
Disarankan membaca malam hari.
Happy Reading 🌹🌹
Waktu berganti malam, terlihat Sky dan Putri duduk di balkon kamar mereka dimana posisi Putri duduk bersandar dibahu suaminya.
"Ayo kita masuk, di pinggir pantai anginnya semakin dingin." Ajak Sky kepada Putri.
"Sebentar lagi Mas, aku masih ingin duduk disini." Jawab Putri dengan memegang erat lengan suaminya.
"Aku takut kamu sakit sayang, ingat kamu sekarang susah tidak sendiri lagi." Jelas Sky kepada Putri.
"Iya aku ingat, tunggu lima menit lagi Mas." Jawab Putri yang sudah duduk tegap menatap suaminya.
Untuk sesaat mereka saling bertatapan, Sky yang sudah tidak tahan segera menangkup pipi istrinya dan memiringkan wajahnya.
Benda kenyal saling bertabrakan, Putri tidak menolak. Tangannya sudah dia kalingkan dileher kokoh suaminya.
Sky yang tidak mendapatkan penolakana, merapatkan tubuhnya di tubuh Putri, simfoni indah keluar beriringan dengan suara deburan ombak dimalam itu.
Kini ciuman Sky sudah turun di leher jenjang istrinya, "Mas kita tidak boleh melakukannya kata dokter." Ucap Putri menghentikan Sky.
"Sebentar saja sayang, kata dokter boleh meskipun sebentar." Jawab Sky dengan suara seraknya.
Putri yang melihat wajah Sky menahan gejolak yang ada, bahkan kedua netra pria itu sudah tertutup kabut gairah.
"Pelan-pelan ya Mas, jangan sampai melukai yang didalam." Ucap Putri memperingatkan.
Tanpa menjawab, Sky ******* kembali bibir tipis istrinya dengan penuh damba. Bahkan tangannya sudah bergerilya di benda kesayangannya.
Suara yang membuat Sky bersemangat keluar dari bibir istrinya, kini Sky sudah membaringkan Putri di sofa luar balkon.
"Mas, jangan melakukannya disini." Ucap Putri dengan menutup kedua asetnya.
"Sayang, aku ingin mencoba sensasi yang berbeda." Jawab Sky yang menyingkirkan tangan Putri dan menyusu di benda kesayangannya.
"M-mas, tapi nanti dilihat orang" Jawab Putri dengan menahan desahannya.
"Tidak sayang, jangan tahan suara indahmu." Jawab Sky yang sudah tidak tahan.
Sky berjalan untuk mematikan lampu-lampu yang ada di balkon dan juga lantai dua kamarnya. Dengan membawa bantal dan selimut Sky kembali menghampiri istrinya.
"Kenapa lampunya di matikan Mas." Tanya Putri dengan nada takut.
"Jangan takut sayang, kita akan bermain di tengah malam hanya di temani cahaya rembulan. Biarkan jutaan bintang dan yang ada disini menjadi saksi cinta kita." Ucap Sky puitis.
Ditengah kegelapan, wajah Putri merona karena suaminya antara lebay atau romantis.
Segera Sky menerjang istrinya dengan perlahan, suara kulit yang saling bertabrakan dan teriakan serta erangan keluar dari keduanya. Peluh membasahi setiap jengkal tubuh mereka.
Fantasi Sky sungguh gila, bermain di balkon dengan keadaan gelap. Bahkan di otak Sky saat ini ingin melakukan hubungan di tepi pantai tepatnya di atas pasir dibawah sana.
Tetapi Sky masih cukup waras, tidak mungkin mereka melakukan di pantai umum seperti ini, setidaknya Sky harus menyewa pantai pribadi milik rekan bisnisnya agar dapat merealisasikannya.
Meskipun keluarga Gandratama dan Wiratama mampu membeli sebuah pulau pribadi, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkan pulau yang akan di jual.
Dengan nafas yang memburu, Sky dan Putri mendapatkan puncak mereka.
Sky menciun seluruh wajah istrinya dan tidak lupa mencium Sky junior yang masih berada di perut Ibunya.
"I love you Putri." Ucap Sky berbisi di telinga Putri.
"I love you to Sky." Jawab Putri dengan sedikit mendesah karena Sky menggerakkan pinggulnya lagi.
"One more baby." Ucap Sky.
Putri tidak sempat protes untuk menolak permintaan suaminya, karena bibirnya sudah dilahap oleh Sky dengan aktivitas di inti mereka.
