Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Bulan Marah


Happy Reading 🌹🌹


Di Rumah Sakit.


Bintang tertidur karena menunggu Putri lama yang menelfun temannya.


Sedangkan Putri masih sibuk membaca komentar yang ditujukkan kepada Bintang.


Dengan tangan yang gemetar, Putri berusaha menelfun Sky.


Entah bagaimana bisa, nomor Sky berada di nomor satu di tombol telfunnya.


Sky yang masih berbincang dengan Doni dan Riko, segera mengambil Hp yang ada disaku celananya.


Tertera nama Istriku masuk menghubunginya.


Sky segera ijin keluar, untuk mengangkat telfun dari Putri.


"Hallo." Ucap Sky lebuh dahulu.


"Sky," Panggil Putri dengan nada yang gemetar.


"Kamu kenapa?" Tanya Sky dengan nada panik.


"Sky, bagaimana ini... Bintang... Bintang... dia." Ucap Putri tersendat-sendat.


Sky tahu arah tujuan pembicaraan istri kecilnya, "Tenang saja, kami disini sedang menyelidiki siapa yang menyebarkan video itu. Tunggulah di sana, aku akan menjemputmu. Jangan biarkan Bintang tahu dulu." Jawab Sky panjang.


Putri mengangguk, padahal mereka melakukan sambungan telfun bukan video call.


Sky yang merasa tidak mendapatkan jawaban dari istrinya, memanggilnya lagi.


"Hallo, sayang. Kamu masih disana?" Tanya Sky entah sadar atau tidak, sekarang dia lebih sering memanggil Putri dengan sebutan Sayang.


"Masih, yasudah. Aku akan masuk dulu." Jawab Putri yang gugup karena di panggil sayang.


Tanpa mengucapkan salam, segera Putri mematikan sambungam telfun.


Dasar, kebiasaan.


Putri menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia harus berusaha baik-baik saja.


Putri memutar knop pintu ruangan dimana Bintang di rawat, secara perlahan Putri membukanya.


Terlihat, Bintang sudah tertidur pulas. Putri merasa bersyukur.


Langkah perlahan, Putri melangkah masuk untuk mengistirahatkan tubuhnya di sofa.


...**...


Dikediaman Wiratama


"Bagaimana, di mana alamat IP orang yang menyebarkan video itu?" Tanya Doni pada asisten Rudi.


"Seperti dugaan, yang menyebarkan berasal dari California Amerika. Di mana tempat saudari tiri Tuan Doni dan mafia yang dia sewa berasal." Jelas asisten Lin kepada semua yang ada diruangan tersebut.


"Kurang ajar, aku sudah tahu jika pria itu hanya mempermainkan Bintang. Tetapi aku tidak menyangka jika dia sebejat itu, orang bayaran wanita itu!" Geram Doni yang memukulkan tangannya di meja kaca tersebut.


"Sekarang lebih baik segera hapus video itu dulu, sebelum para wanita tahu. Bintang juga akan semakin drop kondisinya." Ucap Rudi dengan nada serius.


"Video apa yang kalian makhsud?" Tanya Bulan yang datang keruangan keluarga tersebut.


Bulan, Lila, dan Bu Siti memutuskan menyusul para pria dengan membawa makanan ringan yang mereka buat.


Mereka tidak beristirahat tetapi berjibaku di dapur untuk membuat makanan.


Hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Bulan.


"Kenapa diam, video apa yang sedang kalian bicarakan? Papa jelaskan pada Mama." Ucap Bintang dengan nada yang mulai meninggi.


Pertanyaan kini dilontarkan untuk suaminya dengan sorot mata tajam.


Doni merasa tenggorokannya tercekat, dia takut jika istrinya jatuh pingsan lagi. Cukup untuk shock terapi yang mereka dapatkan beberapa hari ini.


Lila mendekat dan duduk di samping suaminya, Bu Siti duduk di kursi singel yang masih ada.


"Sayang, jelaskan kepada kami. Video apa yang dimakhsud olehmu." Ucap Lila kepada suaminya.


Bulan meletakkan nampan secara kasar, dan datang menghampiri suaminya.


Kedua tangan rentanya memegang kedua pundak Doni, "Pah, jelaskan kepada Mama. Kenapa hanya diam saja!! Apa ini menyangkut salah satu putri kita?" Tuntut Bulan kepada suaminya.


"Mah, duduklah dulu." Jawab Doni yang melepaskan kedua tangan istrinya dan menggiringnya untuk duduk disampingnya.


