto usang yang dia simpan bertahun-tahun, "Lihatlah baik-baik." Perintah Rudi pada Doni.
Doni mengambilnya, dia menyincingkan matanya pada gambar tersebut.
"I... ini Ayahku. Tapi siapa wanita ini?" Tanya Doni yang sudah menatap Rudi seakan meminta jawabannya.
"Istri kedua... lebih tepatnya istri siri Kakek Gunawan." Jelas Rudi dengan suara tenang dan jelas.
Doni tertawa, tidak mungkin Ayahnya menduakan ibunya. Selama ini Ayahnya juga lebih banyak dirumah dan kantor.
Doni ingat, Ayahnya lebih sering mengajaknya jalan-jalan.
"Tidak mungkin." Sanggah Doni.
"Jika kamu tidak percaya tidak masalah, karena saat ini saudarimu... saudari tirimu sudah mulai bergerak kembali." Jelas Rudi dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak tahu makhsud pembicaraan ini Rud, kamu sunggu lucu. Tidak mungkin Ayahku menduakan Ibuku, kamu tahu sendiri bagaimana sayangnya Ayahku kepada kami." Ucap Doni dengan kekeh.
Lagi, Rudi mengeluarkan foto CCTV didepan rawat bayi. Terlihat gambar seorang wanita dan pria tengah memandang kedalam ruangan bayi tersebut.
Terlihat juga, ketika Bulan hampir tertabrak oleh mobil ketika tengah menyebrang jalan.
Bahkan foto-foto liburan Bulan dan Doni selalu terlihat sosok wanita yang sama.
"Siapa dia, kenapa selalu ada disetiap foto ini?" Tanya Doni yang tangannya sudah gemetar.
"Dia adalah anak dari istri siri Kakek Gunawan."
"Apa kamu kenal dengan wanita disampingku ini, dia adalah mantan pelayan mansionmu." Ujar Doni dengan memegang pundak Bu Siti.
Doni menatap lekat wanita yang mungkin dibawahnya hanya beberapa tahun saja, "Aku tidak mengenalnya. Sepertinya bukan." Jawab Doni jujur.
"Dia adalah anak dari Bi Rati, apa kamu ingat." Tanya Rudi kembali.
"Iya Tuan, saya adalah anak dari Bi Rati. Saya datang kemansion ini ketika Nyonya akan melahirkan oleh karena itu mungkin Tuan belum pernah bertemu dengan saya. Perkenalkan saya adalah Siti yang biasa di panggil oleh Putri, Bu Siti." Jawab Bu Siti dengan tenang dan jelas.
"Putri." Beo Doni.
"Iya Tuan, Putri Danuarta. Gadis yang saya bawa lari bayi merah itu." Jawab Bu Siti lagi.
"Anakku... kenapa kamu membawanya kabur!" Seru Doni yang tersulut amarah.
"Tenanglah Doni, apapun yang dilakukan Bu Siti atas perintah dari Kakek Gunawan." Jelas Rudi yang sedari tadi setia mendengarkan mereka berbicara.
"Tapi kenapa! Kenapa kakek memisahkanku dengan anakku!" Ujar Doni yang masih tidak terima.
"Nyawa, nyawa anakmu taruhannya." Jawab Lila yang matanya sudah memerah.
Doni mencengkram kuar rambutnya, dia merasa frustasi dengan semua masalah yang telah dia hadapi.
"Apakah wanita yang ada difoto itu, yang ingin membunuh anakku." Ucap Doni dingin.
"Ya," Jawab Rudi singkat.
Dengan gerakan halus bahkan hampir tidak diketahui oleh siapapun, Rudi mengeluarkan pistolnya.
Dor
Suara tembakan memekakkan telinga terdengar dari dalam mansion.
Tampak seorang pria tertembak mati ditempat.
Doni segera berlari menghampiri jasad itu, "Apa kamu gila! Kamu membunuh kepala pelayan mansionku." Teriak Doni dari kejauhan.
Rudi hanya bersandar, acuh terhadap teriakan tersebut.
"Sayang, aku haus. Tuan rumah tidak memberikan kita minum." Rudi merengek kepada istrinya.
Segera Lila berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur, wanita itu hanya melewati Doni dan mayat pelayan itu begitu saja.
