
...Jangan lupa like dan komennya....
...Kasih rate lima untuk novel autor ya....
Happy Reading 🌹🌹
Dave dengan kecepatan tinggi mengendarai mobilnya untuk membawa pergi Putri jauh dari jangkauan Sky.
Putri ingin menangis tetapi juga takut secara bersamaan, dia berpegangan dengan sangat erat.
"Dave, apa kamu bisa memelankan laju mobilnya?" Tanya Putri yang masih terlihat sisa air matanya.
Dave tidak menjawab, dia terus memacu mobilnya dengan kecang.
"Ya!! Aku masih ingin hidup, jika mau ingin mati. Matilah sendiri." Seru Putri yang takut karena Dave baru saja menyalip truk besar.
Akhirnya sudah sampai ke tempat tujuan Dave, meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai di tempat tujuan.
Dave segera memberhentikan mobilnya, dia menoleh kearah samping.
Terlihat Putri yang sudah tertidur mungkin dia terlalu lelah untuk berteriak dan menangis secara bersamaan.
Dave melepaskan seat beltnya, dia melepaskan juga seat belt yang terpasang pada Putri.
dengan gerakan perlahan, Dave sedikit menurunkan kursi Putri. Tangannya terulur menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis tersebut.
Tergambar jelas gurat kesedihan di wajahnya. Mata yang bengkak bahkan masih tersisa bekas air matanya, mungkin dia juga berteriak untuk menyalurkan rasa sesak dalam hatinya.
Dave juga menurunkan sedikit kursi yang dia duduki, dengan memiringkan tubuhnya menghadap Putri.
Seakan-akan mereka tengah tidur bersama dengan posisi saling berhadapan. Dave memandangi dengan lekat wajah gadis dihadapannya tersebut.
Perasaan bahagia membuncah dihatinya bersamaan perasaan sedih yang muncul.
Apakah gadisnya sudah jatuh cinta terhadap Sky? Apakah mereka benar-benar sudah saling berbagi peluh? Apakah dirinya sudah terlupakan dalam kenangan gadisnya?
Dave terus menatap Putri yang tertidur pulas, hingga gadis tersebut menggeliat dalam tidurnya.
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Putri dengan suara khas orang bangun tidur.
"Iya, apakah kamu lelah?" Tanya Dave kembali yang masih setia melihat kearah Putri.
"Hem, mungkin karena aku kekenyangan setelah makan siang tadi." Jawab Putri lembut.
Tetapi Dave tidak dapat di hobohongi, meskipun Putri menperlihatkan jika dirinya baik-baik saja. Sorot mata Putri tidak dapat berbohong.
"Ayo turun," Ajak Dave yang sudah menegakkan duduknya dan membuka pintu mobil.
Putri juga mengikuti gerakan Dave, dia mengucek sedikit matanya karena tidak asing dengan tempat tersebut.
Putri mengedarkan seluruh pandangannya di taman kecil tersebut, dia sangat tahu betul taman itu.
Bahkan mungkin taman tersebut menjadi bagian tersendiri dalam hidupnya.
Putri mencari keberadaan Dave, terlihat Dave duduk di salah satu ayunan pohon. Dengan berlari kecil Putri menghampirinya.
"Bagaimana kamu tahu tentang taman ini?" Tanya Putri yang sudah duduk di ayunan sebelah Dave.
"Hem, apa kamu pernah kesini?" Dave bertanya kepada Putri.
"Ck, kebiasaan. Selalu tidak menjawab ketika ditanya." Gerutu Putri.
Dave hanya terkekeh mendengar gerutuan gadis di sampingnya.
"Apa kamu tau, di dekat sini ada panti asuha. Disana aku di besarkan jadi aku sering datang ke taman ini sendirian." Jelas Putri yang memandang langit.
Dave memperhatikan Putri dari arah samping, cantik. Salah satu definisi Dave untuk Putri.
"Apa kamu yakin sendirian?" Tanya Dave tenang.
"Iya," Jawab Putri cepat.
"Apa tidak ada teman laki-laki yang menemanimu?" Tanya Dave mencoba memancing Putri.
Putri diam sejenak, dia kemudian memandang ke arah Dave.
"Ada." Jawab Putri singkat.