"Cepat Pah, katakan kepada Mama." Ucap Bulan mulai akan meledakkan amarahnya.


"Mah, video itu." Ucap Doni yang tidak sanggup meneruskan, dia meminta Hp milik Zidan yang menyimoan video durjana itu.


Dengan tidak sabaran, Bulan merebut dan mencari galeri video di Hp milik Zidan.


Matanya melebar dan sudah berkabut, dengan tangan yang gemetar menutup mulutnya karena kaget.


Lila sangat penasaran, segera berjalan mendekati Bulan. Segera dirinya merebut Hp yang ada di tangannya.


Sama dengan apa yang terjadi dengan Bulan, Lila bahkan sampai menjatuhkan hp milik Zidan.


Bulan sudah menangis meraung-raung karena hal yang tisak pernah dia bayangkan menimpa salah satu anaknya.


Doni hanya menerima setiap pukulan istrinya dengan diam, dia meneluk erat tubuh istrinya.


"Siapa Pah pelakunya, kenapa dia tega dengan putriku." Tanya Bulan yang masih dengan suara menangis.


Akhirnya Doni segera menceritakan tentang pernikahan siri Kakek Gunawan yang menghasilkan anak, sejak mereka menikah hingga Putri lahir di dunia.


Saudari tirinya menginginkan harta peninggalan Kakek Wiratama yang diwariskan kepada cucunya yaitu Putri.


Bahkan Doni menceritakan bagaimana kronologis kejadian, Bu Siti membawa kabur Putri hingga dapat selamat dan saat ini dapat berkumpul dengan mereka.


"Papa, segera tangkap wanita jahat itu dan jebloskan ke penjara!" Ucap Bulan dengan nada menggeram.


"Sabar Mah, kita pasti akan menjebloskannya kepenjara. Dari informasi anak buah Rudi yang disana, wanita itu tengah kesulitan uang dan akan dipastikan dia kembali kenegara ini." Jelas Doni kepada istrinya.


"Kita hadang saja dibandara Pah." Ucap Bulan


"Tidak segampang itu Bulab, kita tidak punya bukti cukup kuat untuk menangkapnya." Timbal Rudi yang sedari tadi hanya diam.


"Lalu kita harus menunggu sampai kapan Rud! Dia pasti akan mencelakai Putri setelah ini." Seru Bulan yang tengah emosi.


"Kita akan sebar kabar burung, jika perusahaan Wiratama sedikit goyah karena skandal Bintang dan kepemimpinan Doni selama ini." Ucap Rudi dengan nada serius.


"Bagaimana jika akan membuat harga saham anjlok?" Tanya Bulan


"Masih ada perusahaan Danuarta dan Sky." Jawab Rudi.


Bulan melihat kearah menantunya, dan Sky hanya mengangguk seakan setuju dengaj ucapan Rudi.


Jika saham Wiratama anjlok maka perusahaan Danuarta dan Gandratama akan siap menopangnya.


Bulan mengangguk setuju dengan usulan Rudi, yang terpenting kedua putrinya aman dari wanita jahat itu.


Sky dan Gabriel berdiri, "Maaf Paman dan Tante, saya harus segera menjemput Putri ke Rumah Sakit." Ucap Sky dengan menundukkan kepalanya sebagai ras hormat.


"Mama ikut," Ucap Bulan yng ikut berdiri.


"Mama di rumah saja, biar Papa yang menjaga Bintang." Cegah Doni pada istrinya.


"Tidak Pah, Mama ingin bertemu kedua anak Mama." Ucap final Bulan, setelah itu dia bergegas pergi ke dalam kamarnya untuk mengambil tas.


...**...


Di dalam pesawat kelas ekonomi tengah duduk wanita yang sudah cukup usia tengah menggerutu tidak jelas.


"Sial, jika saja aku masih memiliki banyak simpanan uang. Aku tidak sudi menaiki pesawat kelas rendahan seperti ini." Ucap wanita tersebut.


"Hey! Diamlah. Dari tadi kamu cerewet sekali. Jika tidak ingin menaiki kelas ekonomi maka belilah kelas VVIP." Ucap seorang penumpang yang menatap tajam kearah wanita tersebut.


"Cih, dasar orang miskin." Jawabnya dengan suara lirih.


"Miskin teriak miskin, jika tidak punya uang jangan menggerutu tidak jelas. Sekali lagi kamu bersuara akan aku lemparkan dari jendela pesawat ini, kau bisa terbang bebas sampai neraka." Jawab seorang penumpang yang lain.


...**...