Doni kesal karena sikap acuh keduanya, dia segera kembali berjalan dan duduk bergabung dengan Rudi. Beruntung para pelayan sudah dia usir dirumah belakang.
Rudi adalah salah satu mantan anggota sniper handal dinegeri tersebut, tentu saja mata elang dan instingnya sangat tinggi. Meskipun dirinya sudah lama pensiun dari dunia penembakan.
Hari ini akan Rudi keluarkan lagi keahliannya, karena wanita tersebut sudah berani membayar seorang mafia.
"Dia adalah mata-mata wanita itu." Ucap Rudi yang paham arti tatapan Doni.
"Apa! Tapi dia sudah bekerja disini sejak aku dan Bulan akan menikah. Tapi kenapa dia ingin mencelakai keluargaku, aku saja tidak tahu keberadaannya didunia ini." Doni semakin pusing memikirkannya.
"Tentu saja harta Doni, kamu sendiri tahu bukan. Kakek Gunawan tidak mewariskan hartanya kepadamu." Jawab Lila dengan menyajikan minuman yang sudah dia buat.
"Ya, tepat. Cucu keluarga Wiratama hanya Putri. Jadi wanita itu ingin menyingkirkan pewaris sah kekayaan keluarga Wiratama." Jawab Rudi yang mengambil cangkir tehnya.
"Wanita itu hanya anak dari istri siri, tentu jika dipengadilan akulah yang akan memenangkannya." Jawab Doni heran dengan pemikiran wanita itu.
Rudi tergelak kencang, "Doni... sekejamnya dirimu, ada yang jauh lebih kejam. Benar dia hanya anak dari istri siri, tapi dia juga memiliki hak yang sama denganmu secara hukum agama." (kayaknya sih, autor gak tahu juga 😌 bisa tulis di kolom komentar yang lebih tahu)
"Tapi, kenapa dia tidak datang kesini menemuiku jika dia menginginkan bagiannya?" Tanya Doni heran.
"Kakek Wiratama sudah memberikan harta uang cukup bahkan jauh lebih cukup untuk istri siri dan anaknya. Kembali lagi, sifat manusia itu tamak. Sebanyak apapun yang dia miliki dan dapatkan akan selalu kurang." Jawab Rudi panjang lebar.
"Lalu, Bu Siti bagaimana kamu bisa membawa kabur anakku hingga selamat. Aku sempat bertanya kepada bodyguard kakek karena banyak bodyguard baru yang direkrut. Apa itu ada kaitannya dengan kejadian pelarianmu dan anakku?" Tanya Doni panjang lebar.
Bu Siti mengangguk, "Benar Tuan, kami berdua dapat selamat berkat pengorbanan orang-orang kepercayaan dari Kakek Gunawan. Malam itu... Tibalah pukul sepuluh malam, segera Siti diantarkan oleh orang-orang kepercayaan Kakek menuju rumah sakit.
Dirumah Sakit, suster yang menjaga dibius agar tidak menimbulkan kegaduhan. CCTV diretas agar tidak ada yang melacaknya.
Siti sudah menggendong bayi merah tersebut, bayi yang tertidur nyenyak. Siti meneteskan air matanya, dia melihat dalam box bayi diganti dengan bayi yang sudah meninggal oleh orang suruhan Kakek.
"Ayo, cepat sebelum ada suster yang lain untuk berjaga." Ucap salah satu bodyguard Kakek.
Siti segera berjalan dan menutupi bayi merah itu dengan jaket tebal, seakan dia membawa kotoran baju.
Dalam perjalanan menuju panti, jalanan terasa sepi dan mencekam. Sampailah mereka melewati hutan yang memisahkan antara kota dan desa.
Tersengar suara tembakan, Siti kaget. Terjadilah baku tembak yang sengit.
Siti semakin gemetar dan menangis, sesekali dia melihat bayi dalam gendongannya.
"Tuan, bagaimana ini?" Tanya Siti yang semakin takut.
"Tenanglah, kita akan mengecoh mereka." Ucap bodyguard yang tengah menyopir.
Entah apa yang mereka bicarakan melalui airphone yang tersambung di telinga masing-masing.
