Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Bertukar Nomor Ponsel


Teman-teman, jika up tidak tepat waktu. Jangan salahkan autor, sistemnya sekarang memang sedikit berbeda 😅😅


Autor sudah berusaha ya, tetapi memang terkadang ada beberapa novel yang harus diperiksa secara manual oleh editor NT.



Jadi mohon kesabarannya ya, karena tidak hanya 1/10 bab saja yang diperiksa oleh editor. Ribuan bab teman-teman, karena kami autor harus update bab setiap harinya.


Happy Reading 🌹🌹


Terlihat Putri dengan tergesa-gesa segera menuju keruangan Dave.


Putri mengetuk pintu, ruangan Dave memang sengaja dipisahkan dengan dosen lainnya. Mengingat Dave tidak setiap hari berada dikampus.


Dave yang tengah duduk dikursi, segera berseru menyuruh masuk.


Kini Putri sudah berdiri tegak seperti siswa yang tengah mendapatkan hukuman.


"Siapa namamu?" Tanya Dave dengan menatap intens gadis didepannya.


"Pu... Putri Pak." Jawabnya gugup.


"Jika ada orang sedang mengajakmu berbicara, angkat kepalamu jangan menunduk. Kamu pikir wajahku berada diubin!" Seru Dave pada Putri.


Dengan segera Putri mengangkat kepalanya, tatapan mereka langsung bertemu dan terkunci. Gadis malang tersebut tidak berani menundukkan kepalanya lagi setelah mendengan ucapan Dave.


"Tidak Pak." Jawab Putri yang tengah meremas ujung bajunya untuk menyalurkan rasa gugupnya.


"Bagus... ketikkan nomor ponselmu. Aku akan menghubungimu untuk tugas-tugas dariku." Jawab Dave seraya menyodorkan Hpnya.


Putri segera mengambil dan mengetikkan nonor ponselnya, dia tidak curiga karena memang benar antara dosen dan asdos harus saling mengabari jika ada sesuatu terkait perkuliahan.


Dave tersenyum samar, dia akan membuat Putri selalu berada disampingnya.


"Sudah saya masukkan nomor ponsel saya Pak." Jawab Putri dengan mengembalikan Hp Dave.


Dave segera menghubungi nomor tersebut, seketika ponsel Putri berdering. Terlihat nomor asing yang tertera dilayar Hpnya.


"Simpan nomorku baik-baik, letakkan dipanggilan darurat nomor satu. Sekarang keluarlah." Jawab Dave tanpa menunggu jawaban dari Putri.


Putri segera keluar dari ruangan Dave, dia terperanjat kaget karena ada Rose yang tiba-tiba menepuk bahunya.


"Bagaimana Put, apa Pak Dave marah denganmu?" Tanya Rose penasaran.


"Tidak Rose, Pak Dave hanya meminta nomor ponselku untuk mempermudah jika beliau memberikan tugas kepadaku." Jawab Putri.


"Wah, bolehkah aku meminta nomornya?" Tanya Rose penuh harapan.


"Em, nanti aku tanyakan dulu. Aku tidak berani memberikan nomornya sembarangan Rose, aku harap kamu mengerti." Jawab Putri dengan halus.


"Benar juga, baiklah jika Pak Dave tidak boleh memberikan nomornya kepadaku. Aku akan memintanya sendiri secara langsung." Jawab Rose penuh semangat membara.


Putri yang melihat tingkah Rose hanya tertawa kecil, sungguh teman barunya ini sangat lucu.


...**...


Sky dan Gabriel mendengar suara gaduh diluar, dengan segera Gabriel keluar untuk melihat siapa yang sudah membuat keonaran didepan ruangan CEO.


"Nona Grace!" Ucap asisten Sky dengan suara yang naik.


Grace menyentak tangan Sella, dan mendorong bahunya hingga membuat Sella mundur beberapa langkah.


"Ada apa ini?" Suara bariton terdengar dari belakang Gabriel.


"Sky!!" Seru Grace dengan setengah berlari kearah Sky.


Tetapi sebelum sampai Sky sudah mengangkat tangannya sebagai tanda agar Grace berhenti.


"Ada apa Grace?" Tanya Sky dengan menatap tajam kearah wanita sexy didepannya itu.


"Ayolah sayang, kita bicarakan didalam ruangamu saja." Jawab Grace dengan berlalu melewati Sky dan duduk manis disofa.


Sky hanya menghela nafas kasar, segera dia masuk dan duduk didepan Grace. Diikuti Gabriel yang mengunci pintu daridalam agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.