"Tapi, aku tidak tahu dia dimana sekarang. Padahal aku menantinya, tapi sekarang sepertinya tidak lagi. Mungkin dia sudah menjadi pria yang sukses dan berumah tangga." Lanjut Putri dengan tersenyum.
"Jika saat ini, kamu di pertemukan dengan teman kecilmu itu. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dave yang sudah tidak sabar untuk memeluk Putri.
Putri menghela nafas pelan, "Apakah kamu baik-baik saja selama ini?," Jawab Putri menundukkan kepala, tanpa sadar air matanya memanas.
Dia sangat merindukan sosok teman kecilnya tersebut, dia dulu menantinya karena dia meyakini jika laki-laki itu adalah jodohnya.
Tetapi, sekarang dia sendiri sudah menikah dengan Sky. Bahkan dia hampir lupa dengan laki-laki yang selalu dia nantikan.
"Apakah kamu mencintainya." Tanya Dave to the point.
Putri mengangkat wajahnya dan menatap Dave, air matanya luruh dari mata indahnya.
Dave kaget karena melihat Putri menangis, apakah pertanyaannya terlalu menyinggung gadis pujaan hatinya tersebut.
"Andai saja, dia datang lebih awal. Mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia... tetapi sekarang aku sudah menikah, tidak mungkin aku mencintainya bukan." Ucap Putri dengan tersenyum lembut ke arah Dave.
Hati Dave bagaikan diremas, benarkah jika dia datang lebih cepat akan mendapatkan Putri.
Bagaimana jika sekarang, apakah dia sudah terlambat?
Tentu saja tidak, Dave sudah mengetahui pernikahan anatara Putri dan Sky. Jadi tidak ada salahnya Dave merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Lihat wajahku dengan baik-baik." Ucap Dave pada Putri.
Putri menyerengitkan dahinya, apakah pria didepannya ingin pamer jika wajahnya sangat tampan. Meskipun lebih tampan Sky.
Dave segera berdiri, dia berlajan mencari beberapa bunga yang menjalar.
Terlihat Dave tengah merakit sesuatu dari bunga tersebut.
Putri hanya memandang punggung Dave dari atas ayunan kayu tersebut.
Dave datang dengan sedikit berlari kecil kearah Putri, di kenakanlah bando bunga yang sudah dia rangkai.
"Hallo, peri cantik." Ucap Dave dengan tersenyum.
Deg
Putri mendongakkan kepalannya, matanya sudah menggenang bahkan sudah menetes tanpa permisi.
"Perkenalkan, aku pangeranmu Danu." Lanjut Dave dengan tersenyum lebar.
Putri segera berdiri dari duduknya, dia memandang lekat pria yang berdiri persisi di hadapannya.
"Kak Danu?" Beo Putri dengan nada gemetar.
Dave mengganggukkan kepalanya, "Iya, ini aku. Kak Danu." Jawab Dave.
"Tidak mungkin," Ucap Putri lirih.
"Aku adalah Danu, Dave Danuarta. Danu aku ambil dari nama keluarga. Apa kamu ingat, kita bertukar cincin bunga di taman ini." Jelas Dave dengan mata yang memerah.
Putri langsung memeluk tubuh pria tersebut, dia menangis sejadinya. Dave menbalas pelukan tersebut.
"Kenapa... kenapa baru datang kak!" Ucap Putri yang memukul-mukul punggung Dave.
"Maaf, maafkan aku." Ucap Dave lirih.
"Kamu jahat! Aku menantimu sendirian disini, tetapi kamu baru datang!" Ucap Putri yang sudah melepaskan pelukannya.
"Seandainya, seandainya kakak lebih cepat datang. Aku pasti tidak akan terjebak dalam situasi ini." Seru Putri yang kini sudah terduduk menangisi kisah hidupnya.
Dave langsung berjongkok untuk mensenjajarkan tinggi tubuhnya, dia langsung memeluk Putri meskipun Putri sedikit neronta dalam pelukannya.
"Maafkan aku," Jawab Dave penuh penyesalan.
...**...
PROMO NOVEL BARU.
SILAHKAN MAMPIR UNTUK MENUNGGU BAB YANG AKAN DATANG.