Laju mobil semakin cepat, beberapa mobil muncul mengawal mobil Siti.
Ternyata didepan sudah diblokade oleh orang-orang yang menginginkan kematian bayi itu.
Siti semakin gemetar dan takut, bahkan bayi itu menangis kencang. Pastilah dia merasa lapar, Siti hanya dapat meminumkan madu yang sebelumnya dia leletkan kejarinya.
"Siti keluarlah, kamu akan berlari melewati hutan, dan sembunyilah didesa terdekat. Kamu akan dikawal oleh bodyguard yang lain." Perintah pimpinan bodyguard.
Segera putri mengangguk, dia hanya mengambil uang, kalung, dan selimut bayi saja. Semua barang-barang dia tinggalkan dimobil.
Siti dengan dilindungi bodyguard segera berlari masuk kehutan.
"Kejar mereka!!" Seru kepala penjahat.
Segera anak buah penjahat mengejar Siti kedalam hutan, sedangkan dijalan raya yang hanya bercahaya lampu mobil segera beradu senjata api.
Tembakan demi tembakan terdengar memecah keheningan malam, para bodyguard yang ada didalam hutan juga tidak kalah beradu tembak dengan para musuh.
Hingga akhirnya salah satu bodyguard yang benar-benar bersama Siti tertembak, Siti kaget dan langsung berjongkok.
Suasana malam ditengah hutan yang sunyi dan ditemani hujan benar-benar membuat suasana semakin mencekam.
"Tuan!!"
"Cepat lari, selamatkan Nona Muda. Cepat!!" Seru pria yang menahan sakit.
Segera Siti berlari semakin dalam kedalam hutan, bahkan mulut bayi merah itu sudah dibekap oleh Siti agar tidak mengeluarkan suara tangis.
"Begitulah tuan ceritanya, bagaimana saya dan anak Tuan dapat selamat dari maut malam itu." Ucap Bu Siti mengakhiri ceritanya.
Bu Siti dan Lila menangis, meskipun Lila sudah pernah mendengar cerita dari Bu Siti tetapi hatinya tetap merasa sakit.
Doni mengepalkan kedua tangannya dia mengadahkan kepalanya dan memejamkan kedua kelopak matanya.
Marah, sakit, kecewa, sedih. Seluruh perasaan bercampur aduk didalam hatinya.
"Apa lagi rencana wanita itu." Ucap Doni kepada Rudi dengan tatapan marah.
"Menghancurkan keluargamu secara perlahan, dan dimulai dari Bintang." Jawab Rudi kepada temannya.
Hati Doni berdenyut nyeri, teringat pria bre/sek yang sudah menghamili Bintang. Doni yakin itu adalah salah sati rencana wanita tersebut.
"Lalu kita harus bagaimana? Bintang tengah sakit." Jawab Doni kepada ketiganya.
"Kita ikuti saja pernainannya, kita pancing agar dirinya keluar dari persembunyiannya." Jawab Rudi tenang.
Doni menatap penuh selidik kearah Rudi, "Kenapa kamu bisa tahu rencananya. Apa kamu salah satu komolotannya?" Tanya Doni.
Buk
Suara bantal mendatar tepat diwajah Doni, Rudi sungguh kesal dengan dengan ucapannya.
"Apa kau gila! Tentu saja aku menaruh beberapa orang kepercayaanku untuk masuk kedalam lingkarannya sehingga aku tahu pergerakannya selama ini." Seru Rudi pada Doni.
"Tapi kenapa selama ini kamu hanya diam saja, tidak datang kemari menceritakannya?" Tanya Doni menuntut.
"Dasar bodoh!" Umpat Rudi.
"Ayo sayang dan Bu Siti kita pergi dari sini, lama-lama aku gila jika berdekatan dengannya." Lanjut Rudi segera berdiri dan melenggang pergi dari kediaman Wiratama.
"Hey! Jawab aku! Si/al," Gerutu Doni dengan kesal.
Doni segera memanggil bodyguard yang sudah dia suruh berjaga dimansion, untuk menyingkirkan mayat kepala pelayan tersebut.
Segera Doni menelfun Zidan untuk memeriksa seluruh mansionnya, serta rang-orang yang bekerja dengan keluarga Wiratama.
...**...
...Like Like Like...