"Ck, tidak sabaran sekali. Aku hanya ingin memastikan, apa kamu benar-benar sudah menikah dengan gadis OB itu?" Tabya Grace dengan bersedekap dada.


"Bukan urusanmu!" Jawab Sky dingin.


"Tentu saja urusanku Sky! Kenapa kamu tidak memandangku sebagai wanita, aku selalu menemanimu saat kamu senang maupun sedih. Apa kurangnya aku Sky, apa! ." Jawab Grace dengan berteriak seperti orang kesetanan.


"Kau percaya diri sekali Grace. Ingat! Kau hanya salah satu wanita pemanas ranjangku. Pasti kamu tau apa kekuranganmu bukan?" Jawab Sky datar dan dingin.


"Aku memang wanita malam Sky, tetapi semenjak mengenalmu aku hanya melakukannya denganmu." Jawab Grace dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sky sesaat tertegun dengan ucapan Grace, sedetik kemudian dia tersenyum sinis.


"Apa kamu yakin hanya melakukannya dengaku? Apakah kamu memiliki dua nyawa? " Tanya Sky dengan menatap tajam kearah Grace.


"Be.. benar Sky, aku hanya melakukannya dengamu saja!" Jawab Grace dengan sedikit terbata karena dirinya takut dengan tatapan dan ucapan Sky.


"Baiklah, aku rasa cukup pertemuan terakhir kita ini Grace. Aku sudah bosan dengamu, dan aku sudah memiliki wanita baru untuk penghangat ranjangku." Lanjut Sky seraya dirinya berdiri dan berjalan membuka pintu yang tadi dikunci dan membukanya selebar mungkin.


"Keluar." Ucap Sky, tetapi Grace masih bergeming ditempatnya.


"Keluar!!! Seret dia Briel." Seru Sky yang sudah menahan emosinya.


"Lepaskan! Sky aku tidak terima kamu buang begitu saja. Akan aku balas perbuatanmu." Geram Grace segera dirinya melangkah keluar dari ruangan Sky.


...**...


Terlihat Putri tengah makan siang dikantin dengan Rose, mereka selalu berdua sejak hari ini.


Putri sempat bertanya, kenapa Rose tidak bergabung dengan yang lainnya. Dia hanya menjawab lebih nyaman berdekatan dengan Putri, tanpa membicarakan harta dan harta.


Putri hanya tersenyum, karena menang universitas ini salah satu universitas elit dan kebanyakan anak-anak orang kaya.


Tanpa Putri sadari, ada sepasang mata yang menatap kearahnya tajam. Dia tidak menyangka jika akan bertemu Putri dikampus.


Dia adalah Bintang, ketika Putri mendaftar kuliah dia tidak bertemu dengannya. Karena Bintang tengah membolos untuk bersenang-senang dengan teman-temannya.


"Bintang!" Seru salah satu temannya.


Bintang terperanjat kaget, "Kenapa kamu berteriak! Aku belum tuli!" Seru Bintang pada Dila.


"Maaf, aku sudah memanggilmu beberapa kali. Tetapi kamu tidak menganggapiku." Jawab Dila dengan menunduk takut.


"Ada apa!" Ketus Bintang.


"Kamu melihat siapa sih Bin, sampai dipanggil tidak dengar." Tanya Reni teman satu genknya.


"Apa kamu melihat gadis itu, yang memakai baju biru dan dikucir kuda tinggi." Tanya Bintang datar namun jelas serasa nadanya kesal.


"Yang duduk bersama Rose itu?" Tanya Dila yang melihat kearah dimana Bintang menunjuk.


"Kenapa dengan mereka?" Tanya Reni tidak tahu.


"Dia adalah perempuan yang merebut Kak Sky dariku!" Geram Bintang yang mencengkram sendoknya.


"Apa kamu yakin?" Tanya Reni memastikan jika dia tidak salah dengar.


"Ya. Dia adalah anak yatim piatu, pekerjaannya hanya seorang OB dikantor Kak Sky." Ucap Bintang tanpa mengalihkan tatapan tajamnya kearah Putri.


"Lalu sekarang kamu bisa apa Bin, itu adalah pilihan Kak Sky." Ucap Dila jujur apa adanya.


Reni menghela nafasnya kasar, sungguh Dila tidak peka terhadap situasi saat ini.


Sedangkan Bintang semakin emosi dengan ucapan yang dilontarkan oleh Dila.


...**...


...PROMOSI NOVEL...