Meskipun tidak dapat melakukan dengan durasi yang lama, tetapi Sky sudah puas menerjang istrinya hingga lemas.
Dengan masih bertelanjang Sku, menggendong Putri untuk masuk ke kamar mereka yang sebelumnya lampu dalam kamar sudah Sky nyalakan lagi.
...**...
Terlihat seorang pria tengah duduk dikursi depan bartender, dengan memegang segelas cocktail dia melihat orang-orang yang tengah berdansa.
Seorang gadis yang dia kenal tengah melenggak-lenggokkan tubuh ramping dan sexynya di tengah arena dansa.
Banyak pria yang mendekatinya tetapi gadis itu tolak, bahkan tidak segan-segan gadis itu berdecak pinggang memarahi para pria tersebut.
Dave terkekeh geli melihat adegan demi adegan yang dia lihat, "Dasar gadis ingusan." Gumam Dave kepada Rose yang masih di arena dansa.
Dengan langkah lebar Dave menghampiri Rose, dimana gadis itu di paksa oleh beberapa pria untuk mengikuti mereka.
Grep
Buk
Dave segera mencekal pegangan tangan mereka dan menghanjar salah satu dari mereka dengan keras.
Rose tersentak kaget, dia menoleh ternyata Pak Dave dengan pakaian yang terlihat sexy di matanya.
"Kamu tidak apa-apa Rose?" Tanya Dave yang menatap gadis itu.
"P-pak Dave mengingat namaku?" Tanya Rose bodoh.
Bukankah di parkiran Rumah Sakit Y terakhir kali, Dave selalu memanggil nama Rose.
Sedangkan pria yang tersungkur tersebut di bantu oleh beberapa temannya untuk berdiri lagi, "Ya! Siapa kamu ikut campur!" Seru pria tersebut.
Grep
Dave memeluk pinggang Rose agar merapat di sampingnya, "Aku? Yang lebih jelas aku adalah pria yang berhak menyentuh gadis ini." Jawab Dave dengan nada sinis.
Sekali lagi Rose terpaku dengan ucapan Dave, Apakah Pak Dave menyukaiku sekarang tapi bukankah ini terlalu cepat setelah dia patah hati. Gumam Rose dalam hati yang masih senantiasa menatap Dave dari samping dengan wajah berbinar.
Pria yang dihajar Dave tidak Terima, akhirnya terjadilah perkelahian satu lawan tiga. Segera Rose berlari memanggil satpam yang berjaga. Terlihat di sudut bibir Dave terluka.
"Pak Dave, bibirmu." Ucap Rose dengan wajah khawatir.
Entah karena efek alkohol atau tengah memulihkan rasa sakit hatinya, dengan implusif Dave menciun bibir yang selalu banyak mengeluarkan kata itu.
Rose masih terpaku dengan mata yang melebar, Dave segera melepaskan ciuman itu dan mengucapkan kata maaf.
Segera Dave melenggang pergi dari hadapan Rose, dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin melahap bibir gadis cerewet itu.
Sedangkan Rose masih terpaku di tempatnya, dia memegang bibirnya yang baru saja di cium oleh Dave dan berteriak kegirangan.
Segera Rose keluar dari club malam itu untuk mengejar Dave, dia ingin menuntut Dave agar bertanggung jawab karena sudah menodainya.
Terlihat Dave yang akan masuk kedalam mobil di urungkan niatannya, karena mendengar suara yang ekhm merusak tatanan dunia.
Terlihat Rose dengan ngos-ngosan mengejar Dave kini sudah berdiri di hadapan pria itu.
"Dave, kamu harus bertanggung jawab." Ucap Rose tegas.
"Maaf, tadi hanya perbuatanku yang tidak aku sengaja. Lupakanlah." Jawab Dave dengan wajah datar.
Hati Rose rasanya pedih, tetapi tidak akan membuat dia mundur lagi. Putri sudah bahagia dengan suaminua, sekarang Rose merasa Dave juga harus bahagia.
"Tidak! Kau harus bertanggung jawab. Kamu sudah mengambil kesucian bibirku, jadi kita mulai detik ini sepasang kekasih. Sekarang sayang antarkan aku." Ucap Rose dengan mengerlingkan matanya dan masuk begitu saja di dalam mobil Dave.
Dave yang mendengarnya menghembuskan nafas dengan frustasi, masalahnya dengan Putri belum diselesaikan tetapi sudah muncul gadis ingusan itu.
...**...
PROMOSI